Generasi Ndeso Itu Rahmat dari Allah

 

Mengawali catatan sederhana ini, saya rasa, perlu memberikan definisi, apa yang dimaksud generasi ndeso. Defisini ini, mungkin akan terkesan sangat sepihak. Apalagi selama ini, saat kata “ndeso” diujarkan oleh seseorang, saya mendengarnya tidak lebih sebagai orang yang terbelakang dan katrok belaka. Padahal tidak.

Hemat saya, generasi ndeso adalah pemuda desa yang secara sadar dan suka rela, berkenan mengikuti ritme kehidupan di desa yang menyenangkan dan mengalir begitu saja. Tidak banyak intrik dan politik. Apalagi saling sirik dan saling usik.

Semisal, generasi ndeso itu ikut memelihara ternak; sapi atau kambing, misalnya. Rutin menyabit rumput di tegalan atau sawah. Ikut tahlilan, dan selalu ada kala kerabat lain sedang ada keperluan. Umpamanya saat membangun rumah, hajatan dan keperluan lain. Mereka dengan suka rela membantu.

Generasi ndeso, tidak hanya karena bermukim di desa saja. Sebab yang makan dan minumnya di desa sekalipun, kadang begitu tenar kenakalannya di kota. Yang bermukim di desa, kadang lebih menakutkan dari jawara-jawara di perkotaan. Generasi ndeso tidak demikian.

Kadang, generasi ndeso, baru tujuh bulan sekali jalan-jalan ke kota. Itupun karena ada keperluan yang tidak mengada-ngada. Misalnya menjenguk kerabat yang dirujuk ke rumah sakit di kota, atau membeli emas dari hasil ternak dan bertaninya. Mereka tidak neko-neko. Di desa saya pun, tidak semua termasuk kategori generasi ndeso. Sebab memang ada sebagian yang mainnya jika tidak ke kota, merasa belum apa-apa. Belum puas.

Di desa saya, yang termasuk generasi ndeso, bisa dihitung dengan jari. Kebanyakan dari mereka adalah pasangan yang menikah dini. Misalnya, Sofyan dan Aai, Darsis dan Sari, Zammil dan Titin atau Atmoni dan Mila. Hemat saya, dalam keseharian, hidup mereka sudah ndeso sekali. Mereka pemuda pemudi yang tidak sungkan mengerjakan hal-hal ndeso seperti yang saya utarakan diatas.

Setiap pagi, misalnya, saat saya jalan-jalan di perempatan paving di depan rumah, saya sering menyapa Darsis yang sudah membawa rumput yang disabitnya. Kadang juga, saya sudah menyapa Zammil yang hendak berangkat ke sawah untuk menyiangi padinya. Saat duduk di teraspun, pagi hari, kadang Sofyan sudah menyapa lebih dulu dengan satu sok besar berisi rumput di sepedanya.

Melihat wajah mereka, satu persatu, meski tidak bersamaan, ada kedamaian yang sungguh-sungguh. Ada kepasrahan untuk menjadi generasi ndeso yang seutuhnya, yang tidak dibuat-buat. Apa adanya. Tipikal kesungguhan yang tidak dibuat-buat itulah, saya rasa menjadi rahmat dari generasi ndeso ini.

Bagi generasi ndeso, mereka merasa tidak perlu hidup penuh intrik, politik, sirik dan prilaku licik yang mudah kita jumpai, bahkan di layar televisi. Mereka cukup mengerjakan hal-hal yang lumrah, layaknya di desa yang damai, tentram dan guyub. Mereka mengerjakan tanggung jawabnya sebaik mungkin dan mensyukurinya.

Setahu saya, mereka memang agak jauh dari hingar bingar kehidupan modern. Tentang gadget, media sosial dan hal-hal ngehits lainnya. Bukan berarti mereka menutup diri atas itu. Namun mereka tidak ada ketergantungan dengan itu. Menurut mereka, ada yang lebih perlu untuk didahulukan. Bertanggung jawab sebagai generasi ndeso.

Di setiap desa, pasti ada generasi ndeso, yang mungkin selama ini selalu jadi bahan bullyan, karena keterbelakangannya, keluguannya, atau senyum tulusnya yang tak mengandung intrik politik sedikitpun. Padahal, jika sejenak kita mau menyadari, keberlangsungan dan “keaslian prilaku” di desa kita, bergangtung pada generasi ndeso yang baik. Jadi, sudah selayaknya kita mengakui bahwa generasi ndeso adalah rahmat yang Allah berikan untuk menjaga desa kita.

Gapura, 05 Januari 2018

Nur Kholis (NK) Gapura, Wartawan MediaJatim.com asal Kabupaten Sumenep.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *