Ning Aida; Jejak Langkah Kaum Santri Meretas Karir Politik

Aida Lutfiah, namanya. Wanita berkacamata ini lahir dari pasangan H. Abdul Azis dan Hj. Khalifah ketika kalender menunjuk pada angka 12 Maret 1976 di Tanggul, Jember.

Sejak kecil, ia tumbuh dan besar di lingkungan yang kuat tempaan keagamannya. Maklum, ia adalah cucu KH. Abdul Faqih, pendiri Pondok Pesantren Nurul Huda, Desa Pondok Joyo, Kecamatan Semboro, Jember.

Perjalanan hidup Ning Aida –sapaan akrabnya– memang tak jauh-jauh dari pesantren. Memasuki usia remaja, ia nyantri di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Probolinggo. Di pesantren yang terletak di Kecamatan Paiton itu, ia mengenyam pendidikan Madrasah Aliyah.

Keluarga besar Ning Aida sangat konsen terhadap pendidikan anak-anaknya. Ini tentu tak lepas dari pemahaman mereka tentang betapa pentingnya pendidikan. Karena itu, dukungan untuk Ning Aida tak pernah sunyi.

Selepas dari Nurul Jadid, Ning Aida melanjutkan ke STAIN Jember mengambil jurusan Pendidikan Bahasa Arab. Tidak cukup sampai di situ, ia pun melanjutkan ke Pasca Saraja IAIN Jember dengan memperdalam Manajemen Pendidikan Islam.

Sampai di sini, logika mengatakan bahwa secara linier ‘bakat’ Ning Aida adalah mengajar, dosen dan sebagainya. Namun garis takdir berbicara lain. Justru dalam perjalanan berikutnya, ia lebih banyak bersinggungan dengan dunia politik. Sebuah dunia yang digeluti suaminya, Moch Eksan.

Jelas peran Ning Aida tak bisa dianggap sepele di belakang kesuksesan Moch Eksan, sejak mulai dari menjadi anggota KPUD Jember, Ketua DPD Partai NasDem hingga akhirnya terpilih sebagai anggota DPRD Jawa Timur. Dari ‘pergumulan’ tersebut, ibu dari Dzaki Rabbani Ramadhan dan Rizqina Syawala Fitri ini, akhirnya mantap untuk terjun di dunia politik mengitu jejak sang suami. Posisi barunya sebagai Ketua Garnita Malahayati NasDem Jember, jelas sebuah indikasi bahwa politik menjadi pilihan Ning Aida.

Ning Aida, adalah satu dari sedikit wanita yang berlatar belakang santri yang mencoba meretas karir di dunia politik. Baginya, apapun yang menjadi pilihan karirnya, tentu itu tak boleh mengabaikan tugas primernya sebagai istri dan ibu dari dua anaknya.

“Suami dan keluarga adalah nomor satu. Kerja politik atau apapun, harus diniatkan untuk ibadah. Dan insya Allah tak ada yang sia-sia,” ucapnya suatu ketika.

Layar sudah terkembang dan sauh telah dilepas, itu pertanda perahu akan segera berangkat mengarungi samudra yang maha luas. Itulah posisi Ning Aida sat ini. Nakhoda yang ulet tak mudah menyerah meski gelombang siap menghadang. Semoga sukses. Alfun mubaarok lakum….!

Reporter: Aryudi A Razaq

Redaktur: Sule Sulaiman