Merawat Potensi Pemuda Arus Bawah

Pemuda arus bawah maksudnya ialah mereka yang hidup di pelosok desa, mereka yang jarang menajamkan potensi diri lewat berorganisasi, mereka yang cenderung menjadi objek kemajuan, bukan subjek kemajuan, dan mereka yang diragukan kemampuannya dalam mengepung kota guna menghadirkan perubahan-kemajuan.

Gagap bersosial sejauh ini kerap menerpa pemuda arus bawah. Sebab, mereka minim wawasan berorganisasi. Akibatnya, mereka kurang tangguh tatkala dihadapkan pada ragam masalah.

Mereka punya kecenderungan merantau guna bekerja, sementara pentingnya pendidikan kurang menemukan tempat di lubuk hatinya. Kebiasaan bekerja di luar negeri atau di luar daerah yang menjadi tradisi turun temurun, membuat pemuda arus bawah menilai bekerja dengan mengandalkan otot adalah kunci utama kesuksesan.

Di samping lemahnya pendidikan dan perhatian orangtua, pemuda arus bawah mulai terasuki budaya hedonisme. Mereka tak jarang terperangkap dalam geng-geng motor yang aksi-aksinya mengusik ketenangan masyarakat. Bahkan, melalui geng motor yang terus masih, mereka jadi sasaran aman pengedar narkoba.

Jaringan yang dibangun mereka lebih mengerucut pada relasi negatif. Sementara yang bersifat positif, mendidik, mencerahkan, menguatkan wawasan, masih tergolong lemah.

Dari persoalan tersebut, tentu perlu hadir sebuah organisasi yang bisa diandalkan dalam merawat aktivitas positif dalam kehidupan pemuda arus bawah. Lewat berorganisasi, segala persoalan tersebut dapat diredakan. Bahkan, potensi para pemuda dapat terlejitkan.

Dengan aktif di organisasi, segala kekurangan pemuda arus bawah dapat ditekan semaksimal mungkin. Karena gesekan yang terjadi di sebuah organisasi lebih pada yang berbau positif. Kelebihan masing-masing dalam diri pemuda, dapat dibagiratakan kepada pemuda lainnya lewat organisasi kepemudaan.

Memupuk spirit berorganisasi mulai dari masa remaja, tentu amat penting sebelum menginjak jadi pemuda. Salah satu organisasi yang cukup bagus dalam menggarap potensi kepemudaan ialah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) maupun Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU).

Usai aktif di IPNU maupun IPPNU, mereka selanjutnya bisa menguatkan potensi berorganisasi di Gerakan Pemuda (GP) Ansor yang sasarannya juga merambat ke pemuda desa. Ketika potensi berorganisasi sudah terasah, bukan tidak mungkin pemuda arus bawah dapat mengepung kota dengan semangat belajar sembari bekerja. (sule sulaiman)