Bahaya Vaksinasi dan Determinasi Ekonomi

Orangtua mana yang tidak kaget mendengar anaknya sakit? Apalagi dibawa ke rumah sakit, ditambah lagi penyebabnya adalah program pemerintah bernama “vaksinasi rubela dan difteri”. Orang awam tentu baru saja mendengar nama penyakit itu. Padahal, uang negara sudah mulai menipis untuk program tersebut.

Entah apanya yang salah, katanya vaksinasi merupakan salah satu hasil temuan terhebat dunia medis, sejak 1960an sejarah dunia sudah membuktikan bahwa penyakit campak, polio, dll mampu diberangus dengan vaksinasi tersebut.

Namun, data tersebut terbantahkan ketika semalam, jam 23.00 WIB kami dikagetkan dengan informasi dari pengurus pondok pesantren Al-falah Sumber Gayam Kadur, Pamekasan. Bahwa, puluhan santri terpaksa dilarikan ke rumah sakit mengingat santri tersebut kejang-kejang, panas, dan muntah-muntah.

Telisik punya telisik, ternyata kemarin pagi baru selesai vaksinasi difteri, sontak orang tuaku marah, “Riteri itu apa? Kenapa harus disuntik riteri?” Saya pun hanya bisa menjelaskan luarnya saja, bahwa ini takdir Allah yang harus dijalani.

Pikiran nakal pun mulai mencoba meraba-raba, mungkin ada yang salah dari vaksinasi kali ini, entah vaksin palsu, petugasnya salah suntik, kondisi kekebalan anak atau memang vaksinasi ini merupakan konspirasi global dengan motif bisnis belaka.

Secara teori ekonomi, tentu permintaan semakin banyak, harga akan semakin mahal, san hasil juga akan semakin segudang. Toh jika dilihat dari kondisi adik saya yang terkapar di rumah sakit akibat suntik vaksinasi difteri, tentu analisis ekonomi lebih tepat dalam meraba vaksinasi ini.

Kopi lagi…!!!

Sayapun jadi inget beberapa waktu lalu saat berdiskusi dengan salah satu kawan, ia menyatakan bahwa manusia adalah makhluk sempurna, tanpa vaksinasi apapun sekalipun. Namun manusia selalu merasa benar dengan setumpuk alasan, sehingga memodifikasi alat-alat untuk mendapatkan keuntungan pribadi, kelompok maupun golongan. Ia-pun menambakan, “lihat saja perang di dunia, pasti alasannya selalu manusiawi, padahal dibalik semua itu pasti ada motif ekonomi”.

Ah, saya yg mencak-mencak melawan dengan teori, akhirnya harus puas, bahwa motif ekonomi pastilah besar dalam vaksinasi apapun. Sayatan pernyataan dalam hatipun ikut menetangku “bukankah determinisme ekonomi begitu besar mempengaruhi ruang berpikir manusia?” Di mana tanpa keuntungan tentu manusia tidak akan berbuat apa-apa.

Kopi lagi, biar ngak kering tenggorokan aaaahhhh…!!!!

Faridi Gie, Dosen muda asal Kabupaten Pamekasan.