Kebersihan Itu Ada Batasnya

Catatan ini adalah pengalaman hidup yang baru saya sadari. Judul catatan ini, saya rasa sudah sangat mewakili apa yang ingin saya sampaikan. Kebersihan memang ada batasnya.

Tadi pagi, sebelum hujan, saya berangkat dari rumah ke tempat kerja. Sepanjang jalan, saya akan melewati dua rumah dokter yang membuka praktek umum. Tiga kantor praktek bidan, dan dua puskesmas.

Disalah satu rumah dokter yang membuka praktek umum, secara tidak sengaja, saya melihat seorang pembantu membuang sampah di luar pagar rumah. Seketika, saya terbesit banyak hal. Diantaranya, kebersihan ternyata memang ada batasnya. Batasnya di luar pagar.

Karena penasaran, saya berbalik arah. Kembali ke tempat seorang pembantu yang membuang sampah di luar pagar. Di depan rumah itu, ada selokan mampet karena sampah yang menumpuk. Tampak kotor.

Jika ada rumah yang bersih, bisa jadi batas kebersihannya ada di luar pagar. Jika ada kantor pemerintahan yang bersih, mungkin batas kebersihannya ada di gudang. Jika diumpamakan rumah, batas kebersihan dan kotornya masih mudah di lihat dan di bersihkan. Tapi bagaimana mengetahui batas “bersih” dan kotornya hati dan pikiran seseorang?

Secara logika, pikiran dan hati akan tetap bersih, ketika semua keinginan dan kehendak tidak ada yang menghalangi. Tidak ada yang merecoki. Tetapi ketika usaha merasa dicurangi, dihalang-halangi, hati mulai tidak bersih lagi. Setahu saya, sebagian dari kita selalu meyakini dan membenarkan apa yang diperjuangkannya. Meskipun yang diperjuangkan sudah pasti keliru.

Tidak mudah mengetahui batas “bersih” dan kotornya hati juga pikiran seseorang. Secara logika saja tidak cukup. Sebab logika selalu ditentukan oleh sudut pandang yang diinginkan. Itulah kenapa, tidak pernah ada ruginya berhati-hati. Termasuk berhati-hati menuduh kotor dan bersihnya hati seseorang.

Sumenep, 16 Nopember 2017

Penulis: Nur Kholis (NK) Gapura

Foto: istimewa