KPS dan Misi Kepahlawanan

Oleh: Moh. Jufri Marzuki*)

Tiga hari yang lalu, tepatnya pada malam Jum’at, malam 10 November 2017, rombongan pasukan obor yang terdiri dari para santri, akademisi, para pekerja sosial, pelajar dan mahasiswa bergerak dari halaman Pendopo Kabupaten Pamekasan menuju area monomen Arlan (Arek Lancor). Disana, mereka duduk melingkar mengumandangkan do’a bersama untuk arwah seluruh pahlawan, mendeklamasikan puisi-puisi kepahlawananan dengan obor menyala di genggaman, sebagai simbol semangat perjuangan yang tak pernah padam. Malam itu, malam Hari Pahlawan.

Seperti diberitakan oleh berbagai media, inti dari kegiatan malam itu adalah deklarasi sebuah organisasi pemuda yang menamakan diri “Kolom Pojok Surau” dan dikoordinatori oleh K. RP. A Wazirul Jihad; seorang tokoh muda kharismatik dan kini duduk di jajaran DPRD Pamekasan. Dalam konfrensi pers seusai deklarasi yang ia pimpin, secara substantif ia menyatakan bahwa kemasan kegiatan tersebut untuk mengingatkan para generasi muda akan jasa-jasa para pahlawan, serta melalui organisai tersebut diharapkan agar para pemuda mempertahankan, menjaga dan mengembangkan hasil perjuangan para pahlawan.

Entah disengaja atau kebetulan, saya melihat ada garis simetris yang mampu menghubungkan antara suasana masalalu dengan masa terkini, khususnya di Pamekasan. Konon, persis di tempat deklarasi tersebut, tepatnya di sekitar bundaran Arlan, pernah terjadi peperangan dahsyat antara para pejuang kemerdekaan dengan pasukan kompeni Belanda.

Di tempat itu pula, darah para syuhada’ tertumpah demi cita-cita kemerdekaan. Dengan celurit tajam sebagai senjata kebanggaan, banyak pula tentara penjajah yang meregang nyawa, tertikam tanpa sempat melawan. Untuk mengabadikan peristiwa berdarah tersebut, didirikanlah sebuah monomen berbentuk tiga buah celurit panjang khas rakyat pamekasan dengan dengan ciri utama sebuah ujung lancip dan tajam yang mengarah ke atas. Itulah monomen “Arek Lancor”. Dalam bahasa Madura, “arek” bemakna sabit atau celurit.

Tidak hanya itu, persis di sebelah barat Monomen Arlan dibangun sebuah Masjid Agung oleh Pemerintah Kabupaten setempat pada saat itu dengan nama Masjid As-Syuhada’ (Masjid Para Pejuang Syahid). Semua itu demi menghormati perjuangan dan jasa-jasa para pahlawan yang sebagian besar dipusarakan di komplek pemakaman yang ada di belakang Masjid As-Syuhada’.

Masih di sekitar area monomen Arlan. Di sebelah timur area, berdiri sebuah gereja katolik. Entah dilatar belakangi sejarah atau tidak, keberadaan gereja tersebut adalah simbol peradaban agama yang tinggi. Sebuah cerminan bahwa masyarakat Pamekasan mampu menjaga kerukunan di tengah-tengah perbedaan menjalani kehidupan berketuhanan. Meski dikenal sebagai penganut agama Islam yang kuat, rata-rata berbasis pendidikan pesantren, pemeluk agama Islam militan, namun masyarakat Pamekasan mampu menghadirkan suasana kerukunan, demokrasi, toleransi, kebebasan beragama dan menghormai pemeluk agama lain di luar agamanya. Hal ini ditandai dengan berdirinya rumah ibadah dua agama di antara gagahnya monomen simbol perjuangan kemerdekaan.

Keberadaan Masjid dan gereja di area monomen simbol perjuangan rakyat pamekasan tersebut, seakan memberikan pesan tersirat kepada kita. Bahwa hasil pengorbanan, kegigihan, keberanian dan keikhlasan perjuangan para pahlawan di Pamekasan jangan sampai diciderai dengan aksi-aksi kekerasan di antara sekian banyak perbedaan yang memecah belah persatuan dengan mengatasnamakan dalil suci agama apa pun.

NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) bisa tegak berdiri adalah berkat jasa pahlawan. Tugas kita adalah mempertahankan keutuhan bangsa ini dari paham-paham radikal yang mengancam persatuan dan kesatuan yang telah lama menjadi harmoni dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan beragama.

Kehadiran Kolom Pojok Surau (KPS) diharapkan menjadi respon awal pemuda pamekasan di tingkat lokal dalam menyikapi fenomena gerakan anti Pancasila yang mengancam keutuhan NKRI dan hingga saat ini masih merebak di mana-mana. Benih-benih radikalisme harus mampu dibendung dengan langkah-langkah persuasif dengan mengedepankan suasana dialogis dan tanpa mengabaikan nalar kritis.

Kata “Kolom” dalam terminologi Bahasa Madura berarti sebuah paguyuban. Yaitu sebuah jenis perkumpulan yang lebih pasnya mirip dengan sebuah organisasi tradisional. Dalam konteks masyarakat Madura lebih identik dengan forum silaturrahim dari rumah ke rumah yang di-isi dengan kegiatan ritual tahlilan, yasinan, shalawatan, siraman rohani keagamaan dan diakhiri dengan do’a bersama yang dipimpin oleh ustadz, kiai atau orang yang ditokohkan dengan kredibilitas akhlak dan ilmu agama yang tidak perlu diragukan.

Tetapi, penggunaan kata “kolom” dalam organisasi KPS lebih kepada maksud untuk mempertahankan kearifan lokal dari segi penamaan. Selebihnya, adalah organisasi kepemudaan yang mengusung isu-isu kontemporer dalam percaturan global, salah satunya adalah dengan mengemban misi kepahlawanan; bagaimana caranya agar NKRI sebagai warisan hasil jerih payah perjuangan para pahlawan tetap tegak di bumi pertiwi. Bung Karno pernah mengatakan, “bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya”.

Di antara para pahlawan tersebut juga ada para santri, sehingga dalam menjalankan misi kepahlawanan ini sangat urgen untuk menggandeng kaum pesantren yang hingga kini tetap kukuh mempertahankan sikap demokrasi, moderasi, menempatkan cinta tanah air sebagai bagian dari keimanan dan menjunjung tinggi falsafah pancasila dau UUD 45 sebagai sublimasi ajaran agama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan bertanah air.

Sedangkan kata ‘surau’ merupakan kosakata turunan dari Bahasa Arab; ‘syuro’, yang kemudian di-Indonesiakan menjadi kata serapan. ‘syuro’ berasal dari kata ‘syawara’ yang memiliki arti ‘bermusyawarah/urun rembug’. Penggunaan kata ini terdapat dalam ayat Al-Qur’an, di antaranya; “wa amruhum syuro bainahum” dan “wa syawirhum fil amri”.

Dari analisis penamaan di atas, maka alangkah sangat baiknya jika gerakan-gerakan KPS ke depan dikembalikan sesuai dengan fitrah namanya. Aktualisasi program-programnya lebih banyak merespon kondisi aktual kekinian sesuai tuntutan dan kebutuhan riil di lapangan, baik menyangkut masalah politik, pendidikan, ekonomi dan sosial-keagamaan. Lalu, gagasan-gagasan menyangkut hal tersebut dibawa pada forum bersama untuk didiskusikan atau dimusyawarahkan untuk kemudian dilanjutkan menjadi aksi dan kebijakan organisasi berwujud kerja-kerja nyata yang memberikan implikasi maslahat bagi masyarakat Pamekasan khususnya.

Hal mendesak yang perlu kita angkat adalah isu global menyangkut radikalisme agama bermuatan politis dengan warna pemikiran khilafis dan mencounter kelompok masyarakat tradisional yang mempertahankan budaya lokal dengan tuduhan kafir, syirik dan jahily. Kearifan lokal pun dipandang sesuatu yang tidak islami, sehingga apa yang selama ini dianggap sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa dan penuh dengan keaneka ragaman, malah dipandang sebagai bid’ah, tahayul dan khurfat serta harus dibasmi meski dengan cara-cara kekerasan dan kemungkaran atas dalih pemurnian agama.

Tidak hanya itu, pemerintahan yang sah dianggap sebagai musuh agama atau ‘thaghut’, sehingga harus diperangi dan dikhianati. Lebih tepatnya, mereka menempatkan kondisia bangsa saat ini sepertihalnya keadaan masyarakat jahily zaman kafir quraisy. Pemimpin non-Islam ditolak dan dijegal dengan isu sara ketika mengikuti kontestasi demokrasi, sehingga meskipun tetap diberi kesempatan oleh undang-undang, akan disikapi secara sinis penuh kebencian dan tentunya diiringi dengan hujatan, cacian dan fitnah konstruktif yang dipropagandakan secara massif.

Tantangan ini begitu berat bagi KPS. Memperjuangkan kemerdekaan berfikir, bertindak, berekspresi dan mengaktualisasikan skill kepemimpinan, menganut budaya lokal dan ajaran agama tradisionalis di negeri ini mendapat ancaman dan kecaman dari saudara sebangsa sendiri, bahkan yang seiman. Mereka, para pengecam itu, lahir dan dibesarkan di negeri ini, namun, mereka lebih memilih ideologi negara dan agama hasil import dari negeri orang lain yang dianggap lebih holystik dan murni. Padahal, semacam doktrin puritan yang terkesan dipaksakan sehingga sulit diterima dan tidak memiliki tempat di ruang publik karena cenderung kaku, tidak fleksibel dan jauh dari nilai-nilai moderasi.

Tantangan ini begitu berat bagi KPS. Memperjuangkan kemerdekaan berfikir, bertindak, berekspresi dan mengaktualisasikan skill kepemimpinan, budaya dan ajaran agama di negeri ini mendapat ancaman dan kecaman dari saudara sebangsa sendiri. Mereka, para pengecam itu, lahir dan dibesarkan di negeri ini. Namun, mereka lebih memilih ideologi negara dan keagamaan hasil import dari negeri orang lain yang dianggap lebih holystik dan murni. Padahal, semacam doktrin yang dipaksakan sehingga sulit diterima dan tidak memiliki tempat di ruang publik karena cenderung kaku, tidak fleksibel dan jauh dari nilai-nilai moderasi; ‘tawassuth, ‘tasaamuh’ dan ‘ta’adul’.

Para pahlawan bangsa tentu akan sangat bangga jika airmata, keringat, darah dan nyawa yang mereka korbankan demi kemerdekaan mampu kita jaga dan kita pertahankan. Lebih membanggakan lagi jika kemerdekaan itu di-isi dengan pembangunan fisik dan mental yang melahirkan suasana kedamaian, menghargai pluralisme dan kebinnekaan, menjunjung tinggi humanisme serta menjalankan agama dan demokrasi tanpa sinisme dan ujaran kotor penuh kebencian.

Sebaliknya, arwah para pahlawan akan menangis kecewa di alam baka, menyaksikan wajah ibu pertiwi selalu tampak murung dalam kesedihan, lantaran melihat anak cucunya tidak lagi bangga dengan keanekaragaman adat, tradisi, suku, budaya, agama dan bangsa. Pluralisme dipandang suatu ancaman dan penghalang dalam menegakkan ‘khilafah’. Formalisme Islam dan syari’at-syariatnya menurut mereka perlu dicita-citakan dan diperjuangkan meski dengan cara-cara preman, frontal, anarkis dan radikal karena dianggap medan jihad yang mendapat legalisasi dari ayat-ayat Tuhan.

Inilah tugas berat KPS ke depan. Menyiapkan kader-kader tangguh yang cerdas dan visioner merupakan tahapan awal yang menjadi keniscayaan. Menyusun program dengan menggandeng dan melibatkan ulama’, umara’ dan kalangan akademisi untuk menunaikan tugas suci kepahlawanan sebagaimana ikrar yang dibacakan saat deklarasi di bundaran monomen Arlan. Berusaha menjadi geranat bersumbu pendek yang siap meledakkan semangat perjuangan ketika kekuatan non-pancasilais tiba-tiba merong-rong keutuhan NKRI, karena bagi KPS, NKRI adalah harga mati!

Tiga hari yang lalu, tepatnya pada malam Jum’at, malam 10 November 2017, rombongan pasukan obor yang terdiri dari para santri, akademisi, para pekerja sosial, pelajar dan mahasiswa bergerak dari halaman Pendopo Kabupaten Pamekasan menuju area monomen Arlan (Arek Lancor). Disana, mereka duduk melingkar mengumandangkan do’a bersama untuk arwah seluruh pahlawan, mendeklamasikan puisi-puisi kepahlawananan dengan obor menyala di genggaman, sebagai simbol semangat perjuangan yang tak pernah padam. Malam itu, malam Hari Pahlawan.

Seperti diberitakan oleh berbagai media, inti dari kegiatan malam itu adalah deklarasi sebuah organisasi pemuda yang menamakan diri “Kolom Pojok Surau” dan dikoordinatori oleh K. RP. A Wazirul Jihad; seorang tokoh muda kharismatik, putera Almarhum KH. RP. Muhammad Sya’roni Tjokro Soedarso, pendiri PP. Darussalam Jung Cang-cang Pamekasan. Dalam konfrensi pers seusai deklarasi yang ia pimpin, secara substantif ia menyatakan bahwa kemasan kegiatan tersebut untuk mengingatkan para generasi muda akan jasa-jasa para pahlawan, serta melalui organisai tersebut diharapkan agar para pemuda mempertahankan, menjaga dan mengembangkan hasil perjuangan para pahlawan.

Entah disengaja atau kebetulan, saya melihat ada garis simetris yang mampu menghubungkan antara suasana masalalu dengan masa terkini, khususnya di Pamekasan. Konon, persis di tempat deklarasi tersebut, tepatnya di sekitar bundaran Arlan, pernah terjadi peperangan dahsyat antara para pejuang kemerdekaan dengan pasukan kompeni Belanda.

Di tempat itu pula, darah para syuhada’ tertumpah demi cita-cita kemerdekaan. Dengan celurit tajam sebagai senjata kebanggaan, banyak pula tentara penjajah yang meregang nyawa, tertikam tanpa sempat melawan. Untuk mengabadikan peristiwa berdarah tersebut, didirikanlah sebuah monomen berbentuk tiga buah celurit panjang khas rakyat pamekasan dengan ciri utama sebuah ujung lancip dan tajam yang mengarah ke atas. Itulah monomen “Arek Lancor”. Dalam bahasa Madura, “arek” bemakna sabit atau celurit.

Tidak hanya itu, persis di sebelah barat Monomen Arlan dibangun sebuah Masjid Agung oleh Pemerintah Kabupaten setempat pada saat itu dengan nama Masjid As-Syuhada’ (Masjid Para Pejuang Syahid). Semua itu demi menghormati perjuangan dan jasa-jasa para pahlawan yang sebagian besar dipusarakan di komplek pemakaman yang ada di belakang Masjid As-Syuhada’.

Masih di sekitar area monomen Arlan. Di sebelah timur area, berdiri sebuah gereja katolik. Entah dilatar belakangi sejarah atau tidak, keberadaan gereja tersebut adalah simbol peradaban agama yang tinggi. Sebuah cerminan bahwa masyarakat Pamekasan mampu menjaga kerukunan di tengah-tengah perbedaan menjalani kehidupan berketuhanan. Meski dikenal sebagai penganut agama Islam yang kuat, rata-rata berbasis pendidikan pesantren, pemeluk agama Islam militan, namun masyarakat Pamekasan mampu menghadirkan suasana kerukunan, demokrasi, toleransi, kebebasan beragama dan menghormai pemeluk agama lain di luar agamanya. Hal ini ditandai dengan berdirinya rumah ibadah dua agama di antara gagahnya monomen simbol perjuangan kemerdekaan.

Keberadaan Masjid dan gereja di area monomen simbol perjuangan rakyat pamekasan tersebut, seakan memberikan pesan tersirat kepada kita. Bahwa hasil pengorbanan, kegigihan, keberanian dan keikhlasan perjuangan para pahlawan di Pamekasan jangan sampai diciderai dengan aksi-aksi kekerasan di antara sekian banyak perbedaan yang memecah belah persatuan dengan mengatasnamakan dalil suci agama apa pun.

NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) bisa tegak berdiri adalah berkat jasa pahlawan. Tugas kita adalah mempertahankan keutuhan bangsa ini dari paham-paham radikal yang mengancam persatuan dan kesatuan yang telah lama menjadi harmoni dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan beragama.

Kehadiran Kolom Pojok Surau (KPS) diharapkan menjadi respon awal pemuda pamekasan di tingkat lokal dalam menyikapi fenomena gerakan anti Pancasila yang mengancam keutuhan NKRI dan hingga saat ini masih merebak di mana-mana. Benih-benih radikalisme harus mampu dibendung dengan langkah-langkah persuasif serta mengedepankan suasana dialogis tanpa mengabaikan nalar kritis.

Kata “Kolom” dalam terminologi Bahasa Madura berarti sebuah paguyuban. Yaitu sebuah jenis perkumpulan yang lebih pasnya mirip dengan sebuah organisasi tradisional. Dalam konteks masyarakat Madura lebih identik dengan forum silaturrahim dari rumah ke rumah yang di-isi dengan kegiatan ritual tahlilan, yasinan, shalawatan, siraman rohani keagamaan dan diakhiri dengan do’a bersama yang dipimpin oleh ustadz, kiai atau orang yang ditokohkan dengan kredibilitas akhlak dan ilmu agama yang tidak perlu diragukan.

Tetapi, penggunaan kata “kolom” dalam organisasi KPS lebih kepada maksud untuk mempertahankan kearifan lokal dari segi penamaan. Selebihnya, adalah organisasi kepemudaan yang mengusung isu-isu kontemporer dalam percaturan global, salah satunya adalah dengan mengemban misi kepahlawanan; bagaimana caranya agar NKRI sebagai warisan hasil jerih payah perjuangan para pahlawan tetap tegak di bumi pertiwi. Bung Karno pernah mengatakan, “bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya”.

Di antara para pahlawan tersebut juga ada para santri, sehingga dalam menjalankan misi kepahlawanan ini sangat urgen untuk menggandeng kaum pesantren yang hingga kini tetap kukuh mempertahankan sikap demokrasi, moderasi, menempatkan cinta tanah air sebagai bagian dari keimanan dan menjunjung tinggi falsafah pancasila dau UUD 45 sebagai sublimasi ajaran agama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan bertanah air.

Sedangkan kata ‘surau’ merupakan kosakata turunan dari Bahasa Arab; ‘syuro’, yang kemudian di-Indonesiakan menjadi kata serapan. ‘syuro’ berasal dari kata ‘syawara’ yang memiliki arti ‘bermusyawarah/urun rembug’. Penggunaan kata ini terdapat dalam ayat Al-Qur’an, di antaranya; “wa amruhum syuro bainahum” dan “wa syawirhum fil amri”.

Dari analisis penamaan di atas, maka alangkah sangat baiknya jika gerakan-gerakan KPS ke depan dikembalikan sesuai dengan fitrah namanya. Aktualisasi program-programnya lebih banyak merespon kondisi aktual kekinian sesuai tuntutan dan kebutuhan riil di lapangan, baik menyangkut masalah politik, pendidikan, ekonomi dan sosial-keagamaan. Lalu, gagasan-gagasan menyangkut hal tersebut dibawa pada forum bersama untuk didiskusikan atau dimusyawarahkan. Pada gilirannya, dilanjutkan menjadi aksi dan kebijakan organisasi berwujud kerja-kerja nyata yang memberikan implikasi maslahat bagi masyarakat Pamekasan khususnya.

Hal mendesak yang perlu kita angkat adalah isu global menyangkut radikalisme agama bermuatan politis dengan warna pemikiran khilafis dan mencounter kelompok masyarakat tradisional yang mempertahankan budaya lokal dengan tuduhan kafir, syirik dan jahily. Kearifan lokal pun dipandang sesuatu yang tidak islami, sehingga apa yang selama ini dianggap sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa dan penuh dengan keaneka ragaman, malah dipandang sebagai bid’ah, tahayul dan khurfat serta harus dibasmi meski dengan cara-cara kekerasan dan kemungkaran atas dalih pemurnian agama.

Tidak hanya itu, pemerintahan yang sah dianggap sebagai musuh agama atau ‘thaghut’, sehingga harus diperangi dan dikhianati. Lebih tepatnya, mereka menempatkan kondisia bangsa saat ini sepertihalnya keadaan masyarakat jahily zaman kafir quraisy. Calon pemimpin non-Islam ditolak dan dijegal dengan isu sara ketika mengikuti kontestasi demokrasi, sehingga meskipun tetap diberi kesempatan oleh undang-undang, akan disikapi secara sinis penuh kebencian dan tentunya diiringi dengan hujatan, cacian dan fitnah konstruktif yang dipropagandakan secara massif.

Tantangan ini begitu berat bagi KPS. Memperjuangkan kemerdekaan berfikir, bertindak, berekspresi dan mengaktualisasikan skill kepemimpinan, budaya dan ajaran agama di negeri ini mendapat ancaman dan kecaman dari saudara sebangsa sendiri. Mereka, para pengecam itu, lahir dan dibesarkan di negeri ini. Namun, mereka lebih memilih ideologi negara dan keagamaan hasil import dari negeri orang lain yang dianggap lebih holystik dan murni. Padahal, semacam doktrin yang dipaksakan sehingga sulit diterima dan tidak memiliki tempat di ruang publik karena cenderung kaku, tidak fleksibel dan jauh dari nilai-nilai moderasi; tawassuth, tasaamuh dan ta’adul.

Para pahlawan bangsa tentu akan sangat bangga jika airmata, keringat, darah dan nyawa yang mereka korbankan demi kemerdekaan mampu kita jaga dan kita pertahankan. Lebih membanggakan lagi jika kemerdekaan itu di-isi dengan pembangunan fisik dan mental nasionalisme yang melahirkan suasana kedamaian, menghargai pluralisme dan kebinnekaan, menjunjung tinggi humanisme serta menjalankan agama dan demokrasi tanpa sinisme dan ujaran kotor penuh kebencian.

Sebaliknya, arwah para pahlawan akan menangis kecewa di alam baka, menyaksikan wajah ibu pertiwi selalu tampak murung dalam kesedihan, lantaran melihat anak cucunya tidak lagi bangga dengan keanekaragaman adat, tradisi, suku, budaya, agama dan bangsa. Pluralisme dipandang suatu ancaman dan penghalang dalam menegakkan ‘khilafah’. Formalisme Islam dan syari’at-syariatnya menurut mereka perlu dicita-citakan dan diperjuangkan meski dengan cara-cara preman, frontal, anarkis dan radikal karena dianggap medan jihad yang mendapat legalisasi dari ayat-ayat Tuhan.

Inilah tugas berat KPS ke depan. Menyiapkan kader-kader tangguh yang cerdas dan visioner merupakan tahapan awal yang menjadi keniscayaan. Menyusun program dengan menggandeng dan melibatkan ulama’, umara’ dan kalangan akademisi untuk menunaikan tugas suci kepahlawanan sebagaimana ikrar yang dibacakan saat deklarasi di bundaran monomen Arlan. Berusaha menjadi geranat bersumbu pendek yang siap meledakkan semangat perjuangan ketika kekuatan non-pancasilais tiba-tiba merong-rong keutuhan NKRI, karena bagi KPS, NKRI adalah harga mati!

*) Penulis adalah ayah dari Miqdam Fathin, baru saja dibai’at menjadi anggota KPS, merupakan bagian dari Keluarga Besar Majelis Alumni IPNU Cabang Pamekasan, tinggal di Dusun Nyalaran, Blumbungan Pamekasan.