Sekali Tentang Visit Sumenep

Tadi, katanya ada Batik on The Sea di Pantai Lombang, sebuah pantai yang dulu diagung-agungkan tapi sekarang disaingi oleh “Wisata” Tambak Udang, tepat ratusan meter di sebelah timurnya. Limbah industri ini mengalir kenceng ke laut, membuat hitam laut. Fakta ini terselip tak terlihat di tengah mungkin gemerlap Baik on The Sea, yang juga katanya mendatangkan artis.

Tapi saya tak akan masuk sama isu Batik on The sea. Saya akan menyoal, visit ini sebenarnya untuk siapa? Jangan sampai visit ini dikendalikan oleh orang atau kelompok yang hanya mau mengambil keuntungan ekonomi dari desa, dengan menjadi penumpang gelap isu visit.

Sambil bersembunyi di balik isu visit, lahan-lahan desa habis. Habisnya lahan bukan sekedar soal biasa, tapi kita maknai sebagai perampasan ruang. Ruang sosial, ekonomi, dan kebudayaan dimana orang desa secara komunal dan guyub akan terampas, sejak tanah itu dikuasai pemodal.

Entah dari mana asal pemodal, orang desa tidak pernah tahu. Cuma mereka sakti, dengan modal dan kuasa, mereka seenaknya (akan) merubah ruang, mengenalkan satu kehidupan baru, ekonomi culas dan kehidupan dimana kebudayaan hanya barang dagangan. Desa, dengan demikian, menjadi ruang jajahan, atas kedok “wisata akan meningkatkan perekonomian orang desa”. Ini bukan isu. Tidak hoax. Silahkan tanya kepada penduduk di sana, apakah lahan di lokasi wisata masih dimiliki warga?

Sejak awal, kita meminta agar master plan wisata dibuka. Biar publik tahu, bagaimana di tiap desa yang menjadi destinasi wisata didesain? Siapa yang akan menguasai home stay, transportasi, kuliner, dan segenap infrastruktur pariwisata lainnya? Warga atau siapa?

Nah, di sini penting sekali lagi dan secepatnya gagasan pariwisata berbasis warga dibicarakan dan dirancang serius. Hanya dengan gagasan begini, pariwisata barangkali akan memberikan kemanfaatan utamanya di sektor ekonomi, tanpa warga desa dihantui ruang hidupnya terampas, termasuk lahannya.

Salam

ADZ, Pemerhati Lingkungan dan Aktivis NU.