Membangun Tradisi Berpikir Positif

Oleh: Fatmawati Fardhan*)

Nuansa politik mulai terasa. Dekatnya pemilukada di kabupaten/kota di Jawa Timur dan daerah lainnya tahun depan, tampaknya mampu menggetarkan emosi siapa pun. Semuanya mesti kita sikapi dengan tradisi berpikir positif.

Pada dasarnya, tradisi berpikir positif atau berprasangka baik merupakan bagian dari ajaran Islam. Dalam Surat Al-Hujarat: 12, Allah swt telah berfirman: “Wahai orang-orang beriman, jauhilah banyak prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa dan janganlah suka memata-matai (mencari-cari kesalahan) orang lain.”

Dalam politik, yang mencuat adalah kepentingan. Kepentingan tersebut tentu mengarah pada guna tercapainya sebuah kekuasaan. Ini masih bisa dimaklumi dan tak perlu dipersoalkan. Terpenting ialah dalam proses meraih kekuasaan tersebut, tidak sampai menggunakan segala cara. Strategi politik boleh tetap dilancarkan. Dengan catatan, tetap berbalutkan jiwa keislaman.

Salah satu jiwa keislaman tersebut ialah dengan tidak terlalu berprasangka buruk terhadap orang lain. Taruhlah misal kepada lawan politik. Lawan politik, tidak semestinya dinilai sebagai musuh. Ia harus dianggap sebagai saingan untuk bertarung secara baik dan tidak mengedepankan kebencian.

Namun demikian, idealitas tersebut kerapkali berbanding terbalik dengan kenyataan di lapangan. Politik selalu identik dengan peperangan. Di dalamnya bergejolak derap langkah untuk merobohkan lawan. Bahkan, kalau perlu disirnakan keberadaannya.

Lepas dari itu, berpikir positif sangat penting untuk dilabuhkan dalam berbagai lini kehidupan. Sebut saja di organisasi terkecil tetapi sangat fital perannya di dunia ini, keluarga. Di dalamnya, tradisi berpikir positif harus disemaikan. Anak-anak selaku penerus kehidupan keluarga wajib diperhatikan melalui pembinaan akhlak. Mengajari dan mentradisikan berpikir positif bagi anak-anak merupakan bentuk pembinaan yang sangat mulia.

Pembahasan tentang tradisi berpikir positif ini, perlu saya lebarkan ke dalam suatu kasus. Bila dalam sebuah perjalanan kita dihadapkan pada waktu berbuka puasa. Misalnya rumah atau tujuan perjalanan kita masih jauh, biasanya kita langsung menyambangi warung atau tempat makanan di pinggir jalan.

Selanjutnya, kita tidak perlu terlebih dahulu memeriksakan makanan tersebut ke laboratorium kesehatan hanya untuk mendapat kepastian higienis tidaknya. Tetapi kita cukup mempercayakan kepada si penjual makanan. Kita tidak perlu pula mencurigai dia menaruh suatu racun yang dapat merenggut nyawa kita.

Demikian pula bila kita hendak melakukan ibada shalat di sebuah masjid di luar daerah tinggal kita. Kita cukup mempercayakan kesucian tempat ibadah itu kepada pengurus takmir yang berkewajiban memelihara kesuciannya. Kita tidak perlu melakukan investigasi untuk meneliti kesuciannya untuk shalat.

Dari contoh kasus di atas, dapat kita sadari betapa kita memerlukan orang lain. Untuk hal itu, kita harus memahami betapa diri kita selalu diliputi oleh keterbatasan-keterbatasan, baik kesempatan maupun kemampuan, fisik atau mental, suatu keadaan yang menjadikan kita selalu membutuhkan uluran bantuan orang lain.

Dengan begitu, kerja sama dengan pihak-pihak lain mutlak kita perlukan. Dan hal itu tidak akan berjalan dengan mulus kalau diri kita masih diliputi prasangka buruk. Penting dicatat, tradisi berpikir positif adalah cermin pola hidup yang sehat dan menyehatkan. Salam semangat berpikir positif!

*) Abdi negara di Bagian Kesejahteraan Rakyat Pemkab Pamekasan