Menjebak Diri dengan Tua dan Muda

Kalau dalam kontestasi Pamekasan sibuk dengan tua-muda, maka tidak usah ada strategi politik. Cukup, Pan Bihah yang sudah usia delapan puluh sembilan (89) tahun ikutkan dalam kontestasi pilkada, dijamin menang. Kalau masih ada, cari stok yang lebih tua lagi. Karena semakin tua, kemungkinan menang akan semakin besar.

Kalau semua orang mengukur tua sebagai simbol dari kesempurnaan, baik otak dan otot, mari pada kontestasi yang akan datang semua partai mencalonkan kandidat yang paling tua. Semacam kontestasi para orang tua. Kalau perlu dalam proses seleksi kandidat yang akan diusung, sertakan syarat usia minimal sembilan puluh (90) tahun.

Paling penting tua. Hal lain dari usia seperti karakter dan kemampuan intelegensi bungkus rapi masukkan karung, kalau sudah matang, baru keluarkan. Abaikan hal apapun yang akan membuat tua menjadi tidak berarti dan berguna.

Semakin memasuki era post modernisme, hal-hal rasional sebaiknya harus ditinggalkan. Kecakapan dan hal lainnya tidak dapat bagian dalam kontestasi pilkada. Selebihnya, yang muda harus sopan selama masih ada yang tua. Lalu, ubah slogan Bung Karno menjadi, “Beri saya sepuluh orang tua”. Jadi, dengan hormat bagi yang muda, kalau masih ada yang tua, silakan mundur teratur.

Dalam konteks ini, tua sebaiknya bukan hanya persoalan kepemimpinan di daerah. Pun dalam segala bidang, harusnya demikian. Tua harus prioritas utama. Baik urusan pemimpin dalam partai, dalam pemerintahan, dan dalam organisasi apapun. Pokoknya yang berbau kepemimpinan, harus diisi oleh para orang tua.

Kalau masih ada yang lebih tua, jangan sekali-kali yang muda berambisi berada di pucuk pimpinan. Itu artinya kurang sopan, tidak berakhlak.

Pemikiran kok yang aneh-aneh. Bukannya mau berpikir inovatif dengan varian visi misi. Hari gini masih sibuk mengukur tingkat kualitas seseorang dengan usia. Atau barangkali sudah menemukan jurnal ilmiah yang berjudul, “Peran Pemimpin Tua Dalam Meningkatkan Prestasi Daerah” yang mengupas perbandingan keberhasilan kepemimpinan tua dan muda.

Kalau bagi saya, jangan menciptakan bumerang dengan terjebak berbicara tua dan muda. Sebab, berbicara orientasi pembangunan dalam kurun waktu ke depan itu lebih penting. Tunjukkan dalam visi misi yang konkret, dan sangat mungkin untuk bisa direalisasikan.

Wallahu a’lam!

Pamekasan, 24 Januari 2018

Musannan, Aktivis Kolom Ilmiah Al-Ghazali Kabupaten Pamekasan.