Surat Terbuka untuk Ustadz Abdul Somad

Oleh: Halili Pashter

Ustadz Abdul Somad yang ganteng, mancung dan tamfan. Dulu waktu anda belum se-beken ini, sekali waktu saya menonton video anda saat membahas soal “cingkrang”. Saya simpulkan, anda bukan termasuk kaum garis cingkrang, juga bukan bumi datar, apalagi pendukung permaduan. Dan saat itu pula, saya jadi ingin mengikuti kajian-kajian keislaman anda.

Sayangnya, anggapan tersebut tak abadi. Ia bak asap tembakonya Denny Siregar, lenyap ditelan waktu. Saya mulai merasakan pahitnya kenyataan bahwa anda juga mirip-mirip tetangga sebelah. Bahkan kepahitan ini jauh lebih pahit dari kopi itemnya bang Denny.

Saya masih ingat saat anda membahas ulang tahun, anda menghajar praktik tersebut sambil menajamkan konsep mukmin-kafir. Sepanjang hidup saya, saya tidak pernah merayakan ulang tahun. Kita berhak tidak sependapat, tapi bukan berarti boleh melarang orang lain sambil terus memperuncing “perbedaan” yang memang tak bisa ditutupi.

Begitu juga saat anda membahas soal Bashar al-Asad. Anda mengatakan ia syiah, orang terburuk, terlaknat dan sampah dunia. Tak jauh beda pandangan anda soal Asad dengan para pemuja khilafah ISIS yang sudah hampir punah di Irak dan Suriah.

Padahal, setelah ISIS dan kroni-kroninya kocar-kacir, musnah dan dicampakkan oleh mamarika, wahyudi dan ngarab saudi, anda bisa lihat rakyat Suriah mempunyai harapan kembali untuk bangkit. Suriah akhirnya gagal di-Libya-kan, karena apa? Karena Asad didukung militer juga rakyat sipilnya. Kalau tidak, nasibnya tak akan jauh beda dengan Libya.

Meskipun demikian, sampai di titik itu, saya masih ogah menanggapi anda. Apalah saya, cuma ampas kopinya Denny Siregar, dibanding anda yang ustad, ganteng, mancung, juga tamfan.

Tapi, kemarin anda sudah membuat publik “eneg” dengan statement anda yang menjelekkan orang lain. Malah, hidung orang yang jadi sasaran cemoohan anda. Apakah seseorang salah mempunyai bentuk hidung yang mau tidak mau sudah begitu dari sejak lahir?

Apakah karena ia melepas hijabnya, lantas anda bisa seenaknya “melaknat” hidung seseorang dengan kata-kata “jelek”? Mengapa kebencian terhadap “hijrah”nya seseorang kita jadi menghakimi fisiknya yang memang takdirnya sudah seperti itu?

Anda ustad, anda alim, yang lebih pakar soal agama. Lalu apakah agama membolehkan kita menjelek-jelekkan fisik orang lain, lantaran sikapnya tak sesuai dengan pandangan keagamaan anda?

Setidaknya saya mengerti, kajian anda tak hanya membuat jamaah anda membenci “kelakuan” orang, tapi sekaligus membenci orang tersebut. Padahal, agama mengajarkan untuk membenci “perilaku” bukan orang yang berperilakunya. Itupun jika perilakunya memang salah.

Sekian dari saya.
Mewakili kaum berhidung pesek.

Foto: istimewa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *