Bersama Razak: Yang Bangga Jadi “Manusia Manual”

Kemarin, saat berkunjung ke kota dingin Batu, aku bersama seorang kawan, namanya Razak. Dia adalah pribadi humoris dan sedikit entahlah. Meski bukan orang Mandarin, misalnya, setiap kali membayar uang tol, dia mengucapkan : kamsia.

Pertama kali mengucapkan kata “kamsia” di tol Suramadu, aku agak terkejut. Teman-teman yang lain bergemuruh. Sebagian ngecengin. Sebagian menirukannya sebagai candaan. Sebagian dari kami terbahak-bahak.

Sehari setelah berada di Kota Batu, Razak adalah satu-satunya orang yang memaksaku rehat. Lepas dari rutinitas, barang sebentar saja. Dengan mengenakan celana 3/4, juga dengan kantuk yang berat, aku masuk ke mobil. Dia membawaku dan teman-teman lainnya ke Paralayang.

Saat mobil mulai menanjak, hujan begitu deras. Dari kaca mobil, tak ada bentangan sawah atau sehimpun rumah yang bisa aku lihat. Semua ditutupi lebatnya hujan. Bahkan, juluran pepohonan yang tumbuh di sisi jurang tempat kami melintas, nyaris gulita. Hujan sangat deras. Ditambah lagi, jalan menanjak dengan kelokan tajam, juga air bah yang membawa kerikil di jalan yang kita lewati, membuat perasaan was-was.

Semua bisa terjadi. Termasuk mobil kami tiba-tiba oleng dan jatuh ke jurang. Rasanya mau mati. Tapi Razak terus slow. Saat aku sesekali teriak untuk berhati-hati, di tengah hujan lebat dan air bah yang membawa krikil, Razak terus semakin slow. Dia bahkan terus membuat candaan-candaan, yang bagiku sama sekali tidak perlu di momen semenegangkan ini.

Semua perjuangan terbayar sudah. Sebab sesampainya di Paralayang, kami foto-foto sepuasnya. Kebetulan hujan tiba-tiba reda, suasana dinginnya menyenangkan, dan keramaian muda-mudi, membuat tempat yang kami singgahi sangat menghibur.

Nah, tadi pagi sekitar 08.57 WIB, SMS dari Razak masuk ke handphoneku. Meski sering bertemu dan bersama-sama di gedung Dewan, aku belum menyinpan nomer handphonenya. Dia meminta foto selama di Paralayang. Aku janji jam 10an akan merapat ke gedung Dewan. Kamipun berdua sepakat bertemu.

Singkatnya, setelah bertemu, aku memberikan hardisk pada Razak. Kusampaikan, semua file foto saat di Paralayang kemarin, ada disitu. Razak memindahkannya ke laptop kantor.

Sambil menunggu copy-an file selesai, iseng-iseng aku tanya nomer WhatsAppnya. Razak bilang tidak punya. Aku tanya akun Facebooknya, dia menggeleng-gelengkan kepala. Aku tanya akun media sosial lainnya, Razak hanya ketawa, lalu menyakinkanku bahwa dia tak punya akun medsos apapun. Terakhir, untuk meyakinkanku, dia menunjukkan handphone jadulnya : Aku bangga jadi manusia manual, ucap Razak. Akupun berpikir, orang-orang modern selalu berlomba-lomba untuk sibuk. Orang manual tidak. Mereka slow, seperti Razak. 😂

Sumenep, 21 Desember 2017

Nur Kholis (NK) Gapura, Jurnalis asal Kabupaten Sumenep.