Mengenang Ungkapan Unik KH Hasyim Muzadi

Tokoh yang mendunia itu telah tiada. Hembusan nafasnya berakhir pada Kamis (16/3) pagi sekitar pukul 06.25 di Malang, Jawa Timur. Umat Islam Indonesia kehilangan tokoh panutan, KH Hasyim Muzadi.

Selama hidupnya, Kiai Hasyim dikenal dengan kecerdasannya yang mampu menyita perhatian pendengar maupun pembacanya. Beliau juga dikenal sebagai penceramah kondang yang kuasa menyedot perhatian banyak kalangan.

Sebelum memulai ceramah, Kiai selalu diam sejenak sekira 2-3 menit membaca sesuatu dengan sangat lirih. Itu dilakukannya dalam kondisi dan suasana apapun. Tidak langsung uluk salam. Sayup-sayup terdengar antara lain Kiai Hasyim membaca satu ayat Al-Qur’an:

وقل جاء الحق وزهق الباطل، ان الباطل كان زهوقا
Dan katakanlah: “Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sungguh, yang batil pasti lenyap.

Kalimat-kalimatnya pelan dan tertata rapi, kadang dengan suara agak keras tapi tidak meledak-ledak. Materi ceramahnya selalu menarik, seperti sudah sangat berpengalaman dengan panggung. Dalam satu obrolan, kiai Hasyim pernah bercerita, dirinya bahkan sudah berceramah keliling sejak mahasiswa, saat ia aktif di PMII.

Para kiai NU selalu punya ciri khas dalam berceramah. Yang khas dari Kiai Hasyim adalah membolak-balik kata, yang kadang seperti bercandaan saja tapi memang benar demikian, masuk akal dan lucu. Istilah “salah paham dan pahamnya yg salah”, ini yg paling populer. Ada juga, “dapat rahhmat atau rahmat yg dapat.” “Beda pendapat atau beda pendapatan.”

Biasanya setelah ceramah, di ruangannya kepada beberapa orang Kiai Hasyim minta dinilai ceramahnya. “Gimana tadi itu (yg disampaikan dlm ceramahnya) lumayan apa ndak kira-kira?”, “Lumayan apa di atas lumayan?” “Gimana tadi itu ada yg baru apa ndak kira-kira?”. Dan semua yg ditanya pasti harus menjawab “lumayan” dan “baru”.

Di atas panggung kalau orang-sudah bertepuk tangan, biasanya Kiai Hasyim lantas menyela, “Ini tdk bisa diatasi hanya dengan tepuk tangan.” Dan para hadirin tertawa.

Sebagai orang asli Jawa Timur dan sudah dilahirkan dlm keadaan NU, saya pasti pernah mendengar nama KH Hasyim Muzadi. Tapi saya baru melihat langsung wajah ketua NU sak Jawa Timur itu tahun 1999 dalam Muktamar Lirboyo. Dan beliau terpilih sebagai ketua umum “pengurus besar NU pusat” menggantikan Presiden Gus Dur. (A Khairul Anam, Jurnalis Senior NU)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *