No’man Afandi; Pencetak Siswa Berprestasi Internasional

Mulanya adalah siswa-siswi ‘buangan’ ke MTs Bustanul Ulum, Desa Tagengser Laok, Kecamatan Waru, Kabupaten Pamekasan, Madura. Orang mengganggapnya ‘buangan’, karena mereka gagal diterima di lembaga atau sekolah unggulan. Tapi akhirnya, banyak yang berdecak kagum pada mereka karena telah mengharumkan nama madrasah dan Indonesia hingga kancah dunia.

Berkiprah kali pertama di ajang kompetisi Matematika Internasional 2011 di Lucknow, India, medali perunggu kuasa digenggam Nabawiyah, siswi MTs Bustanul Ulum. Dua bulan kemudian, dua medali perunggu dan juara 1 grup (medali emas) diraih di Beijing, China oleh siswa lainnya yang mengenyam pendidikan madrasah di pelosok desa itu.

Hal tersebut beberapa prestasi dari sederetan keberhasilan akademik yang diraih MTs Bustahul Ulum dari tahun ke tahun. Kini, puluhan prestasi terus direngkuh, mulai dari kompetisi tingkat lokal, regional, nasional, hingga internasional.

No’man Afandi, sang kepala sekolah waktu itu, mempunyai peran yang sangat vital hingga nama Bustanul Ulum melejit dan tenar di belantara dunia.

Latar Belakang Pendidikan dan Keluarga

No’man Afandi merupakan anak bungsu dari 12 bersaudara. Ia kelahiran Pamekasan, 5 September 1971 Hobinya main futsal dan silaturrahim. Kedua orangtuanya petani dan tergolong menengah ke bawah. Ayahnya meninggal dunia waktu ia SD. Lulus SLTA, ibunya menyusul sang ayah.

Lulus dari SMAN 1 Pamekasan, ia melanjutkan studi ke IKIP PGRI Jember jurusan Biologi Sains pada 1995. Biaya kuliah, sebagian atas sumbangan saudara-saudaranya. Selama kuliah di Jember, No’man sembari kerja di toko peracangan sampai lulus. Selama bekerja di toko itu, dia hanya dibayar makan dan asrama gratis.

“Untuk bayar SPP, juga dibantu sekadarnya oleh tuan toko; saya bekerja sampai jam 9 malam, belajarnya di sela-sela pekerjaan. Alhamdulillah 3 tahun 6 bulan lulus. Dari 12 saudara, hanya saya yang PNS dan bisa berkiprah di dunia pendidikan. Saudara saya yang lain adalah petani. Tapi saya bangga dan berhutang budi pada mereka,” terang suami Dewi Kartini tersebut.

Semester 4 saat S1, No’man dapat beasiswa dari Super Semar karena IP-nya lebih dari 3,5. Syarat dapat Super Semar kala itu harus minimal IP 3,5. Sebelum dapat beasiswa, pendidikannya nyaris putus. Sebab, sering nunggak bayar SPP. Untungnya, seorang dosennya bernama Bu Unik membantu administrasi hingga ia dapat beasiswa Super Semar.

“Oleh saudara, saya per-2 bulan hanya dikirim Rp60 ribu. Kadang kirimannya lebih dari 2 bulan. Alhamdulilah semester 4 dapat beasiswa hingga selesai kuliah. Kebetulan semester 5 saya menjadi asisten Bu Unik,” urainya.

Di IKIP Jember, No’man menjadi wisudawan terbaik. Tapi, tidak merasakan bagaimana diwisuda. Sebab, tidak mampu membayar biaya wisuda yang mahal karena tempatnya di hotel mewah.

“Waktu dipanggil wisuda terbaik, saya tidak ada. Banyak yang bertanya-tanya. Atas bantuan bu Unik, saya bisa membawa ijazah sekalipun tidak diwisuda,” kenangnya.

Sekarang No’man melanjutkan studi magister di Unsuri Surabaya. Proses garap tesis. Kuliahnya minggu, tapi pembelajaranya penuh sehari. Objek penelitian tesisnya mengambil tesis di Bustanul Ulum dengan tema Kepala Sekolah sebagai Administrator dan Manajer di Sebuah Lembaga Pendidikan.

No’man diberkahi 2 anak kandung. Dan kini istrinya mengandung lagi. Tak hanya itu, ia punya 5 anak angkat. Anak angkat pertama jadi guru sertifikasi di Bustanul Ulum sudah berkeluarga, namanya junaidi. Yang kedua bernama Farhan mengajar di MAN Pamekasan, kini garap tesis jurusan PAI di Unsuri. Yang ketiga dan keempat mondok di Pesantren Banyu Anyar Pamekasan. Terakhir bernama Alung jadi tukang kebun di MAN sembari kuliah di STKIP Sumenep jurusan BK.

“Sebuah kepuasan luar biasa ketika bisa berbuat banyak untuk orang lain,” kata No’man sembari sumringah.

Madrasah sebagai Labuhan Mengabdikan Diri

Sejak dulu, No’man memang bercita-cita jadi guru. Dia memilih madrasah sebagai tempat pengabdiannya, karena di madrasah lah dirinya berkeyakinan bisa total dalam mengembangkan sekaligus mengasah kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual. SK pertama ia sebagai guru adalah di MAN Pamekasan tahun 1997.

Selama menjadi guru, No’man meneguhkan spirit optimisme dalam diri anak didiknya. Salah satunya, sumpah potong tangan bila muridnya gagal dalam ajang olimpiade internasional.

“Andai usai dua tahun kalian kami bina masih tidak juara olimpiade, potong tangan saya!,” kata No’man lantang.

Janji tersebut ditegaskan No’man Afandi pada 2009 silam kepada murid-muridnya, saat kali pertama dirinya diamanahi sebagai Kepala MTs Bustanul Ulum. Ditopang oleh spirit disiplin dan ketekunan, kalimat itulah yang mampu membakar semangat siswa madrasah dari pelosok desa sampai langganan juara olimpiade sains hingga tingkat dunia. Sampai detik ini!

Banyak kalangan yang awalnya meragukan MTs Bustanul Ulum bisa berkiprah di pentas dunia. Janji No’man Afandi untuk potong tangan bila siswanya tidak berprestasi, dipandang terlalu berlebihan. Sekalipun, ia mengucapkan hal itu dengan penuh kesadaran yang ditopang oleh optimisme yang tinggi.

Hal itu bisa dimaklumi, mengingat hingga pada 2011, kondisi siswa-siswinya yang kurang menjanjikan; berada di daerah terpencil, berjarak sekitar 180 km dari daerah perkotaan, infrastruktur jalan yang hancur lebur, jumlah keseluruhan siswa dari kelas VII sampai IX kala itu sebatas 120 orang saja.

Selain itu, banyak ruang kelas kosong yang tidak terawat dan tenaga pengajar yang jauh dari disiplin keilmuan. Ruang kelas yang semestinya jadi tempat belajar, justru sebagian dimanfaatkan lokasi penyimpanan hasil panen tani masyarakat sekitar. Murid-murid MTs Bustanul Ulum waktu itu, semuanya adalah yang sudah tidak diterima di lembaga unggulan dan sekolah-sekolah negeri di daerah Kecamatan Waru. Murid buangan, begitu kata orang.

“Mulanya di MTs Bustabul Ulum kesulitan ‘bibit’; yang tidak diterima di sekolah atau lembaga unggulan, baru masuk ke lembaga kami. Jadi waktu itu, ‘bibit’ siswa kita memang grade-nya rendah. Ini yang membuat pesimis banyak kalangan madrasah ini bisa bangkit. Alhamdulillah, kini sudah berwujud optimis,” terang No’man Afandi kala ditemui di ruang kerjanya, Jumat (16/10/2015).

Rasa pesimis itu, diakui No’man Afandi, sama sekali tidak pernah terbersit dalam dirinya. Menurutnya, janji potong tangan di atas, bukan bermaksud mendahului takdir Allah. Melainkan, itu dirasa sebagai wujud keyakinan betapa Allah pasti memberikan jalan mudah bagi hambahnya yang sudah berikhtiar.

Diberi kepercayaan menakhodai MTs Bustanul Ulum, dirinya langsung tancap gas melakukan dua strategi perubahan awal: membangun kedisiplinan dan meletakkan tenaga pengajar sesuai dengan disiplin ilmunya.

Bagi No’man, kedisiplinan adalah modal utama untuk meraih sukses. Kedisiplinan siswa, terangnya, tergantung pada kedisiplinan gurunya. Karena itu, kedisiplinan harus dimulai dari tenaga pendidik. Sementara faktanya, guru-guru madrasah di daerah Kecamatan Waru luar biasa tidak disiplinnya. Baru datang ke sekolah ketika jam menunjukkan pukul 08.00 Wib lebih. Muridnya lebih parah lagi.

Itu yang menjadi tantangan utama No’man di awal pengabdiannya di madrasah yang dinaungi Pondok Pesantren Bustanul Ulum. Dia berniat kuat melahirkan budaya disiplin dimulai dari guru. Dengan cara apa? Dia tidak pernah menyuruh guru disiplin, tidak pernah menegur guru yang biasa datang terlambat ke sekolah. Yang No’man lakukan ialah memberi teladan. Dan itu cukup efektif.

Teladan yang dilakukan No’man Afandi ialah tiba di madrasah maksimal pukul 06.15. Pada jam itu, guru dan siswa tak seorang pun yang datang. Tapi dengan teladan No’man Afandi yang dilakukan secara istikamah, guru dan siswa tampaknya jadi malu. Pelan tapi pasti, dalam setahun, kedisiplinan mengakar kuat dan membudaya di Bustanul Ulum.

“Alhamdulillah dalam setahun, kami mampu mendisiplinkan guru dan siswa dengan latar belakang yang bermacam,” tegasnya.

Setelah setahun, baru dirinya masuk ke sistem, masuk ke program pengembangan dan pemajuan lembaga. Mulanya, banyak guru yang merasa pesimis. Prinsip No’man terbilang sederhana, yaitu di mana pun kita melaksanakan sebuah program, selama kita mempunyai komitmen yang kuat, selama kita mempunyai niatan yang besar untuk membangun madrasah, tidak ada alasan madrasah itu untuk tidak maju. Tinggal bagaimana memaksimalkan potensi yang ada pada diri kita.

Tantangan selama mengubah sistem saat itu lumayan banyak. Hanya saja, No’man anggap sebagai keistimewaan. Karena dengan adanya tantangan, dirinya mengaku semakin dituntut untuk berinovasi, lebih berani. No’man berpikir semakin berat tantangan, ia semakin mudah untuk berkembang.

“Contohnya yang sangat berat di swasta itu adalah pengadaan dana yang sangat terbatas karena kebanyakan menggunakan dana pribadi. Tapi alhamdulillah saya puas karena ikhtiar saya berhasil memajukan Bustanul Ulum. Kepuasaan itu tidak hanya diukur dari materi,” terangnya.

Rahasia Sukses Memajukan Madrasah

Kata No’man, semua anak punya kapasitas dan potensi tersendiri, tergantung bagaimana kita menggalinya serta mengembangkannya. Dalam hal itu, guru dituntut punya inovasi, komitmen, dan semangat tinggi.

“Kata kunci untuk menjadikan lembaga yang sukses ialah kita harus wakafkan sebagian tenaga, pikiran, dan sebagian harta. Bila itu terjadi, saya akan memberikan jaminan insya Allah lembaga itu maju. Karena tidak ada prestasi yang gratis, prestasi itu harus diperjuangkan dan butuh pengorbanan,” tekannya.

Dalam pandangan No’man, masih ada beberapa pengelola lembaga pendidikan yang masih bepikir materialis. Dengan kata lain, ketika mereka melaksanakan tugas hanya sebatas melaksanakan tugas mengajar dan pulang, tanpa berpikir bagaimana anak-anak kita; berapa persen materi yang terserap, berapa nilainya, solusinya bagaimana dengan prestasi yang rendah.

“Makanya saya katakan inovasi itu penting,” terang pria yang hingga kini mengajar materi Biologi itu.

Di Bustanul Ulum, trik mengajar agar siswa tertarik dan termotivasi belajar sains ialah teori pendekatan psikis. Kalau kita ingin menjadi guru profesional masuklah ke dunia anak didik kita, kemudian ajak mereka ke dunia kita.

“Membangun ikatan emosional dengan anak-anak jauh lebih berhasil ketimbang melaksanakan program pembelajaran dengan berbagai metode,” tekannya.

Adakah teknik tersendiri guna menjaring siswa-siswi berbakat untuk kemudian dibina secara berkesinambungan? Mencari bibit unggulan itu mudah, kata No’man. Salah satu tekniknya ialah dengan memberikan soal yang ringan tapi banyak, dengan waktu yang singkat. Misal dari 200 soal, jangka waktu 15-30 menit.

Pengembangannya kemudian diasramakan mulai dari awal seleksi pertama sampai selesai madrasah. Jika hendak diikutsertakan olimpiade, selama 3 bulan tidak boleh terkontaminasi dengan materi lain, harus fokus di bidang yang dilombakan.

“Pengelola lembaga yang sekarang sudah bisa menikmati hasilnya, telah banyak siswa yang berbondong-bondong ingin bersekolah di Bustanul Ulum. Sekarang tinggal mengembangkan saja, karena kepercayaan masyrakat sudah tertanam,” katanya.

Spirit Mengabdi Berbuah Penghargaan Internasional

Dua tahun dari proses pembinaan siswa, pada 2011 datang penawaran untuk olimpiade matematika tingkat internasional. MTs Bustanul Ulum mingirim 5 peserta, 3 ke Louknow India, dan 2 siswa ke Beijing, China. Ketika siswa-siswinya lulus seleksi dengan anggaran semua sekitar Rp130 juta, No’man jadi kebingungan untuk mendapatkan dana sebesar itu.

“Ahamdulillah saya kumpulkan tokoh masyarakat dan pihak yayasan. Saya katakan madrasah sedang butuh dana sekitar Rp25 juta per-anak dengan biaya pengurusan sekitar Rp130 Juta. Dengan resiko ketika gagal tidak mendapatkan apa-apa dan uang tersebut tidak kembali,” terangnya.

Ikhtiar yang kencang tersebut, tidak lepas dari rasa sangat optimis No’man bahwa anak didiknya pasti berhasil dalam olimpiade internasional. Sebab, siswanya terbilang sangat siap sekali; selama 2 tahun dibimbing selama 16 Jam/minggu, dari paruh 2009 sampai 2011.

“Ketika berangkat ke Lauknow, siswa kami berpakaian seadanya; seragam sengaja tidak saya ganti; yang dipakai selama 2 tahun, dipakai ke Lauknow. Saya ingin tahu bagaimana respon pemerintah ketika anak berprestasi berpenampilam seadanya,” ujarnya.

Penerbangan ke Lauknow transit tiga kali. Siswa-siswi No’man yang ikut olimpiade tidak biasa terbang. Tiba di Lauknow, mereka langsung terkapar. Ketika di turun, mereka langsung tiduran di teras penerbangan. Akhirnya disamperi satpam, disangka pengemis, diberi uang dan disuruh pergi.

“Alhamdulillah anak desa pun yang tempat pendidikannya di daerah terpencil, tidak terbaca masyarakat, ketika punya kemauan yang kuat, keinginan yang kuat untuk berprestasi, ternyata mampu berkolaborasi dengan siswa di seluruh dunia. Kami kembali ke Indonesia dengan prestasi yang membanggakan; 2 buah medali perunggu,” kata No’man.

Dua bulan berikutnya, No’man mengirim dua siswa terpilihnya ke Beijing untuk kembali ikut ajang olimpiade matematika sains. Ternyata, pembiayaan ke Beijing tidak jauh beda dengan sewaktu ke Lauknow. Sekitar Rp30 juta perorang, karena biaya hotel yang lumayan mahal. Dan pada saat itu, suhu sedang di bawah 1 derajat celceus. Akibatnya, harus beli jaket seharga Rp1 juta perorang. Biaya tersebut ditransfer dari Madura.

Kedua-duanya mendapat medali perunggu dan kategori grup mendapatkan penghargaan juara 1 internasional.

No’man tidak mendampingi siswanya ke Beijing, karena saat itu kurang dana Rp60 juta pada H-2. Saat itu dirinya punya mobil Panther jelek. Dia taruh di pegadaian sebagai jaminan atas pinjaman uang Rp60 juta. Setelah tiga bulan, baru bisa ditebus.

“Karena bila Rp60 juta itu tidak dipenuhi, maka seluruh peserta olimpiade dari Indonesia gagal berangkat,” terangnya.

Biaya ikut olimpiade tersebut lebih banyak dari uang pribadi No’man. Adakah uang ganti? Sampai saat ini masih tersisa Rp30 juta.

“Saya berpikir begini, saya sampaikan ke kiai (pengasuh Pesantren Bustanul Ulum), kalau suatu saat lembaga maju, silakan bayar. Tetapi misalnya nanti lembaga katakanlah masih belum mampu, tidak bayar pun tidak ada persoalan,” terangnya.

Kini, lembaga Bustanul Ulum sudah maju dan berkembang. Jumlah siswanya setelah proses olimpiade internasional yang pesertanya dari MTs Bustanul Ulum, sekarang semakin naik sampai mencapai 600 siswa. Itu memberikan imbas pada SMK Bustanul Ulum. Saat ini, dari TK hingga SMK Bustanul Ulum sudah melebihi angka 1000 siswa.

Yang membuat No’man bangga pada pemerintah Indonesia ketika pulang dari Beijing ialah pihaknya beserta siswanya dapat pengawalan ketat dari pemerintah. Pukul 9 malam, dirinya bertemu dengan Dirjen Kementrian Agama. Di sana ia mendapatkan penghargaan yang luar biasa karena madrasah mampu mengharumkan nama Indonesia.

“Alhamdulillah saya diberi reward perpustakaan, multimedia, dan rehab sekolah, serta saya meminta supaya para siswa di Jawa Timur yang ikut olimpiade difasilitasi hingga perguruan tinggi,” katanya.

Sepanjang No’man mengabdi sebagai Kepala MTs Bustanul Ulum dari kisaran 2007-2013, telah menyelesaikan bangunan sebanyak 52 kamar, di antaranya ruang madrasah, asrama santri putra dan putrid Pesantren Bustanul Ulum.

Saat ini, No’man dihadapkan pada padatnya mengabdi di dunia pendidikan. Pagi sampai Magrib di MAN Pamekasan, malamnya di Yayasan Bustanul Ulum. Bainya, tidak ada pekerjaan yang melelahkan kalau pekerjaan itu dinikmati. Untuk membagi waktunya, cukup mengalir saja sesuai tupoksi sebagai kepala sekolah, tugas fungsional juga jalani.

Di bidang tenaga pengajar, No’man rupanya juga melakukan terobosan. Bila biasanya guru harus sarjana, No’man justru melabraknya. Buktinya, guru Matematika MTs Sumber Bungur hanya lulusan SMA. Mujalli, namanya. Dia tidak sarjana, tapi kompeten dan mampu mengantarkan siswa berprestasi di bidang matematika hingga tingkat internasional.

Sebelum di MTs Bustanul Ulum, No’man pernah menjabat sebagai guru Biologi di MTsN Sumber Bungur, Desa/Kecamatan Pakong, Kabupaten Pamekasan, dari tahun 1999 sampai 2007. Selama 9 tahun, dia mendampingi kepala sekolah Pak Hadari dan Pak Sihafudin dalam rangka pengembangan program akademik di Sumber Bungur.

Pada tahun 2007, di MTsN Sumber Bungur, pihaknya mencanangkan program akselerasi selama 2 tahun untuk siswa yang mempunyai IQ di atas rata-rata. Namun, belum rampung 2 tahun dari program itu, dia dipromosikan sebagai nakhoda di MTs Bustanul Ulum.

Pesan Buat Guru Madrasah

No’man berpesan kepada guru madrasah supaya jangan merasa puas dengan apa yang sudah diperoleh dan terus untuk melakuan inovasi. Juga, persering melakukan evaluasi dari apa yang sudah kita lakukan. Lebih dari itu, komitmen atau niatan yang kuat dalam mengabdi, mungkin itu senjata yang paling kuat guna mendapatkan prestasi.

Menurutnya, pola belajar zaman dulu dengan sekarang sudah berbeda. Cara belajar anak dulu lebih kuat walaupun dengan fasilitas yang sangat terbatas, motivasi anak untuk belajar lebih kuat tempo dulu walaupun dengan sarana dan fasilitas yang sangat terbatas. Dulu pengaruh lingkungan terbatas, telivisi sangat jarang.

Tapi sekarang, kata No’man, pengaruh informasi dan media bisa mnyebabkan semangat belajar anak rendah, karena sudah terpecah pikirannya ke lingkungan lain, seperti internet. Tapi kita dituntut jangan mengangap teknologi sebagai sesuatu yang membahayakan, tetapi bagaimana sedapat mungkin menanamkan karakter kepada anak-anak bahwa teknologi itu memilik dampak positif dan negatif, tergantung bagaimana kita mengarahkan.

“Kegiatan pembelajaran di MTs dan MA cukup 40% saja, sementara  60% diarahkan bagaimana untuk membangun karakter dan akhlak anak. Ini harus tersistem caranya, bukan dengan saran. Tapi, wajib dengan teladan. Bukan dengan sekadar omongan, tetapi mesti dengan contoh nyata.

Terus Berpijak pada Setumpuk Prestasi

Pada 17 Agustus 2014, No’man Afandi diamanahi sebagai Kepala Sekolah MAN Pamekasan, setelah sebelumnya menjabat Kepala Sekolah MTsN Parteker, Kecamatan/Kabupaten Pamekasan.

Dengan tangan dinginnya, MAN Pamekasan kini menjadi salah satu lembaga pendidikan Islam yang cukup disegani di Jawa Timur. Ragam prestasi bermunculan di dalamnya: untuk prestasi di non akademik terdapat gambus Albanjari. Gambus MAN sudah masuk rekaman, pramuka juga sudah biasa peringkat 1 Jawa Timur waktu di Probolinggo.

Selain itu, Pecinta Alam MAN Pamekasan juara 1 tingkat Jawa Timur dan Nasional, belum lagi di olahraga juga banyak. Selanjutnya, No’man menghendaki MAN ke depannya lebih dititiktekankan pada pengembangan akademik.

“KSM (kompetisi sains madrasah) tahun depan, insya Allah MAN Pamekasan akan memberikan warna bagi Jawa Timur. Termasuk di bidang Aksiomanya; untuk lapangan futsal sudah kita fasilitasi, teagantung bagaimana kita nanti menggenjot bakat anak-anak,” tekannya.

Dijelaskan No’man, dalam pengelolaan lembaga pendidikan, kata kuncinya ialah kebersamaan. Menurutnya, para wakil kepala sekolah harus diberi peran maksimal, dikasih kepercayaan sesuai dengan tupoksinya masing-masing

Dalam kepemimpinannya No’man, kini MAN Pamekasan punya 14 kegiatan ekstrakurikuler, maksimalisasi D1 komputer bekerja sama dengan ITS Surabaya, dan bimbingan olimpiade sains.

“Untuk matematika tetap bekerja sama dengan Erick Institute, Bahasa Inggris kami bekerja sama dengan Mercury. Alhamdulillah MAN Pamekasan sudah ada sekitar 27 siswa yang mempunyai kemampuan di bidang bahasa Inggris dan mempunyai sertifikat touffle. Untuk matematika dan Biologi, selain dibimbing guru MAN, kami bekerja sama dengan Pak Purwanto selaku pembina Olimpiade Matematika Pamekasan. Pembinaannya, kami lakukan secara istikamah minimal seminggu 3 kali,” bebernya.

Setiap Jumat, diadakan hataman Alquran 30 jus, dimulai jam 06.45 bergiliran per grup. Masing-masing grup terdiri dari 30-40 siswa. Selain itu, terdapat program tajwid, tahfidz, cara cepat belajar kitab kuning dengan metode amstilati, belajar kitab kuning, dan sebagainya.

Di samping itu, di MAN Pamekasan terdapat bengkel shalat dan laboratorium untuk siswa yang tidak mondok di asrama. Anak yang tidak bisa shalat dan mengaji, dikelompokan dalam satu kelas dan diberi pembinaan khusus. Bisa dipastikan, alumnus MAN Pamekasan bisa mengaji dan shalat dengan baik.

Sementara itu, salah seorang siswi MAN Pamekasan Aisyah Azun Nisya’ menyatakan, No’man tergolong aktif; tidak suka santai boleh santai asal serius, sangat memperhatikan pendidikan.

“Beliau selalu menyatakan apa yang kami butuhkan? Apa yang belum dipahami jelaskan, mungkin nanti saya bisa membantu,” kata Aisyah menirukan No’man.

Belum lama ini, No’man mampu membawa MAN Pamekasan juara 1 Wana Lestari tingkat Provinsi Jawa Timur dan tingkat nasional. Prestasi ini terbilang pemecah rekor, karena sebelumnya belum ada madrasah yang meraihnya.

Sepintas dilihat, No’man tampak guru bertipikal yang selalu serius dan kaku. Tetapi, ketika berbincang-bincang dengannya, kekakuan tersebut langsung mencair. Ia mudah akrab dan menghormati siapa saja. Tatkala diwawancarai, dia memberikan jawaban yang bernas dan lugas. (*)