Saat Bupati Sumenep Tiup Lilin

Tentu saja, tidak ada yang perlu dipersoalkan saat seseorang meniup lilin. Saat ulang tahun, misalnya, wajar seseorang merayakannya dengan meniup lilin diatas kue tar. Sudah lumrah. Kekinian. Toh itu juga tidak merugikan orang lain.

Siapapun berhak dan bisa melakukan hal itu. Apapun status sosialnya, dimanapun seseorang itu tinggal, jika ada keinginan, silahkan meniup lilin. Kemarin, Bupati Kab. Sumenep sekalipun, juga tiup lilin saat ulang tahun. Bahkan dari foto yang diunggah di media sosial, tiup lilin itu dilakukan di beberapa tempat. Salah satunya sambil melepas balon ke udara. Menandakan usia Pak Bupati genap 57 tahun.

Meniup lilin saat ulang tahun, biasanya selalu seru. Ada tepuk tangan. Ada banyak senyum yang mengembirakan. Ada orang-orang terkasih. Kerabat dekat serta undangan lainnya. Dan, jika ada warga pinggiran yang bernasib baik, terundang di momen itu, makan-makan gratis selalu jadi tujuan utama.

Menilik betapa bahagianya meniup lilin di atas kue tar, menjadi tidak perlu mengingat beberapa pendapat lain yang tidak setuju dengan momen membahagiakan itu.

Misalnya, hasil penelitian dari Clemson University di Carolina Selatan, AS, yang di publish di Journal of Food Research menyebutkan, betapa joroknya orang yang meniup lilin diatas kue. Karena meniup lilin, termasuk lilin diatas kue tar ulang tahun, meningkatkan jumlah bakteri pada kue sebanyak 1.400 persen. Jorok, wes lah. Itu urusan belakang. Asal bahagia.

Sekali-kali, perlu juga tutup telinga dan pasang gaya lupa dengan beberapa pernyataan lain, yang kontra atas meniup lilin itu.

Misalnya lagi, seseorang yang ulang tahun, bahkan bupati sekalipun, cukuplah beranggapan bahwa meniup lilin tidaklah serupa dengan mitologi Yunani kuno, saat menyembah dewi Artemis. Selain itu, anggap saja meniup lilin tidaklah sama dengan prilaku orang Majusi.

Untuk melengkapi itu, anggap juga bahwa hadist Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, adalah hadist mudraj; hadits yang menampilkan (redaksi) tambahan, padahal bukan (bagian dari) hadits.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Barang siapa yang menyerupai dengan suatu kaum, maka ia bagian dari kaum itu.” [HR. Abu Daawud]

Melupakan dan pura-pura lupa pada sesuatu bisa menunda kebahagiaan, itu hal yang mudah. Sebab yang paling sulit, mungkin, mengurangi kebahagian yang semestinya didapatkan.

Saat meniup lilin, anggap saja sedang berusaha membahagian diri dan orang lain. Dan, berbaik sangkalah bahwa Allah memberikan maaf atas seseorang yang sengaja menyerupai kaum lain itu.

Lagi pula, Rasulullah juga merayakan ulang tahunnya sendiri. Tapi dengan cara sederhana dan anjura yang berguna. Dalam sebuah hadist disebutkan, artinya kurang lebih demikian: Nabi ditanya oleh seorang sahabat, kenapa berpuasa pada hari ini Ya Rasulullah? Jawab Rasulullah, hari ini aku lahir, boleh bersyukur pada hari kelahiran, tanggal kelahiran, atas nikmat umur, muhasabah diri, ke rumah anak yatim membawa nasi bungkus.

Kala itu, nabi tidak meniup lilin. Mungkin karena belum kekinian. Cukup dengan berpuasa. Nabi pun tidak merayakannya dengan orang-orang terkasih. Mungkin karena banyak cara lain untuk membahagiakan mereka, dengan cara islami. Wallahua’lam.

Lepas dari semua yang dituturkan, sejak dari awal catatan ini, pilihan harus tetap ada. Sebab itulah pijakan awal untuk berusaha bahagia. Meskipun memang, tidak semua kebahagian itu benar. Wallahua’lam.

Gapura, 11 Januari 2018

NK Gapura, Jurnalis Muda Kabupaten Sumenep.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *