Menguak Fakta; Catatan Muhibah Spiritual Moch Eksan

Sebuah perjalanan, bukan semata-mata melangkahkan kaki “mengukur “ jalan tanpa arti. Sebab di perjalanan, alam selalu menyediakan banyak hal atau kejadian manakjubkan hati, yang membuat perjalanan tak sunyi dari makna.

Konon para ulama salafus shalih tak jarang melakukan perjalanan jauh, dan dari situ sederet hikmah terpantik melalui kejadian-kejadian yang dijumpai. Misalnya, Saad bin Abi Waqash melakukan perjalanan ke Cina, Imam Bukhari juga “berkelana” ke mana-mana untuk memverifikasi hadis.

Nah, buku yang berjudul “Muktamar Ramadhan, Muhibah Spritual Indonesia-Mekkah Moch Eksan” ini intinya juga memuat catatan perjalanan Moch Eksan saat menunaikan Ibadah umroh beberapa waktu yang lalu.

Bukan sekedar catatan biasa. Sebab, Wakil Ketua PCNU Jember ini juga mengidentifikasi berbagai problema sosial yang terjadi dalam persinggungan hubungan Indonesia-Arab Saudi, berikut hikmah yang bisa dipungut dari persoalan tersebut.

Misalnya, di dalam tulisan berjudul “Post-Tardisionalisme Mekkah” Eksan menyoroti renovasi besar-besaran Masjidil Haram. Ia mengapresiasi karena perluasan Masjdil Haram akan menambah daya tampung jama’ah jauh lebih besar dari yang ada sekarang. Sehingga otomatis akan mengurangi waktu daftar tunggu jama’ah di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Namun di sisi lain, pembangunan yang diperkirakan menelan dana Rp. 1,310,1 Triliyun itu dilakukan secara membabi buta. Otoritas Arab saudi telah menghancurkan 95 persen situs-situs bersejarah yang sudah berusia 1000 tahun lebih “hanya” karena ingin memperluas masjid kebanggaan umat Islam dunia itu.

Sulit rasanya membedakan Mekkah sekarang dan Manhattan (AS). Di sini sudah berjejer gedung pencakar langit, misalnya Menara Abraj Al-Bait. Namun bagaimanapun kondisi Mekkah, Eksan meyakini ia tetap aman. Berbagai usaha dari rezim manapun mulai dulu sampai sekarang, tak akan pernah berhasil “menggempur” Masjidil Haram. “Bukan karena Masjidil Haramnya, tapi karena ada Ka’bah di dalamnya,” ucap Eksan (hal.33).

Soal TKI tentu saja menjadi bagian penting yang disorot Eksan dalam buku tersebut. Sebab, di Indonesia kata-kata Arab Saudi nyaris identik dengan TKI. Kebetulan saat itu, Sanuri, kawan lamanya di STAIN Jember.

Sanuri sudah 10 tahun tinggal di Mekkah sebagai TKI. Ia bekerja sebagai katibul funduq (sekretaris hotel) di Rubawy Buraydah Al-Qasim. Pria asal Banyuwangi tersebut menerima gaji 2.000 reyal/bulan. Biaya hidup seperti makan, akomodasi, transportasi ditanggung perusahaan.
Seorang TKI asal Jawa Barat yang bekerja sebagai sopir, gaji perbulannya 1.500 reyal. Itupun tanpa jam kerja yang pasti dan waktu libur yang cukup.

Menurut pengamatan Eksan, besar kecilnya gaji buruh di Arab Saudi tergantung pada kebijakan perusahaan atau kebaikan hati majikan di mana dia bekerja. Sebab, di Arab Saudi memang tidak ada regulasi yang mengatur soal itu. Hal ini berbeda dengan Indonesia, yang memiliki peraturan mulai dari soal standart gaji minimal, THR, waktu libur dan hak-hak buruh lainnya. Bedanya lagi, Arab Saudi menerapkan sistem gaji rendah bagi pekerja asing dan sistem gaji tinggi bagi tenaga kerja lokal. Namun Indonesia, justru sebaliknya, menerapkan gaji tinggi tenaga kerja asing, sementara gaji pekerja lokal, rendah. “Bahkan (di Arab Saudi) warga pengangguran sekalipun, honornya masih lebih besar ketimbang gaji PRT, yang berkisar antara 1.500 reyal hingga 1.750 reyal/bulan,” katanya (hal.40).

Buku yang disusun oleh Abdul Hady JM dan Ubaidillah Dzanoroyin itu juga memuat kisah lain seputar “penemuan” Eksan selama menjalani ibadah umrah yang kemudian dihubungkan dengan fakta-fakta lain yang berkelindan, bahkan perjalanan hidup pribadinya yang kental dengan nuansa ke-NU-an.

Buku yang tebalnya mencapai 84 halaman tersebut, laik dibaca khususnya bagi kita yang ingin mengetahui tentang “sisi lain” pelayanan Arab Saudi dalam spektrum yang lebih luas sekaligus hikmah yang bisa diambil dari sisi lain tersebut. Selamat membaca…!

Data Buku:

Judul : Muktamar Ramadhan, Muhibah Spritual Indonesia-Mekkah Moch Eksan
Penulis : Abdul Hady JM dan Ubaidillah Dzanoroyin
Tebal : VIII + 84 halaman
Cetakan I: Oktober 2017
ISBN : 978 602 6678 02-7
Penerbit : Santri Pustaka, Jl. Tambak Wedi I/12, Surabaya

Peresensi: Aryudi A Razaq

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *