Pilih Gadis atau Janda?

Ketika pilihan terasa sangat sulit dan dilematis, seperti kesan dalam judul di atas, penting sekali kiranya untuk Istikharah. Menentukan salah satu diantara dua perempuan calon istri, yang satu masih gadis, sementara lainnya janda kembang.

Keduanya sama sama syantik, sama sama sempurna. Nyaris tak ditemukan kelemahan yang satu untuk kemudian menjadi pembeda diantara keduanya. Kecuali “pengalaman”. Tentu, si gadis kalah saing dalam bab ini. Soalnya si janda sudah pernah merasakan suka dukanya hidup berkeluarga.

Soal pengalaman, menjadi point yang cukup penting untuk dipertimbangkan dalam proses memilih. Sebab, pengalaman mengantongi “pelajaran” yang nilainya lebih dari sekadar belajar teori. Pengalaman adalah kenyataan yang pernah dirasakan sendiri oleh yang bersangkutan.

Dengan pengalaman, ia seperti memiliki cermin untuk menghadapi kenyataan hidup, bisa menjadi petunjuk jalan terang, bisa juga semacam koreksi diri yang bagus bila bertemu dengan, lebih lebih, keadaan yang sama. Keadaan di mana seseorang pernah alami sebelumnya. Ini tentu menjadi bekal mengarungi kehidupan berkeluarga.

Tidak berlebihan kiranya pribahasa, experience ia the best teacher (pengalaman adalah guru terbaik). Janda, memiki itu. Selain tidak segugup gadis di malam pertama yang menuai beberapa kesalahan, ia (janda) langsung bisa action. Tinggal menjalankan, tinggal melanjutkan. Itulah kelebihan janda.

Kalau begitu, pilih janda, dong? Tunggu dulu, pembahasan ini masih belum kelar.

Jadi begini. Jika janda memiliki pengalaman yang tidak dipunyai gadis, janda sudah tidak mungkin lagi memiliki apa yang dimiliki gadis. Meski begitu, gadis bisa memiliki (pengalaman) apa yang dimiliki janda dengan kemampuan belajar yang dimilikinya, yakni belajar kepada orang yang berpengalaman.

Karena untuk memahami betapa perihnya kena sembilu, tidak harus melukai diri, kan?

Untuk memahami sesuatu, kadang kita tak perlu merasakan sendiri. Dengan mengerti apa yang pernah orang alami bisa menjadi pelajaran berharga. Untuk itu, kalau baik ditiru, kalau buruk mbok ya ditinggal. Bukankah kita sering mendengar pesan moral Soekarno, yang dikenal dengan Jasmerah?

Sejarah itu pengalaman masa lampau. Peristiwa yang dialami para pendahulu kita, nenek moyang kita. Mereka pernah mengalami hidup tertindas, sengsara, dan miskin saat bangsa ini dijajah ratusan tahun. Pertanyaannya, apakah untuk merasakan hal yang sama (agar nasionalisme itu muncul) kita butuh di jajah kembali?

Tentu tidak. Dengan menjadikan pengalaman orang lain sebagai pelajaran berharga untuk kita, sebenarnya sudah mendapatkan separuh lebih pengetahuan dari yang didapat orang lain karena mengalami sendiri. Jadi, guru terbaik dapat ditemukan dari pengalaman itu benar. Meski tidak harus bernasib sama dengan orang yang pernah mengalami.

Selain pertimbangan pengalaman, ada rekam jejak (track record). Keuntungan yang didapat dari rekam jejak masa lampau, bisa dijadikan “pedoman” saat akan menjatuhkan pilihan. Nah, si gadis karena belum menikah maka tak ada catatan apapun, namanya juga belum apa apa dan belum di apa apain, kok!

Meski begitu, si gadis dengan full energinya ingin membuktikan bahwa dirinya layak dan mampu memenuhi ekspektasi.

Sementara si janda, ingatan orang akan dirinya bisa menjadi modal positif yang mengharumkan namanya, karena ia melakukan banyak kebaikan saat berkeluarga, baik kepada mantan suaminya, mertuanya, iparnya dan kepada banyak orang di sekitarnya. Artinya, ia layak jadi mitra keluarga bahagia.

Orang kemudian menilai, lepasnya ikatan perkawinan itu lebih pada soal takdir. Bukan karena perilaku ceroboh yang dilakukan oleh si janda. Sehingga banyak orang bersimpati, di satu sisi. Namun, bagaimana jika perceraian itu disebabkan oleh hubungan yang kurang sehat? Orang menyimpulkan, ini adalah kegagalan.

Gadis yang masih kinclong, jalas tidak punya beban apa pun di masa lalu. Tak ada dosa yang tersimpan di memori banyak orang. Karenanya tak ada stigma negatif yang bisa dieksploitir untuk menghambat laku si gadis. Seturut dengan itu, tak ada prestasi yang layak diunggulkan. Satu satunya keunggulan, ia tidak punya masa lalu pada saat yang lain (janda) bermasalah dengan masa lalunya.

Sampai di sini, masing bingung?

Menikah itu tidak hanya sepuluh menit dalam satu malam. Bukan hanya tiga malam dalam seminggu dan seterusnya. Menikah itu untuk membangun hubungan berkeluarga yang baik dan maslahat sampai beranak cucu. Jadi menikah itu untuk jangka panjang.

Demi jangka yang lama, menentukan pilihan calon istri harus benar benar dewasa. Bukan karena ngetren “janda lebih menggoda” lalu kesengsem janda. Awas, giliran ditinggal sama si janda, bisa nangis selama lima tahun lho, ya!

Sekian.

Penulis: Minhaji Ahmad, Pemerhati yang tinggal di Kabupaten Pamekasan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *