Sebelum Anak Kita Belajar ‘Ngebom’

Oleh: Tim Redaksi Al-Ma’un

Peristiwa teror bom di Surabaya meruntuhkan, setidaknya membungkam, segala asumsi yang selama ini dijadikan dalih. Kemiskinan, ketidakterdidikan hingga status sosial dan berbagai cap minor lainnya yang kerap dijadikan ‘bumper’ argumentasi kini tak lagi nyaring disuarakan sebagian pihak sebagai akar persoalan terorisme. Semua kehilangan legitimasinya ketika Dita Upriyanto sekeluarga melakukan aksi bom bunuh diri.

Dita dan istrinya, Puji Kuswati, orang terdidik. Ekonomi keluarga tak bisa dibilang kurang. Usahanya lebih dari cukup menghidupi satu istri dan keempat buah hati. Status sosial di lingkungannya pun oke. Bahkan, istri Dita berasal dari keluarga terpandang di kampungnya. Fakta ini menyekap berbagai spekulasi hingga susah untuk memungkiri bahwa akarnya adalah persoalan ideologis.

Masalahnya, bagaimana mereka terus beregenerasi dan seolah tak pernah habis? Secara normatif, tentu karena adanya kaderisasi dengan indoktrinasi di dalamnya. Lalu, kenapa itu bisa berjalan di negara ini? Ini bahasan bisa memanjang hingga ke perlunya UU Terorisme. Tapi, tak usah dulu kita ke sana.

Begini, hasil penelitian Alvara Research Center pada 1 September-5 Oktober 2017 menunjukkan bahwa paparan radikalisme justru dimulai dari kalangan terdidik, sejak tingkatan sangat dini bahkan. 23,5 persen mahasiswa dan 16,3 persen pelajar SMA menyatakan negara Islam perlu diperjuangkan dan setuju dengan jihad untuk tegaknya negara Islam atau khilafah.

Meski demikian, mayoritas pelajar dan mahasiswa masih setuju dengan NKRI sebagai bentuk negara dibanding khilafah. Survei Alvara lebih mendetailkan pertanyaan tentang kesetujuan jihad untuk tegaknya khilafah. Masing-masing dari kalangan profesional, mahasiswa dan pelajar. Fakta yang didapat cukup mencengangkan.

Kalangan profesional 19,6 persen setuju, mahasiswa 22,4 persen dan pelajar sebanyak 23,3 persen. Lebih detail lagi dengan penekanan, 5,2 persen kalangan profesional menyatakan sangat setuju dan sangat setuju sekali. Sementara untuk mahasiswa 5,8 persen serta pelajar 8,1 persen yang sangat setuju dan sangat setuju sekali.

“Itulah yang memiliki potensi menjadi teroris. Dan celakanya, semakin muda usianya jumlah yang menjawab sangat setuju dan sangat setuju sekali semakin besar,” kata CEO Alvara, Hasanuddin Ali.

Survei ini dilakukan terhadap 1.800 mahasiswa di 25 perguruan tinggi unggulan di Indonesia serta 2.400 pelajar SMAN unggulan di Pulau Jawa dan kota-kota besar di Indonesia. Hasil ini seirama dengan data Badan Intelijen Negara (BIN). Akhir April lalu di Semarang, Kepala BIN Budi Gunawan menyebut sebanyak 39 persen mahasiswa sudah terpapar paham radikal.

Radikalisme adalah bibit terorisme. Jika anak-anak muda sudah terpapar paham radikal, potensi menuju kubangan yang lebih kelam kian besar. Menuju ke arah sana tak butuh waktu lama. Lihat, beberapa bomber dan sebagian besar anggota teroris yang tertangkap. Rata-rata usianya antara 20-30 tahun, bahkan ada yang masih belasan. Artinya, mereka belum lama lulus dari SMA dan lulusan segar bagi yang mengenyam bangku kuliah.

Melihat data-data survei di atas, perlu cara bagi orang tua untuk mengidentifikasi sedini mungkin, anak atau anggota keluarga yang terpapar paham radikal. Pertanyaannya, bagaimana itu bisa dilakukan secara mudah hanya dengan kasat mata?

Begini, Anda masih ingat Suliono? Umurnya 23 tahun saat melakukan tindak aniaya terhadap empat jemaat Gereja Katolik St Lidwina di Sleman, Yogyakarta, pada Februari lalu. Orang tuanya di Banyuwangi, Mistaji (57 tahun), kaget berat mendengar kelakuan anaknya. Ia tak menyangka.

Mistaji bilang, usai lulus SMP Suliono ke Morowali, Sulawesi Tengah. Dia tinggal di tempat Sang Kakak. Namun, dia tak lama tinggal di sana. Ia kemudian meninggalkan tempat kakaknya dan pindah ke Palu, Sulawesi Tengah. Mistaji mengaku ada perubahan mendasar dari perilaku anaknya sejak itu.

Seperti dikutip JPNN, perubahan mencolok yang terlihat dari Suliono yakni penampilan menjadi serba panjang seperti jubah. Ia juga menentang kebiasaan pujian di mushola dan masjid kampung yang biasa dilakukan di sela-sela adzan dan iqamah. Bahkan, menurut Mistaji, pujian yang merupakan tradisi masyarakat nusantara itu dianggapnya hanya teriak-teriak dan mengganggu saja.

Di level yang hampir setara, mereka juga kerap menganggap amaliah dan tradisi-tradisi yang sudah dijalankan lama oleh masyarakat sebagai bid’ah. Alvara Research Center juga meneliti hal ini. Secara spesifik, survei menanyakan kesetujuan kalangan profesional, mahasiswa dan pelajar dengan amaliah ziarah, kenduren hingga tahlilan. Hasilnya berkorelasi dengan mereka yang setuju dengan jihad untuk berdirinya negara Islam di Indonesia. Mereka setuju amalan tersebut terkategori bid’ah.

Sementara di level yang lebih akut, mereka menilai apa yang diyakininya adalah yang paling benar, seiring menganggap yang lain salah. Jangankan orang biasa, ulama sekaliber Prof. Quraish Shihab, KH. Said Aqil Siradj, Buya Syafi’i Ma’arif, KH. Mustofa Bisri, (alm) Gus Dur, pun diolok-olok.

Mereka juga kerap menjustifikasi siapapun yang melakukan amaliah-amaliah yang dinilainya bid’ah akan dicaci maki dan terus diserang dengan berbagai tuduhan. Yang lebih parah, tak sedikit di antara mereka yang mengafirkan.

Lagi, Wali Kota Tri Rismaharini usai peristiwa serangkaian bom di Surabaya langsung mengeluarkan surat edaran. Dia meminta masyarakat mewaspadai orang-orang di lingkungan masing-masing yang tertutup dan jarang bersosialisasi sampai pada hal-hal yang sepele, seperti dari ucapan mereka.

Ini tak berangkat dari sekedar asumsi. Salah satu anak Dita yang turut meledakkan bom bunuh diri, pernah ditanya gurunya soal cita-cita. Kata Risma, almarhum menjawab ingin mati syahid. Sang anak juga enggan mengikuti pelajaran Pancasila atau PPKn dan tak mau upacara bendera.

Identifikasi sederhana ini penting dilakukan. Keluarga adalah lapis pertama yang bisa menjadi pengidentifikasi sekaligus pencegah sebelum seseorang jauh masuk di lorong gelap terorisme. Kasus Suliono adalah contoh sederhananya.

Berdasarkan kesaksian sanak keluarga, semenjak menikah dengan Dita, Puji lebih tertutup. Komunikasi dengan keluarga pun jadi berjarak. Pulang ke rumah orang tua di Banyuwangi pun jarang, meski jarak Surabaya-Banyuwangi relatif tak jauh. Orang tua awalnya tak merestui Puji menikah dengan Dita. Kejelian orang tua Puji melihat adanya keanehan dalam pemahaman keagamaan Dita menjadi alasan. Tapi Puji memilih mempertahankan pilihannya.

Kekhawatiran saat itu terbukti di kemudian hari. 13 Mei 2018 Puji mengikuti suaminya menjadi pelaku bom bunuh diri di Surabaya. Yang lebih mengiris hati, keempat buah hatinya dilibatkan dalam……

Susah meneruskan kalimat di atas. Membayangkan pun ganjil rasanya. Bagaimana jika kita di posisi orang tua Puji sekaligus sebagai kakek/nenek dari empat anak tak berdosa itu?

Pada akhirnya, meyakini sebagai sebuah kebenaran dari apa yang dianutnya adalah hak masing-masing orang. Tetapi, ketika menganggap lain orang yang tidak sesuai dengan apa yang diyakininya adalah salah, bid’ah, musyrik atau kafir, ini menjadi persoalan. Inilah bibit-bibit radikalisme.

Mari, cegah keluarga kita dari pemahaman radikal, sedini mungkin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *