Sekolah Frenda, Sang Juara Lagi

“…Tapi Frenda bukan pendekar. Dia hanya anak pesisir yang nasib baiknya pelan-pelan terbakar di tempat dia belajar.”

Namanya Frenda Aulia Pramudita. Teman-temannya memangggil Iren. Dia siswi kelas 4 Sekolah Dasar Negeri Legung Timur III, Desa Pesisir Legung Kec. Batang-Batang Kab. Sumenep.

Pada lomba lari 1 000 meter di agustusan beberapa waktu lalu, Frenda mendapat juara satu tingkat kecamatan. Lomba itu adalah yang pertama dia ikuti. Menurut sang guru, Frenda tipe anak yang pemalu. Namun dia jago silat dari salah satu perguruan.

Di antara teman-teman sebayanya, Frenda tampak lebih cekatan, lebih luwes dan murah senyum. Saat diantara kami memintanya untuk swafoto, Frendalah yang mengompori teman-teman yang lain untuk terlibat.

Setiap hari, Frenda satu kelas dengan teman-teman lainnya. Kebetulan, murid sekolah itu tidak begitu banyak. Hanya 12 orang. Jumlah itu, dari kelas 2 hingga kelas 6. Namun saat kami datang, Frenda hanya bersama keenam kawannya. 7 orang lainnya tidak masuk sekolah.

Karena jumlah siswa yang tidak banyak, pihak sekolah berinisiatif mengumpulkan semua siswa di dalam satu kelas. Dalam beberapa tahun terakhir, seluruh siswa dari kelas 2 hingga kelas 6, dijadikan satu Rombel (Rombongan Belajar). Setiap hari, seluruh siswa berkumpul. Belajar bersama, semua pelajaran.

“Iya. Pembelajaran menjadi ramai. Semua kelas ngumpul.” Jawab Frenda, malu-malu saat kami tanyai.

Yang tidak bisa dibayangkan adalah, bagaimana pelajaran itu dimulai dan bahkan di akhiri? Bagaimana pembelajaran itu dibedakan? Untuk kelas 2 atau untuk kelas 4 dan sebagainya?

Di sekolah ini, gurunya pun hanya dua orang. Satu guru olahraga dan seorang lainnya kepala sekolah. Setiap hari, mereka berdua saling bahu membahu.

“Kami hanya berdua saja. Sudah cukup lama.” Jawab Pak Salamet dengan sungkan. Dia kepala sekolah tempat Frenda belajar.

Kelas untuk Frenda dan kawan-kawannya pun, tidak begitu menyenangkan. Betapa tidak, pembelajaran untuk semua siswa dilakukan dalam satu kelas saja. Dan, kelas itupun masih disekat. Karena separuh ruangannya digunakan untuk ruang guru.

Dan tidak kalah ironi, saat kami hadir, langsung disambut bau menyengat. Kami pun segera tahu bahwa, setiap hari, halaman sekolah itu dijadikan tempat untuk menjemur bahan terasi. Bau menyengat itu tidak bisa kami hindari. Dalam benak terbesit, bagaimana anak-anak kami nyaman dalam kondisi yang serba menyengat ini?

Sesampaikan di tempat kerja, lewat telephone, kami berusaha menghubungi Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kab. Sumenep, Pak Fajarisman. Sepintas, kami tangkap dua kabar yang tidak kalah ngilu dari kondisi sekolah Frenda.

Pertama, menurut Kabid itu, sekolah dengan jumlah siswa yang minim dan fasilitas yang memprihatinkan, memang banyak di Kabupaten kami. Bahkan, Kabid itu menyebutkan salah satu kecamatan lain, yang tak kalah sedikit siswanya dan fasilitasnya tak kalah memprihatinkan.

Kedua, Kabid itu pun menyebutkan bahwa, semua pengembangan dalam semua bidang, seperti yang dialami Frenda beserta kawannya yang lain, oleh Dirjen pendidikan, sepenuhnya ditanggungkan kepada daerah. Kami pun pesimis, kualitas pendidikan dan infrastruktur untuk memberi rasa nyaman dalam belajar pada Frenda dan kawan-kawannya, tidak akan mudah teratasi.

Frenda menjadi juara lari. Namun sekolahnya miris dan selalu ada bau yang menyengat sekali. Frenda adalah juara. Namun kondisi pendidikannya, diam-diam menjadi petaka. Semestinya di tempat yang baik Frenda belajar. Menyandingkan ribuan mimpi untuk dikejar. Tapi Frenda bukan pendekar. Dia hanya anak pesisir yang nasib baiknya pelan-pelan terbakar di tempat dia belajar.

Legung, 02 Januari 2017

Nur Kholis (NK) Gapura, Jurnalis Muda asal Kabupaten Sumenep.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *