‌Gus Ipul vs Khofifah; Duel Rasa El Clasico ‌

Jika tidak bisa dikatakan terang benderang, setidaknya mulai sayup-sayup terdengar dan bahkan terlihat bahwa konstelasi Politik menuju Jatim Satu semakin hangat dan sedikit memanas. Indikasinya bisa dilihat dari baliho yang mulai banyak terpasang dan adanya berbagai pertemuan-pertemuan yang sarat politis dengan modus yang bervarian.

‌Pertemuan dan halaqoh atau apapun namanya mulai banyak terekam di Media sosial yang disponsori oleh para pendukung dan timses masing-masing calon. Amplop, kain, kerudung, sembako dan bahkan kopi politik sudah mulai tampak ke permukaan sebagai bagian tali asih dengan konstituen. Dan ironisnya gerakan ini sudah masuk ke berbagai tempat dan bahkan mulai menyelinap ke pesantren-pesantren.

‌Bisa dikatakan perhelatan pesta demokrasi di Jawa Timur ini terbilang menarik dan unik. Dua kader terbaik NU yang sama sama punya elektabilitas tinggi, pengaruh dan pengalaman tata birokrasi yang mumpuni, harus head to head dan kembali bersaing merebut tiket kursi Gubernur.

‌Sejauh yang penulis ketahui, baru ada dua nama familiar yang akan bertarung di Pilgub Jatim 2018, yaitu Gus Ipul (Saifullah Yusuf), Wakil Gubernur Jatim dan Khofifah Indar Parawansa, yang saat ini menjabat sebagai Mensos.

‌Ibarat pemain bola persaingan kedua sosok figur ini bagaikan Cristian Ronaldo dan Lionel Messi yang sama-sama punya nama besar dengan sederet prestasi luar biasa serta pendukung yang fanatik. Tetapi disaat yang bersamaan keduanya bakal bersaing ketat dan bahkan keras untuk merebut suara Nahdliyin yang menjadi mayoritas di Jatim, karena keduanya sama-sama kader NU. Sehingga kondisi ini dikhawatirkan bakal memunculkan friksi di antara warga Nahdliyin dan yang pasti pilihan akan terbelah.

‌Jika banyak orang berkata mestinya dua kader NU ini maju dalam satu paket Cagub dan Cawagub Jatim, tetapi penulis berpandangan lain, bahwa persaingan dua kader NU tersebut, mestinya diapresiasi baik khususnya oleh warga Nahdliyin Jatim. Karena jika paket Cagub/Cawagub hanya terdapat dua pasangan, dipastikan NU lah yang patut berbangga, karena akan punya kader sebagai orang nomor satu di Jatim .

‌Cuma satu hal yang harus menjadi catatan Warga NU dalam konteks ini, yaitu hendaknya para simpatisan dan timses sama-sama bisa menahan diri serta bisa bersikap dewasa dalam memberikan dukungan kepada para kandidat. Etika berkampanye dan aturan dalam berdemokrasi wajib dijunjung tinggi demi menghindari potensi keributan antar pendukung dalam mengawal pemenangan.

‌Lantas bagaimana seharusnya warga Nahdliyin dalam menentukan pilihan di antara keduanya? Khususnya bagi mereka yang tidak punya afiliasi langsung dan hanya berdasar pada ikatan emosional sebagai kader NU,..? Sementara pengetahuan mereka tentang track record keduanya sangat terbatas? Bisa jadi mereka bingung dalam menjatuhkan pilihan bagi dua calon Gubernur tersebut yang dianggap berkualitas sama.

‌Ibarat orang yang ingin menikah, pemilih type seperti ini layaknya seorang laki laki yang terjebak pada dua pilihan untuk disunting; yang sama-sama masuk kriteria; cantik dan menarik, tapi miskin data dan informasi.

‌Ijtihad Politik dalam Memilih

‌Keseriusan dalam memilih pemimpin merupakan bentuk riil mengaplikasikan kepedulian terhadap kondisi sosial-masyarakat. Dalam hal ini Ibnu Taimiyah berpendapat: “Sesungguhnya memimpin manusia merupakan kewajiban yang paling utama, bahkan tidak tegak urusan agama dan dunia kecuali dengan adanya kepemimpinan”. Maka memilih pemimpin menurut Ibnu taimiyah menjadi kewajiban agama dan ibadah kepada Allah SWT.

‌Oleh karena itu memilih merupakan tanggung jawab moral kita bersama untuk mendapatkan calon terbaik di antara yang baik. Dalam teori umum disebutkan bahwa kecerdasan dalam memilih menjadi suatu yang niscaya.

‌Mengingat peran kepemimpinan sangat vital dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, masyarakat seharusnya hati-hati memilih pemimpin. Kesalahan menentukan pilihan selama lima menit dalam bilik surat akan turut menentukan nasib kehidupan bangsa lima tahun mendatang.

‌Agar tidak salah dalam memilih, cara cerdas yang perlu diperhatikan dan kita ikuti. Pertama, pilihlah pemimpin yang terbaik yang dianggap bisa menjaga amanah, bertanggung jawab, dan berkomitmen terhadap ajaran agamanya.

‌Kedua, shalat Istikharah dan bermusyawarah. Dalam agama sangat dianjurkan melalukan shalat Istikharah ketika kita ragu dan bimbang dalam menentukan pilihan, termasuk soal memilih Calon Gubernur. Dalam hal ini Rasulullah SAW bersabda “Tidak akan pernah kecewa orang-orang yang beristikharah dan tidak akan pernah menyesal pula orang-orang yang suka bermusyawarah”. (HR Ahmad).

‌Ketiga, hendaknya bertanya kepada ahlinya atau orang yang mengenal sepak terjang dan latar belakang calon pemimpin yang akan dipilih. Allah SWT menegaskan, “Maka bertanyalah kepada ahli ilmu jika engkau tidak mengetahui.” (QS an-Nahl [16]: 43).

‌Menurut penulis andai saja calon Gubernur hanya terdapat dua paslon Gus Ipul dan Khofifah, warga Nahdliyin tak perlu menghabiskan banyak energi untuk menentukan pilihan, cukup dengan ijtihad spritual politik masing masing melalui shalat istikharah seraya mohon kepada Allah diberi keyakinan memilih yang tepat dan baik untuk memimpin Jawa Timur ke depan.

‌Oleh karena itu wajib hukumnya kedua kader NU ini, berikut timses dan pendukungnya bersaing secara fair, jauhi black campaign, hindari saling caci maki dan saling menjelekkan, apalagi sampai beradu jotos, toh siapapun yang menang di antara keduanya, sejatinya warga Nahdliyin yang menang, kecuali kalau ada calon alternatif lain selain kader NU yang bikin keduanya terjungkal, semoga tidak…

‌Wallahu A’lam,…


‌_______________________

Abba Ibnu Zumra
‌Alumni PP. Annuqayah Latee,
‌Asli Campaka, tinggal di Ganding Sumenep Madura.

Foto: suaramuslim.net

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *