Tahun Baru Islam, Langkah Awal Jadi Insan Kamil

Hari ini kita telah memasuki Bulan Muharram, bulan yang dipilih sebagai tahun baru dalam kalender Hijriyah, orang-orang biasa menyebutnya dengan tahun baru Islam. Seperti halnya Hari Raya Idul Adha yang baru saja kita lalui, 1 Muharram juga termasuk hari yang dimuliakan dalam agama Islam. Pada 1 Muharram kita akan mendapati warna merah pada kalender Tanah Air, menandakan bahwa pada hari itu libur. Umat Islam Indonesia seakan-akan diajak untuk tidak mempersibuk dengan urusan duniawi dan lebih mementingkan serta fokus pada hal-hal yang berbau ukhrawi. Saat itu, seorang Muslim disunahkan untuk berpuasa, karena 1 Muharram merupakan langkah baru dalam menapaki kehidupan selanjutnya, maka perlu dibangun suatu kebaikan, dengan harapan kehidupan selanjutnya menjadi lebih baik.

Menjelang pergantian tahun, umat Islam dianjurkan untuk membaca doa akhir dan awal tahun, biasanya hal ini dilaksanakan secara bersama-sama, baik di masjid-masjid, surau, majlis taklim, pondok pesantren, dan tempat-tempat ibadah lain. Para ulama mengajak seluruh umat Islam untuk mensyukuri segala nikmat yang telah diberikan oleh Allah Swt. dengan cara memanjatkan doa bersama-sama.

Kedua doa tersebut beserta artinya tercantung dalam buku ini, keduanya mengandung maksud dan tujuan masing-masing, doa akhir tahun sebagai sarana untuk introspeksi diri, begitu banyak dosa dan kemaksiatan yang dilakukan selama satu tahun, akhir tahun mengajak kita untuk segera sadar dan bertobat kepada Allah. Setelah kita menyadari segala dosa dan menyesalinya serta berusaha untuk bertobat, maka lagkah selanjutnya adalah memohon perlindungan kepada Allah dari segala tipu daya Iblis beserta golongannya, hal demikian merupakan kandungan dari doa awal tahun (hal. 134). Pembacaan kedua doa tersebut sekarang sudah menjadi tradisi bahkan mendarahdaging pada sebagian umat Islam Indonesia, bahkan terkadang datangnya 1 Muharram disambut sangat meriah oleh organisasi-organisasi Islam.

Pada mulanya, penyambutan umat Muslim terhadap momen bersejarah ini sangatlah sederhana, tetapi sejak dicanangkannya abad ke-20 sebagai zaman kebangkitan Islam, maka organisasi-organisasi Islam mulai mengadakan berbagai upacara dan perayaan dalam menyambut tahun baru Islam. Tetapi tidak semua organisasi Islam setuju akan adanya penyambutan ini, menurutnya 1 Muharram tak perlu diperingati dan apalagi sampai dirayakan, karena hal demikian tidak pernah diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw. Mereka seakan-akan terjebak pada formalisme agama, jika tidak dilakukan oleh nabi maka mereka tidak mau mengamalkan meskupin hal tersebut sarat dengan kebaikan.

Penulis di sini sedikit menanggapi pendapat-pendapat di atas dengan mengutip dua ayat al-Qur’an: surah al-Mukmin [40]: 60) dan surah al-A’raf [7]: 55). Kedua ayat tersebut mengajak umat Islam untuk senantiasa berdoa kapan saja, baik siang maupun malam, dan dalam keadaan apa saja. Sehingga mayoritas umat Islam memandang bahwa momen bersejarah ini amat penting dan perlu dimanfaatkan untuk introspeksi diri dan memohon perlindungan kepada Allah (hal. 130).

Sekilas tentang Terbentuknya Tahun Baru Islam

Dalam buku “Merayakan Hari-hari Indah bersama Nabi” ini dijelaskan bahwa Tahun Baru Islam digagas oleh beberapa sahabat nabi, dan dikomando langsung oleh Umar bin Khattab atas inisiatif Abu Musa al-Asy’ari. Dengan datangnya surat dari Abu Musa, Khalifah Umar yang dikenal paling kreatif ini menyadari bahwa kaum muslimin perlu mempunyai kalender yang menandai kapan perhitungan tahun dimulai. Sebagian sahabat mengusulkan, awal tahun baru sebaiknya pada tanggal hari Nabi menjadi Rasul, tetapi Umar memandang bahwa hijrah nabi lebih tepat dijadikan sebagai awal tahun baru Islam. Beliau mengatakan: “Hijrah adalah momen menentukan kebenaran dan kebatilan. Maka kita tetapkan Hijrah sebagai awal kalender Islam.”

Hjrah bagi Khalifah Umar merupakan titik sejarah yang sangat menentukan bagi perjalanan ajaran-ajaran Tuhan yang dibawa dan disampaikan oleh nabi, suatu peristiwa yang paling menentukan bagi masa depan Islam dan kaum muslimin. Tetapi sejauh ini, tidak ada kesepakatan pendapat di kalangan sejarawan mengenai kapan tepatnya nabi berangkat hijrah. Al Najm Umar bin Fahd Muhammad bin Muhammad berpendapat bahwa hijrah terjadi pada tanggal 4 Rabi’ al Awal. Sedangkan Abd al Fattah al Matsnawi mengatakan tanggal 1 Rabi’ al Awal/13 September 622 M dan tiba di Yatsrib (Madinah) pada Senin 12 Rabi’ al Awal/24 September 622 M. (hal. 120).

Di kalangan para sahabat juga demikian, manakala peristiwa Hijrah telah disepakati sebagai awal tahun bagi kalender Hijriyah, seorang sahabat menanyakan, “Apakah akan dimulai pada bulan Ramadan?” Umar mengatakan, “Tidak, tapi bulan Muharram, karena bulan itu, para jamaah Haji sudah kembali ke daerahnya masing-masing.” (hal. 121). Keputusan Khalifah Umar menetapkan awal tahun pada bulan Muharram, yang berbarengan dengan pulangnya para jamaah dari Tanah Suci ini nampaknya menyimpan beberapa isyarat. Jamaah haji itu dilambangkan dengan sesuatu yang suci, kita tahu bahwa pahala haji mabrur itu adalah surga dan semua dosanya diampuni layakanya bayi yang baru lahir, tidak ada dosa sedikitpun yang melekat dalam dirinya. Sehingga di sini perlu dipahami bahwa tahun baru Islam perlu dijadikan sebagai pemacu semangat kita untuk lebih giat beribadah kepada Allah, awal tahun harus bisa memompa semangat kita untuk menjadi insan kamil yang selalu ingin lebih dekat dengan-Nya, dan selalu berusaha menebar kebaikan kepada seluruh umat manusia.

Buku terbitan Qaf ini tidak hanya membahas tentang sejarah lahirnya Tahun Baru Islam, di dalamnya juga membahas tentang Maulid Nabi, Nuzul al-Qur’an, Isra dan Mi’raj Nabi, Tragedi Karbala pada Hari Asyura, Idul Adha, Idul Fitri, dan peristiwa-peristiwa penting dalam Islam. Buku ini cocok dibaca oleh siapa saja, karena bahasa yang digunakan tidak sulit, mudah dicerna dan mudah untuk dipahami. Selain itu penulis juga melengkapinya dengan berbagai potongan ayat al-Qur’an dan hadits nabi terkait dengan tema yang sedang dibahas.

DATA BUKU

Judul : Merayakan Hari-hari Indah bersama Nabi

Penulis : K.H. Husein Muhammad

Penerbit : Qaf

Cetakan : 1, Maret 2017

ISBN : 978-602-60244-5-9

Tebal : 225 Halaman

Peresensi: Saiful Fawait*

*) Mahasiswa Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika), Sumenep

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *