Pekalongan

Turun dari bis Garuda Mas pada pukul 20.50, saya disambut oleh kedip lampu kilat kamera ponselnya Mas Dadik, orang yang akan saya tuju, si mandor Pekalongan. Setelah bersalaman, duduk, nyeruput kopi, saya pun memastikan masa ‘verval’ untuk mengisi daya ponsel. Dadik memberikan pilihan beragam, macam menu prasmanan saja: Karina atau apalah, termasuk PO Rasa Sayang tujuan Bima bahkan andaipun saya hanya akan turun di Kudus. Setelah beres teken perjanjian, barulah saya lega: bahwa pulang tengah malam dari Pekalongan itu bukanlah hal yang tidak mungkin.

Akan tetapi, rencana berubah mendadak setelah dua orang lagi datang menyusul: Eeng dan Fauzi. Saat kami bergerak untuk menyusuri kota, seperti yang sudah-sudah, hati saya mulai goyah. Bersama Dadik, mereka menggoda saya agar menghabiskan malam itu, 18-19 Oktober 2016, di Pekalongan saja. Mereka menjamin bahwa saya tetap akan sampai di Madura dengan garansi tiket kereta api “Harina” yang berangkat pukul 03.48 dari stasiun Pekalongan.

Nyaris tak percaya pada kata-kata sendiri saat saya mengiyakan ajakan mereka. Saat itu pula, rasanya diri ini berubah menjadi sehelai kapas dan merekalah angin menderu. Saya ikut ke mana saja arah mereka menuju.

Yang mula-mula kami kunjungi adalah komplek makam Sepuro, tempat leluhur pemuka agama Pekalongan, meliputi makam Habib Husain dan Habib Ahmad Al-Atthos. Konon, 70 persen desa itu adalah makam dan sisanya barulah perkampungan. Barangkali sebab ini alasannya hingga saya rela menyebut Pekalongan sebagai “Tarim”-nya Indonesia (Anda dapat membaca sebagai tambahan informasi diaspora Arab-Yaman di Nusantara melalui majalah ‘Historia’ bertajuk “Mencari Cincin Nabi Sulaiman”, nomor.3/1/2013).

Kami bergerak ke sebuah masjid yang dibangun pada 1352 H, Masjid Ar-Raudhah. Sudah itu, kami lanjutkan perjalanan ke Masjid Wakaf, sebuah masjid pertama tempat dimulainya Habib Ahmad mengembangkan dakwahnya. Jika di masjid pertama kami tadi saya sekadar singgah, di masjid kedua saya sempat shalat sunnah, tentu saja sembari mendoakan kemakmuran untuknya. Terlintas dalam bayangan perasaan cemas, melihat masjid-masjid mentereng di tepi jalan tapi yang bershalat segaris saja tak sampai, atau terlarang bagi sembarang muslim jika bukan yang sepaham, atau masjid yang fungsinya banyak digunakan toiletnya saja, ya, untuk pipis maupun buang air besar.

“Mari, kita ke terminal. Saya mau pulang.” “Serius? Rugi, lho, kalau sudah ke Pekalongan namun enggak ke Maulana Maghribi di Wonobodro.” “Tapi, besok saya harus sudah sampai rumah. Jadi, tolong, kita ke terminal.” “Iya, besok tetap sampai rumah, cuma nyampe-nya telat sedikit.” Setelah diam sejenak, mikir dalam-dalam, berdiplomasi secara alot, lagi-lagi saya kalah. Saya menyerah. Masuklah kami ke dalam mobil dan kami bergerak ke Wonobodro. Jalan menuju Wonobodro di Blado yang secara administratif sudah termasuk kabupaten Batang ini berkelok-kelok, mirip trek Dampit secara harfiah: jalanan berliku namun banyak rumah di kedua sisinya. Setelah menempuh entah berapa puluh kilometer, sampailah kami di sebuah pertigaan yang jika lurus nembus ke Dieng. Kami ambil arah kiri, menuju lokasi. Konon, jalur ini sering pula dilewati bis apabila ada macet di Pantura karena salah satu percabangan jalannya dapat mengantarkan ke Alas Roban maupun Magelang.

Mungkin hampir satu jam kami melaju dengan gegas. Di luar, udara dingin mulai menyergap. Rasanya, pohon-pohon semakin tinggi, tikungan semakin tajam, dan malam bertambah kelam. Lewat beberapa menit dari batas pergantian malam, kami tiba di lokasi.

Saya, diikuti teman yang lain, mengambil wudu di mata air yang berada di kaki petilasan. Airnya dingin minta ampun. Ketika menghirup dan berkumur, saya sempat menyesap, berharap kelak kembali ke tempat ini. Kami menyusur anak tangga menuju ke makam. Tentu saja, di tempat itu, kami hanya berdoa, membaca ayat-ayat Alquran. Tidak tepat jika tengah malam begini, di tempat yang teduh ini, malah berdebat tentang apakah ini makam atau petilasan mengingat Maulana juga banyak menyisakan misteri dan jejak.

Setelah ngaji dan seterusnya, tahlil dan seterusnya, foto-foto dan seterusnya, kami meninggalkan komplek maqbarah dengan langkah berat. Seperti ada sesuatu yang tertinggal di sana. Saya menyeret sandal di atas bebatuan jalan sembari bertanya, mengapa beliau dimakamkan di tempat terpencil begini, tinggi pula, sebagaimana banyak ulama dan para wali? Saat itu, terbayang pemakaman umum di dekat jalan yang tidak terurus, kalau apes malah kena gusur, lalu hilang jejaknya dan tak dikenal lagi namanya. Setelah itu, anak cucunya sibuk bekerja. Di saat itulah, konon, liang lahat benar-benar menjadi kuburan nan sepi dan pengap sebab tak ada doa dari anak cucu dan muridnya.

Kami turun, melangkah pulang, menuju sebuah warung. Teh dan kopi dipesan. Sembari menunggu si ibu menjerang air, saya merenung: bukan soal engkau tinggal dan atau dimakamkan di hutan atau di gunung, di pantai atau di pedataran. Kelak, engkau akan disambangi dan didoakan apabila selama hidup engkau banyak berbuat amal kebajikan. Lantas, untuk apa hidup lama, apalagi abadi, jika lingkungan dan alam sekitarmu hanya menjadi keranjang raksasa tempat engkau membuang sampah-sampahmu? (M Faizi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *