Mengapa HTI Cenderung Menuai Perpecahan Umat?

MediaJatim.com – HTI memahami fiqh khilafah hanya dalam kerangka an-Nabhani. Kerangka lain selain an Nabhani tidak dianggap mu’tabar. Itulah kenapa di mana mana HTI akan selalu menuai perpecahan ummat walaupun ingin mempersatukan karena Islam dikerangkeng dalam pemahaman an Nabhani.

Mirip dengan Salafi Wahhabi. Karena membatasi Islam dalam kerangka berfikir Syaikhul Islam Ibn Taimiyah maka di manapun pasti akan menuai perpecahan ummat walaupun niatnya juga menyatukan.

Hal yang sama terjadi pada syiah. Karena membatasi pemahaman Islam pada ahlil bait versi mereka dan kurang menghargai yang lain maka mereka juga akan menuai perpecahan.

Yang “kasian” Sunni asli yang terdiri dari mayoritas ummat Islam pengikut empat madzhab. Ada di tengah tengah ditarik ke mana mana…

Tentu saja HTI akan mengutip ulama’ selain an Nabhani, Salafi Wahhabi akan mengutip ulama’ selain Ibn Taimiyah dan Syiah bahkan akan mengutip dari ulama’ ulama’ sunni. Namun kutipan itu dilakukan jika pendapat mereka sejalan dengan ulama’ mereka. Jika tidak sejalan maka akan dibantah dan bahkan dibantai (dengan alasan ikut al Qur’an dan Sunnah) atau disembunyikan dari khalayak awam.

Di sinilah amanah ilmiyyah (kejujuran ilmiah) menjadi penting. Saya ingat ucapan seorang ulama’ (saya lupa namanya) soal ciri ahlus sunnah.

يكتبون ما لهم وما عليهم
Mereka menulis pendapat yang pro dan kontra.

Ciri yang lain adalah
لا يكفر بعضهم بعضا
Tidak mengkafirkan satu sama lain.

Tidak saling menyesatkan dan tidak saling mengkafirkan adalah ciri ahlus sunnah. Perbedaan pendapat dianggap normal selama bukan menyangkut hal yang pokok dalam agama atau yang dikenal sebagai ma’lum minad din bidl dloruroh.

WalLahu a’lam.

Penulis: Ahmad Halimy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *