Ketika Tunawicara dan Tunanetra Tampil di Panggung

MediaJatim.com, Sumenep – Saya rasa, baru kali ini membuat catatan yang, entahlah. Campuk aduk. Di satu sisi, foto yang saya lampirkan ini tak ada bagusnya sama sekali. Kompisisinya tidak teratur, hanya pakai kamera handphone, itu pun dengan angle yang nyaris miring.

Tapi lepas dari “tampilan fisik” yang memang tidak ada bagus-bagusnya sama sekali dari foto ini, bagi saya, tetap berkesan. Dan, saya akan membuat alibi yang baik untuk itu.

Paling kanan dari foto pertama ini, yang berkacamata hitam namanya Nuri. Dia MC acara Jalan Sehat Spektakuler bersama Lansia dan Disabilitas serta Festival Busana Unik 2017. Di belakang Nuri, dengan wajah tertutup bahu, salah satu panitia gelaran event. Anwar, kalau tidak keliru.

Dan jika dirunut dari kiri, paling kiri Faris, panitia. Lalu seorang ibu pemenang undian, owner Taman Tectona dan di tengah mereka berdua bagian belakang, namanya Rahmatullah, panitia yang bertugas menyiapkan hadiah untuk pemenang.

Momen dalam foto ini ada dua. Satu penyerahan hadiah secara simbolis, satu lainnya ketika ada dua MC yang membacakan nomer pemenang kupon, dengan cara yang berbeda.

Di foto ini, jika dilihat dengan baik, ada dua orang berbaju orange. Yang pertama, pemuda tampan yang berdiri di samping kanan Nuri. Kedua, seorang perempuan yang duduk di kursi panitia. Mereka yang mengenakan kaos itu adalah komunitas disabilitas. Mayoritas tunawicara, tuna netra dan tuna rungu.

Dengan cekatan, pemuda tuna wicara di samping Nuri itu menjadi penerjemah untuk “menyampaikan” nomer undian pemenang dengan bahasa isyarat, pada ratusan disabilitas yang ikut event. Cara pemuda itu menyampaikan, tak kalah mengahahu-birunya seperti Nuri. Sangat bersemangat.

Pemuda tuna wicara yang tidak saya tahu namanya itu, membuat pikiran ini jatuh haru. Baru kali ini saya melihat momen ini secara langsung. Keterwakilan dan kesetaraan kaum disabilitas. Ada panggung untuk mereka. Dan mereka menyambutnya dengan suka cita.

Berada di tengah-tengah komunitas disabilitas, bagi saya kesempatan yang langka. Menduga-duga apakah mereka sedang bercanda, sedang romantis atau marah satu sama lain lewat isyarat, adalah hal yang menyenangkan.

Itulah kenapa, saya mengatakan foto ini tidak sembarangan. Karena sebelum foto ini diambil, saya ikut terlibat meminta pemuda dengan jenggot cute itu, jadi penerjemah. Meminta mereka melambaikan tangan ke kamera handphone saya untuk diabadikan, dan seorang perempuan di foto ini, Aini, yang tuna netra menyanyikan lagu pacar dunia akhirat. Sebagian dari mereka, menari-nari kegirangan.

Sumenep, 12 Nopember 2017

Penulis: Nur Kholis (NK Gapura)