Antara Budaya Zaman Old dan Zaman Now

Saat ini dunia semakin berlari tanpa ‘campur tangan’ Tuhan lagi atasnya. Dunia seakan tak terkendali. Dunia telah menghadapi lost culture, sebuah budaya yang hilang. Realitas hakiki telah digantikan dengan dunia virtual. Dunia seakan dipenuhi dengan mesin-mesin yang tanpa mengenal batas. Bukan tidak mungkin, suatu saat tubuh manusia digantikan oleh cyborg, mesin yang telah diprogram.

Dunia telah mengalami apa yang disebut zaman now. Sebuah loncatan sejarah dari zaman tempoe doele (zaman old) yang serba apa adanya ke zaman now yang serba mudah didapatkan sehingga manusia seakan melupakan realitas dirinya yang sebenarnya. Di dalam zaman now, manusia seakan menjadi budak mesin. Dunianya adalah dunia virtual. Dunia itu tak lain adalah dunia maya yang tercerabut dari realitas yang sebenarnya.

Zaman now merupakan realitas yang lebih mengedepankan imajinasi dari pada realitas yang sesungguhnya. Ini akibat perubahan yang sangat cepat yang oleh Yasraf Amir Piliang, penulis buku ini disebut dengan dromologi. Sebuah dunia yang lari begitu cepat, seakan meninggalkan Tuhan yang menciptakannya. Realitas imajinasi itu adalah realitas virtual yang sebetulnya menipu.

Dalam kegiatan seksual misalnya, anak zaman old (zaman dulu) menggunakan makna seks sebagai reproduksi genetik, yaitu memancarnya sperma laki-laki pada sel telur perempuan (ovum). Namun, makna itu telah digeser oleh anak zaman now menjadi sebuah kepuasan. Menurut anak zaman now, tujuan seks adalah kepuasan semata. Fenomena ini dijelaskan oleh Parisi sebagai mutasi seks, dari seks sebagai aktivitas konkret tubuh-fisik, menjadi aktivitas abstrak tubuh virtual, yang disebutnya “seks abstrak” (hal. 105).

Seks virtual di atas oleh Virilio disebut sebagai cyber seksualitas. Inilah dunia cyber. Hubungan seks tak lagi dibangun di atas fondasi daya tarik tubuh fisik-betis, paha, rambut, buah dada- akan tetapi penyangkalan atas semuanya. Hubungan seks telah tergantikan dengan dunia maya. Bahkan, imajinasi maya tersebut dianggap lebih memuaskan dari pada aktivitas seks yang sesungguhnya.

Di sinilah budaya zaman now mendapatkan momentumnya.
Model pertemanan di era zaman now telah mereduksi konsep pertemanan di era zaman old. Media sosial di zaman now telah menciptakan model teman dan pertemanan artifisial yang baru. Misalnya, di dalam Facebook, pertemanan secara esensial bukan untuk kegunaan, kepuasan atau keutamaan, akan tetapi hanya sebatas “jejaring-demi-jejaring”, sebuah pertemanan yang telah tercerabut dari fungsi sejati, yakni keutamaan. Semakin besar jumlah teman di dalam jejaring dunia maya, semakin populer pula ia di dunia virtualnya. Ini benar-benar merupakan kebalikan dari pertemanan sempurna yang diidealkan oleh tokoh filsuf semacam Aristoteles (hal. 152).

Konsep pertemanan di era cyberspacezaman now tidak mempunyai basis sosial sebagaimana umumnya tanda pertemanan di zaman old. Bahkan, pertemanan zaman now mengandalkan basis ‘komunitas’ atau ‘jaringan’ saja. Padahal, hakikat pertemanan itu adalah terjadinya kontak langsung antara manusia yang satu dengan yang lainnya.

Selain konsep pertemanan, cara keberagamaan di era zaman now membuka kemungkinan untuk melaksanakan berbagai aktivitas keagamaan dengan cara yang baru, yaitu cara artifisial atau virtual. Berbagai kemungkinan ini merupakan tantangan besar bagi kehidupan spiritualitas dan keagamaan di masa depan.Ketika manusia tercerabut dari keberagamaan yang murni, maka manusia mulai menjadikan kekuatan pikirannya sebagai ‘tu(h)an’. Manusia akan menjadi ‘tu(h)an bagi dirinya sendiri’. Inilah manusia dengan ‘mentalitas baru’ yang bertumpu pada kekuatan diri sendiri, dan bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri (hal. 303).

Tanpa disadari, kita telah meninggalkan dunia ‘realitas’ di belakang. Realitas-realitas tersebut, baik pertemanan maupun keberagamaan,telah didekonstruksi, telah dibongkar, telah dihancurkan, telah dibunuh. Realitas-realitas tersebut telah mati, untuk kemudian diambil alih oleh realitas-realitas yang bersifat virtual, realitas cyberspace.

Selain itu, kecepatan teknologi era zaman now juga menjadi penyebab keterasingan manusia dari realitas yang sesungguhnya. Kemudahan yang diciptakan oleh teknologi komunikasi dan informasi telah menggiring pula pada nilai yang sempit. Ruang-ruang kebudayaan dipenuhi dengan segala sesuatu yang remeh-temeh dan permukaan: terlalu banyak tanda, terlalu banyak infromasi dan terlalu cepat perubahannya.

Era zaman now menciptakan pula manusia-manusia “skizofrenik”, yaitu manusia yang mendobrak segala bentuk kekangan, kode, konvensi, aturan atau batasan-batasan hasrat dan membiarkannya mengalir ke segala arah sesuai dengan keinginannya.

Maka dari itu, masyarakat zaman now perlu merefleksikan kehidupan zaman old yang serba substansial. Konsep pertemanan di zaman old perlu disosialisasikan kembali di era zaman now. Pertemanan di zaman now yang meliputi facebook, whatssapp, dan twitter hanya membuat manusia terasing dari dirinya sendiri. Disinilah konteks buku ini didapati.Selain pertemanan, cara keberagamaan masyarakat zaman now juga perlu disadarkan untuk kembali ke cara beragama zaman old.

Yasraf A. Piliang seakan mengajak masyarakat untuk mengambil jeda sesaat, untuk mempertanyakan ulang konsep kehidupan yang serba mekanis ini. Banyak ragam simulasi di zaman now membuat masyarakat terpedaya. Salah satu jalan keluar yaitu kembali pada kehidupan spiritual yang sejati.Kehidupan spiritual jangan sampai tercerabut dari realitasnya yang hakiki. Justru itulah essensi manusia hidup. Sebaiknya teknologi yang serba cepat dan instan perlu diwaspadai. Juga seperti media, baik cetak maupun online perlu dikritisi sebelum diambil ‘mentah-mentah’ informasinya.

Namun di balik itu, nampaknya aspek positif dari perkembangan teknologi luput dari amatan penulisnya. Sehingga pembaca seakan menyimpulkan bahwa masyarakat zaman now berada pada ambang ‘kehancuran’.

DATA BUKU

Judul : Dunia Yang Berlari: Dromologi, Implosi, Fantasmagoria
Penulis : Yasraf Amir Piliang
Penerbit : Cantrik Pustaka, Yogyakarta
Terbitan : November 2017
Tebal : 424 halaman
ISBN : 978-602-6645-33-3

* Penulis adalah dosen Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) Guluk-Guluk Sumenep.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *