Bagaimana Cara Merekrut Wartawan Profesional?

Andreas Harsono menghadirkan fakta menarik pola rekrutmen wartawan oleh salah seorang Redaktur The New York Time, Sonny. Dalam bukunya, ‘Agama’ Saya Adalah Jurnalisme, Andreas bercerita tentang pertemuannya dengan Sonny.

Muncullah percakapan yang cukup inspiratif.

Di media-media besar Barat semacam The New York Time, proses rekrutmen wartawan dilakukan dengan mengenyampingkan tes psikologi sebagaimana jadi syarat utama media-media besar di Indonesia dalam menjaring calon wartawan. Itu tidak dilakukan, tapi lebih mengedepankan tulisan calon si wartawan.

Sonny sendiri menggunakan pola si calon wartawan menyetorkan 10 tulisannya. Tulisan tersebut berwujud story dalam bentuk piramida terbalik atau piramida. Tiga paragram pertama dijadikan acuan; jika bernas, lugas, menarik, maka Sonny akan membaca dari awal hingga akhir 10 tulisan tersebut.

Lulus seleksi tulisan, peluang jadi wartawan dalam bimbingan Sonny menjadi besar bila tulisan sudah menggaet hatinya. Tes wawancara selanjutnya menjadi tolok ukur kedua. Tapi biasanya Sonny tetap merekrut peserta meskipun tidak lihai dalam sesi tanya jawab, asal tulisannya bagus.

Atas kepiawaiannya dalam proses kaderisasi, banyak bermunculan redaktur hebat di media-media Barat atas sentuhan Sonny. Mereka lantas menggunakan pola kaderisasi wartawan dan mengembangkannya sebagaimana dilakukan Sonny.

Hobi seorang calon wartawan juga menjadi perhatian Sonny. Misal, hobi memancing.  Darinya Sonny dapat membaca betapa si wartawan punya kecenderungan kontemplatif, suka merenung dan berpikir mendalam. Kelebihan ini selanjutnya dilejitkan.

Menilik pada sekilas fakta di atas, Andreas Harsono sedikit menyayangkan pola rekrutmen wartawan di Indonesia yang menduakan tulisan. Tapi, lebih menonjolkan tes psikologinya.

Mana mungkin akan hadir wartawan hebat, kata Andre, jikalau dalam proses perekrutannya mengenyampingkan tulisan. Akibatnya, banyak perusahaan menggaji wartawan yang kontribusi keredaksiannya sangat minim.

Tulisan atau karya nyata adalah modal utama dalam sebuah perusahaan media.

Bagaimana dengan media massa di Madura?

Saat ini, Madura dihuni banyak wartawan. Kehadiran media online bak jamur di musim penghujan. Sementara media cetak yang konsisten penerbitannya, hanya terdapat dua: Radar Madura dan Kabar Madura. Radar Madura sudah hadir belasan tahun, sementara Kabar Madura baru menginjak umur 5 tahun.

Abaikan dulu keberadaan media cetak, mengingat media online tumbuh subur. Kita fokuskan pembahasan pada yang terakhir ini.

Media online yang kali pertama hadir konsisten di Madura, tampaknya adalah mediamadura.com. Sebelum resmi berbadan hukum dan berwujud website, media ini mulanya hanya blog yang dikelola oleh wartawan senior Abd Aziz. Aziz merupakan wartawan Antara yang kini mengemban amanah sebagai Ketua PWI Pamekasan.

Meski hanya berwujud blog, konten beritanya menarik perhatian banyak pembaca. Tidak hanya pembaca dari Pulau Madura, tetapi juga menyedot minat pembaca dari luar negeri. Kemungkinan mereka adalah warga Madura yang sedang merantau atau bekerja di negeri seberang.

Dalam perkembangannya, Aziz memberikan secara cuma-cuma media tersebut kepada Esa El-Arif yang waktu itu menjadi staf Partai Gerindra Pamekasan yang cukup dekat dengan wartawan. Bermodal semangat tinggi, Esa kemudian menggandeng Syamsul Arifin. Coel, panggilan akrab Syamsul Arifin, merupakan wartawan beritajatim.com yang waktu itu belum menjadi wartawan.

Duet Esa-Coel berlangsung sekitar dua tahunan. Kue iklan mediamadura.com dibagi rata: 50 persen buat yang mendapatkannya, sisanya untuk biaya operasional mediamadura.com. Coel kemudian memasrahkan sepenuhnya pengelolaan mediamadura.com kepada Esa, setelah dirinya resmi menjadi wartawan beritajatim.com menggantikan Haris yang kini fokus sebagai pengusaha.

Esa yang berlatar aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), bergerak cepat mengembangkan mediamadura.com. Proses badan hukum dilakukan. Rekrutmen karyawan pun getol digelar. Aktivis PMII yang dikenal lincah pun ditarik jadi wartawan mediamadura.com.

Kedekatan emosional sebagai sesama aktivis PMII menjadi modal utama menjadi wartawan mediamadura.com. Ini berdampak buruk terhadap produk berita yang ditulis wartawan. Untungnya, Esa terkenal lincah dan piawai dalam meracik potensi karyawannya.

Meskipun para wartawan yang direkrut Esa didominasi kader PMII yang jam terbang jurnalistiknya nol, tapi tidak demikian redakturnya. Esa menggandeng Adi, senior PMII yang lama malang melintang di jurnalistik mahasiswa Universitas Madura (Unira). Produk jurnalistik karyawan yang kurang mumpuni, dapat teratasi dari kemampuan Adi dalam mengolah berita menjadi layak baca dan pantas jual.

Nama mediamadura.com pun hanya butuh sedikit tahun untuk mencuat ke permukaan. Saingan terberat media yang berpusat di Kabupaten Pamekasan ini, kini sudah banyak bermunculan dan dikelola secara profesional. Sebut saja portalmadura.com.

Bermarkas di Kabupaten Sumenep dengan umur 3 tahun lebih, portalmadura.com hadir dengan konten dan promosi yang cukup intensif. Perempuan-perempuan muda berbakat ditarik untuk melejitkan brandingnya. Perwajahannya pun berkelas, mengalahkan perwajahan mediamadura.com.

Konten video dengan melibatkan gadis bohay nan cantik dihadirkan dengan menggali keindahan panorama Madura. Portalmadura.com pun tidak butuh waktu lama memikat pembaca. Proses rekrutmen wartawannya pun tampak terencana, yakni menggunakan jasa wartawan yang pernah pengalaman di media cetak dan radio.

Itu bila diukur dari segi ‘kecantikan’ perwajahan. Namun manakala dibandingkan nilai kesejarahannya, mediamadura.com tetap tak tertandingi.