Teks dan Lombok

Oleh: Fathoni Ahmad

Sarjana Mesir, Nasr Hamid Abu Zayd (1943-2010) pernah mengatakan bahwa peradaban Islam adalah peradaban teks. Pandangannya itu tidak lepas dari aktivitas nalar umat Islam yang sejak dulu hingga saat ini mendasarkan diri pada teks.

Dari pandangannya itu, tidak heran ketika dia melihat peradaban ilmu pengetahuan di Barat lebih maju beberapa langkah ketimbang di kalangan Islam. Ia melihat dinamisasi ilmu pengetahuan di Barat berdampak pada lahirnya konsep empirik, bukan melulu teks.

Dari pandangan Nasr Hamid, saya merasa kritik tersebut bukan hanya ditujukan kepada umat Islam tetapi kepada kalangan Pesantren yang selama ini masih lekat dengan teks-teks karya ulama klasik berwujud kitab kuning.

Namun, prinsip keberadaan pesantren yang tidak lepas dari akar sosial masyarakatnya membuat pesantren tidak hanya wadah penguatan ilmu dan akhlak berdasarkan teks, tetapi juga sebagai wadah pemberdayaan dan solusi problematika umat.

Justru, tradisi teks yang berkembang di pesantren tidak lepas dari konteks masyarakat. Hal ini terlihat dari tradisi Bahtsul Masail di dunia pesantren dan Jam’iyah NU.

Teks yang dikaji dalam proses pengambilan hukum di Bahtsul Masail berangkat dari konteks atau realitas sosial di tengah kehidupan masyrakat, bangsa, dan negara.

Jadi, NU dan pesantren selama ini mampu mengkontekstualisasikan teks. Minimnya konsep empirik di kalangan umat Islam yang dituduhkan Nasr Hamid justru banyak dilahirkan ulama-ulama NU dalam melihat dunia dari dulu hingga kini dengan melahirkan banyak rumusan.

Persoalannya, dari sudut pandang mana Anda melihat sebuah peradaban. Bahkan label kemajuan peradaban sebuah negara bisa ditafsir ulang. Bisa jadi negara yang selama ini kita anggap maju, tidak lebih dari sekedar kumpulan manusia yang bingung melihat dunia.

Berbagai persoalan penting menyangkut kehidupan masyarakat dan negara bakal dibahas dalam Bahtsul Masail di Munas dan Konbes NU di Lombok, 23-25 November 2017. Senang sekali bisa menjadi bagian dari sejarah ini.

*Menuju Lombok*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *