Susah Berusaha Curiga Sebaik Mungkin

:Kepada Kepala Dinas yang Kami Hormati

Seorang kawan seprofesi, mengajak saya untuk bertemu salah satu Kepala Dinas di lingkungan Pemkab Sumenep. Menurut cerita yang disampaikan, sehari yang lalu, dia telah membuat janji dengan Kepala Dinas yang hendak kami temui. Sekitar jam sembilan lebih, kami bertiga berangkat.

Menjelang sampai ke kantor dinas yang dituju, diatas sepeda motor, kawan yang membonceng saya nyeletuk. Menurutnya, kepala dinas dirasa tidak sedang di kantor. Mobil dinasnya tidak ada. Mungkin sedang ada tugas di luar. Namun dengan lekas saya menjawab: wes lah. Coba’ gallu. Pola badha. Tidak lama, sepeda motor kamipun parkir di halaman kantor. Kebetulan, kantor dinas ini berurusan langsung dengan warga miskin.

Setelah masuk, saya langsung menuju meja resepsionis. Sementera dua kawan lainya duduk, tidak jauh dari pintu masuk kantor. Di meja resepsionis, tidak ada satupun petugas jaga. Saya pun heran. Iseng-iseng saya pasang gaya berpikir garis keras: Tidak ada petugas resesionis. Apa kantor ini tutup? Saya pun menahan diri.

Namun, tepat di depan saya berdiri, dekat meja resepsionis, ada dua ASN yang sedang serius berbicara. Sejak awal saya masuk, ekspresi keduanya seakan tidak ingin ditegur sapa oleh saya. Lirikan mereka seperti lirikan yang tidak ingin diganggu ngobrolnya. Saya menghormati itu. Saya pun diam. Berdiri menunggu petugas jaga resepsionis datang. Sesekali, saya melihat kedua teman saya yang sedang duduk. Di dekat merekapun ada kurang lebih tiga ASN. Merekapun terlihat tidak ingin ditegur. Nyaman dengan handphone masing.

Mungkin karena kasihan, atau lebih miris dari itu, salah satu ASN yang tidak ingin diganggu itu pelahan berdiri menanyai saya. Saya utarakan untuk bertemu Kepala Dinas. Ternyata ASN itu tidak tahu keberadaan Kepala Dinas. Dengan lekas saya bertanya: Bapak pegawai disini? ASN itu menjawab iya. Lho kok? Saya pura-pura bersikap biasa saja. Dan, rasanya kejadian-kejadian seperti ini memang sudah biasa. Anak ayam yang tidak tahu induknya kemana, dan happy-happy saja, mungkin hanya di dinas. Mungkin.

Singkat cerita, karena dipastikan Kepala Dinas sedang tidak di kantor, kami bertiga pamit. Namun sebelum pamit, kami mendapat jawaban yang berbeda-beda tentang keberadaan Kepala Dinas. Satu pengawai menyebutkan Kepala Dinas sedang rapat di Pemkab, dan satu pengawai lain menyebutkan sedang ta’ziyah ke salah satu kerabatnya. Nah! Bagaimana jika Kepala Dinas tidak sedang rapat di Pemkab dan tidak pula sedang takziyah? Saya rasa, memang susah curiga sebaik mungkin pada Kepala Dinas.

Pernah sekali waktu, saya menjumpai lebih dari dua alasan yang berbeda tentang keberadaan Kepala Dinas. Satu pengawai menyebutkan ada acara di Pemkab, satu pengawai menyebutkan sedang sakit dan satu pengawai lainnya bilang ‘sedang anu, Mas. Pegawai itu bingung untuk melanjutkan. Saya kan jadi bingung! Dan memang agak susah curiga dengan sebaik-baiknya pada kepala dinas. Lalu harus bagaimana?

Sumenep, 09 Januari 2018

NK Gapura, Jurnalis Muda Kabupaten Sumenep.