Jalan Berlubang dan Pak Polisi

Saya tidak pernah jemu mengamati jalan raya. Bukan hanya masalah jalan raya itu sendiri, tapi termasuk perlengkapan dan pernak-pernik yang menjadi pemandangan di jalan raya. Baik itu pemandangan baik, kurang baik, dan bahkan pemandangan yang buruk. Dalam hal ini, saya tidak bisa memberikan klasifikasi atau kategori jalan itu baik atau tidak baik. Hanya sebatas menulis apa yang saya lihat, karena ini orang menyebut dengan uneg-uneg, jika tidak dikeluarkan bikin sakit kepala.

Bagi pengendara yang sering lewat jalan raya Proppo sebaiknya hati-hati. Karena beberapa bulan terakhir, jalan raya Proppo ditinggikan, dan tinggi antara trotoar dan permukaan jalan raya tidak sama, kurang lebih satu jengkal dan bahkan bisa lebih. Sehingga bagi pengendara yang mau masuk jalur diharapkan hati-hati karena cenderung terjungkal. Tidak sedikit masyarakat sekitar jalan-terutama pemilik toko-yang bermodal sendiri meratakan permukaan jalan dengan trotoar menggunakan serto untuk menghindari kecelakaan, seperti terjatuh.

Awalnya saya pikir sementara, dan dalam waktu dekat akan diperbaiki. Ditunggu-tunggu dalam waktu yang relatif lama ternyata tidak ada penanganan untuk memperbaiki dan dibiarkan timpang antara trotoar dan badan jalan. Waktu ditinggikan, jalan tidak dalam keadaan rusak, kalau seandainya anggaran itu difungsikan untuk memperbaiki trotoar dan aberan (jalan air) malah lebih bermanfaat.

Lain Proppo, lain lagi Palengaan; keduanya sama-sama kecamatan. Di jalan raya Palengaan ada banyak jalan berlubang-bukan lubang berjalan-yang sangat mengganggu sekali terhadap pengendara. Pasalnya, hampir setiap pengguna jalan berebut jalan yang enak, dan tidak jarang kadang bertemu di tengah. Terutama bila pengendaranya anak usia SMP yang tidak mau kalah berebut jalan. Selain ugal-ugalan juga ngebut tanpa perhitungan. Ini sangat membahayakan sekali.

Belum lagi kalau musim hujan. Bila jalan-jalan berlubang digenangi air, maka jalan nampak rata. Hal seperti ini seringkali membuat orang tidak menyadari bahwa jalan itu berlubang. Tampaknya usaha masyarakat memberikan tanda menggunakan cat pilok menjadi sia-sia jika sedang hujan. Jalan satu-satunya untuk menghindari kecelakaan, Pemerintah harus segera memperbaiki jalan-jalan yang rusak, terutama jalan umum yang melibatkan banyak pengguna jalan.

Di kota, Bapak Polisi sibuk memeriksa pengendara jalan di perempatan-perempatan. Secara selektif menghentikan pengendara yang dicurigai tidak mempunyai kelengkapan kendaraan bermotor. Seperti saya yang pernah diberhentikan di perempatan sebelah barat Perpustakaan Umum. Saya tidak tahu aturan mainnya untuk komplain kenapa harus dipilih secara acak, kok tidak diberhentikan semua, sehingga melahirkan spekulasi perspektif orang awam seperti saya, bahwa Bapak Polisi tebang pilih. Oh, ia pak ada salam dari orang kampung, “Kenapa bapak seperti alergi sama orang yang pakai sarung?” Karena kata mereka sering dibawa ke Pos kalau ke Pamekasan pakai sarung.

Di perempatan yang lain, semisal Gaden (perempatan dekat pegadaian). Jalan yang ke barat banyak orang memarkir kendaraan persis dibawa rambu dilarang parkir. Meski tampak sederhana, ini pelanggaran pak polisi. Tidak hanya itu, jalan yang ke utara itu dijadikan sebagai terminal untuk membawa penumpang, sehingga memakan separuh jalan, dan jalan menjadi sempit. Ada lagi, masak di perempatan jalan dijadikan sebagai pasar, kok ada yang jualan ikan laut di sana. Semumpung bongkar pasang, kalau sudah permanen repot relokasinya. Masak nunggu seperti pasar Sedandang, harus kebakaran dulu.

Tidak tahu ini tugas siapa persoalan itu, jika dianggap sebagai persoalan. Bila tidak dianggap sebagai persoalan, mari, ngopi bersama dulu. Wallahu a’lam! (Musannan Abdul Hadi Al-Mankoni)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *