Macam Manusia (M. Faizi)

Aku mengenal banyak orang dengan watak yang beragam. Ada yang madu bila bertemu, ada yang masam saat bersalam. Ada pula yang baik bila berhadapan, tetapi menikam bila lalai.

Aku mengagumi sikap dan perilaku beberapa orang yang kukenal. Tapi, biasanya cuma satu dari setiap ratusan. Di antara mereka adalah seorang yang hidupnya bergelimang kekayaan, tapi ia tidak membanggakannya. Ia dermawan, tetapi sederhana. Ia pemurah, tetapi tidak menghambur-hamburkan harta.

Ada pula yang pintar, bahkan jenius, tetapi tidak pandai menyalahkan. Kecerdasasan membuatnya sadar bahwa manusia punya kemampuan yang beragam.

Di antara mereka, ada sang alim yang tidak menganggap suci sendiri di antara aib yang lain. Sebab ia menyadari, nilai darang dari Tuhan dan manusia hanya berlomba berbuat kebaikan.

Juga seorang yang masyhur dan kukenal. Ia adalah seorang yang kondang, terkenal di mana-mana. Namun, kemasyhurannya tidak menciptakan jarak atas-bawah, ataupun derajat tinggi-rendah.

Kecuali satu, dialah orang yang tidak kukagumi melainkan harus dikasihani. Inilah manusia tanpa pengalaman, bodoh tanpa ilmu, miskin tanpa harta, jahat tanpa budi, dan ia selalu membayangkan dirinya perkasa. Sungguh malang nasib orang yang satu ini. Betapa tidak, tak ada sapa dan pesan untuknya. Karena ia enggan bila ditegur, tak sudi jika disantun. Tak ada yang lebih malang dari si malang ini, yang tak sadar bahwa dirinya bernasib malang.

Sumber: Buku “Sareyang; Lirik Penunggu Kesunyian” karya M. Faizi, 2005, hlm 82.

Foto: Istimewa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *