Surat Terbuka dari Guru untuk Ra Baddrut

Kepada Yang Terhormat:
Ra. Badrut Tamam
di-
Tempat

Assalamu ‘alaikum warohmatullahi wa barokatuh!

Salam sejahtera saya sampaikan, semoga kita semua tetap dalam limpahan rahmat dari Allah Azza wa Jalla, sehingga dapat melaksanakan aktivitas sehari-hari dengan baik, efektif dan bernilai ibadah. Amin!

Ra Baddrut Tamam yang saya hormati dan saya banggakan. Izinkan saya memperkenalkan diri sebelumnya. Ayah saya memberikan nama ” Inkava Rizka Nazila” kepada saya. Sebagai alumni pesantren, ayah tentu memberikan nama tersebut dengan pertimbangan makna sesuai gramatika bahasa arab yang ia kuasai. Meski tidak bisa ditashih menurut susunan i’rab, nahwu dan sharraf, namun secara tafsil kosakata dalam nama saya bermakna “semoga Allah mencukupkan rizki yang turun”. Bagitulah kira-kira.

Sangat jelas, bahwa ayah menyelipkan sebuah do’a di setiap huruf nama yang ia berikan kepada saya. Seakan berharap, kelak anaknya menjadi orang yang sejahtera, tidak sengsara dan cukup rizkinya. Itu sebabnya ayah mendidik saya dengan baik, dimondokkan ke pesantren, dan dikuliahkan pada sebuah perguruan tinggi hingga lulus dan memiliki ijazah S1. Alhamdulillaah..

Kini, sesuai kwalifikasi ijazah yang saya miliki, saya menjadi guru program keahlian Tata Busana di sebuah SMK swasta milik yayasan. Bertahun-tahun lamanya saya mengabdikan diri di sekolah ini sejak pertama kali berdiri, namun hingga kini belum tersertifikasi sebagaimana layaknya pendidik lainnya.

Ra. Badrut Tamam yang terhormat, tanpa bermaksud mengurangi rasa hormat saya kepada ajunan sebagai kontestan Pilkada Pamekasan tahun ini, idzinkan saya bercerita. Tahun 2012 silam, saya dipanggil oleh Dinas Pendidikan Pamekasan untuk mengikuti Program PLPG (Pendidikan dan Latihan Profesi Guru). Program ini sebagai tahapan awal untuk mendapatkan sertifikasi yang tentunya akan diiringi dengan pemberian tunjangan profesi oleh pemerintah, sebagai bentuk kepedulian terhadap kesejahteraan guru, terutama bagi yang non-PNS.

Awalnya, Ra. Badrut Tamam, surat panggilan PLPG tersebut datang dari Universitas PGRI Adi Buana Surabaya bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut Surabaya. Tapi kemudian hari, muncul informasi di internet bahwa nama saya tercantum dalam calon peserta PLPG 2012 di UNESA Surabaya.

Informasi yang rancu ini membuat saya bingung dan serba salah, Ra. Badrut Tamam. Kondisi ini tidak hanya menimpa saya. Ada satu nama dari sekolah lain yang senasib dengan saya. Dia juga dari SMK dan berlatar belakang guru mata pelajaran Tata Busana. Di tengah kebingungan tersebut, saya bersama guru SMK lain tersebut berkonsultasi dan minta ketegasan jadwal / tempat PLPG kepada penanggung jawab PLPG guru SMK di Kantor Dinas Pendidikan pada waktu itu.

Ra. Badrut Tamam, sesampainya di depan meja pejabat dinas yang kami tuju, dengan lantang orang yang berinesial “G” tersebut berteriak penuh keyakinan mengatakan : “saya hanya memberangkatkan anda untuk ikut PLPG di UNIPA (Universitas PGRI Adi Buana) dan saya siap bertanggung jawab. Kalau kalian ikut PLPG ke UNESA, saya tidak bertanggung jawab jika terjadi apa-apa”. Demikian kata Bapak “G” tersebut kepada kami.

Akhirnya, Ra. Badrut Tamam. Tibalah waktunya jadwal pemberangkatan kami ke UNIPA. Dengan penuh harap dapat lulus sertifikasi, kami berangkat menggunakan bis yang dikoordinir oleh bapak “G”. Sesampainya di UNIPA, keanehan dan kejanggalan mulai terasa. Disana, tidak ada kelas khusus Tata Busana yang dapat menampung kami. Akhirnya dengan sangat terpaksa, kami digabungkan dengan kelas Seni Budaya. Apa boleh buat, pelatihan yang tidak sesuai dengan bidang dan skill harus kita ikuti. Di kelas itu, kita dilatih untuk bisa menari, menyanyi, melukis dan membuat kerajinan keterampilan tangan. Sungguh tidak nyambung.

Dengan sangat terpaksa, kami berdua mengikuti PLPG yang sudah di luar konteks tersebut selama sepuluh hari sesuai ketentuan jadwal. Pada hari kelima, hand phone saya berbunyi. Rupanya ada nomor baru sedang memanggil. Betapa terkejutnya saya, yang menerima panggilan tersebut ternyata tidak hanya saya, tapi juga teman senasib saya secara bergiliran. Si penelpon tanpa disangka adalah panitia PLPG dari UNESA yang meminta kami secara langsung untuk pindah mengikuti PLPG di kampus tersebut.

Setelah kami berdua berembug, akhirnya kami putuskan untuk tetap di UNIPA hingga selesai dengan berbagai pertimbangan. Di antaranya ; Pertama, kami masih ingat pernyataan Bapak “G” yang hanya merekom kami untuk ikut PLPG ke UNIPA. Dua, Bapak “G” sudah siap bertanggung jawab atas semua resiko PLPG yang kami jalani jika terjadi masalah. Tiga, PLPG yang kami ikuti sudah berjalan separuh waktu untuk diselesaikan, sehingga lebih baik bertahan dari pada mengulang dari awal.

Lima hari kemudian, PLPG pun selesai. Tinggal menunggu beberapa hari lagi untuk melihat pengumuman hasil kelulusan. Saat dikeluarkan pengumuman dari UNIPA, sejak saat itu “babak baru drama kekecewaan” mulau diputar. Kami berdua, satu pun tidak ada yang lulus. Tapi kami tetap semangat dan optimis dengan menggunakan sebaik-baiknya kesempatan evaluasi penilaian ulang yang diberikan panitia.

Tapi apa boleh buat, Ra. Badrut Tamam. Jatah dua kali kesempatan diberikan, dua kali pula kami berdua harus pulang untuk mengubur dalam-dalam harapan. Setelah konfirmasi kepada panitia dan pegawai dinas yang berwenang, barulah kami mendapatkan jawaban : bahwa kegagalan kami disebabkan karena kwalifikasi mata pelajaran kami yang tidak sesuai. Tidak seharusnya guru Tata Busana mengikuti PLPG di kelas Seni Budaya. Seandainya kami ikut PLPG yang di UNESA, mungkin ceritanya akan berbeda. Karena di UNESA mengakomodir guru pengampu mata pelajaran Tata Busana di dalam kelas khusus.

Inilah pengalaman pahit yang pernah saya alami sebagai guru swasta honorer, Ra. Badrut. Nama pemberian ayah yang begitu baik maknanya untuk saya, ternyata tak sebaik nasib saya sebagai guru SMK. Tapi, harapan dan do’a tak henti saya pahatkan dalam sanubari. Karena saya punya hak untuk mendapat perhatian dari pemerintah. Memang, nasib manusia sudah ditentukan sejak zaman azali. Tapi membiarkan diri dalam keterpurukan nasib dan berputus asa untuk memperoleh kehidupan ekonomi yang lebih layak, bukanlah tipikal pendidik yang seharusnya memiliki jiwa tangguh dan mental juang yang gigih.

Tahun berikutnya, tepatnya pada tahun 2013, panggilan untuk ikut PLPG kembali saya dapatkan. Inilah kesempatan yang tidak boleh saya sia-siakan. Pemberkasan pun kembali saya lakukan. Semua persyaratan sudah saya rampungkan. Tidak ada satu pun persyaratan yang terabaikan. Semua sudah saya penuhi tanpa ada sedikitpun yang terlupakan. Sudah diverifikasi dan divalidasi oleh Bapak “G” selaku penanggung jawab PLPG guru SMK seperti tahun sebelumnya. Beres, dan sudah saya setorkan, hanya tinggal menunggu info pemberangkatan.

Tapi miris, Ra Badrut Tamam. Situasi tragis kembali terulang. Saat terpampang pengumuman Daftar Calon Peserta PLPG di tembok kantor Dinas Pendidikan Pamekasan, nomor dan nama saya tidak ada. Segera saya memasuki ruangan Bapak “G”. Dengan rasa penasaran saya menanyakan, apa yang sebenarnya terjadi pada diri saya sehingga nama saya hilang begitu saja. Denga nada datar namun menyakitkan dia menjawab : “maaf, itu bukan kewenangan saya”.

Dari sudut ruangan, terdengar lontaran serius dari salah seorang pegawai : “itu pasti ada yang bermain, de’. Yang sabar, ya. Suatu saat pasti kena batunya”. Saya cuma bisa menoleh ke arahnya. Saya merespon ucapan bapak itu dengan mengangguk. Sambil mengusap air mata yang tanpa terasa menetes, segera saya keluar ruangan. Ingin rasanya saya menghubungi LSM dan wartawan untuk meceritakan hal ini, namun suami saya melarang. Saya hanya bisa pasrah menerima kenyataan. Lagi-lagi harapan sertifikasi saya kandas di tengah jalan.

Satu tahun kemudian, tahun 2014. Saya terpanggil lagi untuk ikut PLPG. Alhamdulillah, Bapak “G” tidak lagi mungurusi PLPG guru SMK. Dia bertugas menjadi penanggung jawab PLPG guru SMP. Sebenarnya saya sudah kapok dan resisten dengan proses sertifikasi. Tapi Motivasi dari suami dan demi masa depan anak yang masih di gendongan membuat saya kembali bangkit dan tegar.

Seperti tahun sebelumnya pemberkasan saya lakukan. Bahkan kali ini saya mengantarkan langsung berkas-berkas saya ke rumah Bapak “A” di Desa Kangenan. Bapak “A” selaku penanggung jawab baru PLPG guru SMK ikut prihatin mendengar kisah gagalnya sertifikasi saya dari tahun ke tahun. Beliau tidak banyak bicara, hanya berjanji akan berusaha semaksimal mungkin agar PLPG saya terlaksana tanpa kendala.

Berkat bantuan Bapak “A” akhirnya dapat diketahui, bahwa saya terdaftar sebagai Calon Peserta PLPG di UNJ (Universitas Negeri Jakarta). Jauh memang, namun apa daya harus saya tempuh juga. Tapi, saat dikonfirmasi melalui laman internet, ternyata pihak panitia di UNJ tidak menerima Nilai Hasil Uji Kompetensi yang saya ikuti di Pamekasan sebagai syarat ikut PLPG.

Begitulah nasib saya, Ra. Badrut Tamam. Sekali lagi, saya harus menerima kenyataan. Sertifikasi Guru untuk saya hanya menjadi angan-angan. Hingga kini, harapan itu tak kunjung menjelma kenyataan. Hidup berkeluarga tanpa kepastian ekonomi dan kesejahteraan. Hak saya sebagai guru yang sudah malang melintang bertahun-tahun lamanya di dunia pendidikan, terkatung-katung tak kunjung diberikan.

Melalui surat terbuka ini, saya berharap Cabup-Cawabup BERBAUR berkenan membaca dan memberikan respon yang mencerahkan. Kenapa surat ini ditujukan kepada ajunan berdua? Karena di antara program-program aksi unggulan yang ditawarkan, saya melihat ada program Percepatan Sertifikasi bagi guru Non-PNS di Pamekasan. Program ini mendapat sambutan hangat oleh para pendidik yang terhambat oleh sistem saat mengujukan perbaikan nasib melalui proses sertifikasi.

Ra. Badrut Tamam, tumpuan harapan. Saya percayakan nasib saya dan guru-guru pada ajunan. Tentunya, isi dalam surat ini tidak hanya saya pribadi yang merasakan. Banyak guru-guru lain yang senasib dan berharap anda menakhkodai pemerintahan di Pamekasan. Sepenuh hati, dukungan dan do’a kami, senantiasa untuk ajunan. Semoga terpilih dan membawa perubahan nasib rakyat, termasuk guru dan semua yang ada di lingkungan pendidikan. Amin.

Demikian surat ini saya tulis dengan penuh harapan. Kejujuran cerita ini, sama sekali tanpa ada rekayasa apa lagi penambahan. Semua saya sampaikan sesuai suasana hati dan kenyataan. Jika suatu saat ada yang mengkonfrontir, saya siap dipertemukan untuk mempertanggung jawabkan. Bahkan bila digugat secara hukum sekali pun, saya siap dimeja hijaukan.

Wassalamu ‘alaikum warohmatullahi wa barokatuh.

Pamekasan, 09 April 2018
Hormat saya,

INKAVA RIZKA NAZILA.

*) Penulis adalah pemerhati dunia pendidikan, tercatat sebagai guru Tata Busana di sebuah SMK Swasta di Pamekasan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *