Mahasiswa FMIPA Universitas Negeri Malang Ciptakan Mekdisepur

MediaJatim.com, Malang – Masyarakat tidak hidup dalam dunia yang terpisah, tetapi terkadang mereka memisahkan diri dari orang-orang yang dianggap berbeda, terhadap anak dengan berkebutuhan khusus atau difabel seperti autis, tunanetra dan tunarungu. Mereka adalah kelompok minoritas yang kerap diperlakukan diskriminatif. Berbagai sterotip negatif dilekatkan pada penyandang disabilitas, warga memisahkan dari kehidupan dengan menyebut “tidak normal”. Masyarakat membuat semacam pagar politik, dan sosial menjadi contoh paling mudah bahwa kita belum bisa menghargai perbedaan.

Penyandang disabilitas atau difabel, sebuah istilah yang menggantikan kata cacat, tidak normal, maupun anak luar biasa. Istilah tersebut di anggap lebih etis, manusiawi, bermartabat, dan sesuai dengan karakteristik mereka, istilah ini menjelaskan bahwa mereka sama seperti anak-anak pada umumnya, hanya saja mereka memiliki bakat yang berbeda dengan masyarakat ‘reguler’ pada umumnya.

Indonesia sebagai Negara hukum telah menegaskan kesamaan derajat antara masyarakat reguler dan masyarakat disabilitas, dalam hal pendidikan, masyarakat disabilitas berhak untuk memperoleh fasilitas khusus untuk menunjang pendidikannya, tertulis dalam UU No. 18 tahun 2016 pasal 10 terkait hak pendidikan bagi disabilitas dimana masyarakat disabilitas berhak untuk mendapatkan akomodasi yang layak sebagai peserta didik. Namun patut disayangkan potret yang kini hadir, dimana masyarakat disabilitas belum mendapatkan akses khusus untuk pendidikannya, sehingga membuat jalannya proses belajar-mengajar agak terhambat.

Berangkat dari problematika yang hadir, tercetuslah Media 3D Sistem Periodik Unsur Dengan Sistem Audio-Visual Untuk Penyandang Disabilitas Mental “Mekdisepur”, merupakan media pembelajaran inovatif bagi penyandang disabilitas, media ini berwujud papan periodik unsur kimia dengan permukaan timbul, dilengkapi dengan sistem audio dalam penyampaian informasi dari setiap unsur. Media ini diinisisasi oleh Tiga Mahasiswa FMIPA Universitas Negeri Malang (UM) yakni Deni Ainur Rokhim (Pendidikan Kimia, 2016), Mochmad Khoirul Rifai (Fisika, 2016), dan Rosida Amalia (Pendidikan, 2015), pada tahun ini ketiganya lolos untuk pendanaan PKM 5 bidang yang didanai oleh Kemenristekdikti.

“Ide awal Mekdisepur berasal dari pengembangan ide senior yang belum sempat lolos sehingga kami dan dosen pembimbing merombak kembali karya tersebut,” ungkap Deni, (02/06). Dalam penelitian ini, Deni dan tim dibimbing oleh bapak M. Muchsin, yang telah berkecimpung dan berpengalaman di bidang media pendidikan.

Deni berkeyakinan bahwa dengan pendanaan yang diberikan Kemenristekdikti sebesar 7,8 juta, tim akan segera merealisasikan media tersebut pada akhir bulan Mei, sosialisasi yang pertama dilakukan di Yayasan Pendidikan Anak Cacat (YPAC) Kota Malang yang merupakan tempat pembinaan dan pembelajaran bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus. Media ini diwujudkan untuk membantu proses belajar-mengajar bagi siswa dengan kebutuhan khusus.  khusus, namun tidak menutup kemungkinan untuk digunakan oleh siswa regular pada umumnya.

“Proses persiapan cukup mepet mulai dari pembuatan proposal penelitian, sempat pula terjadi perubahan susunan tim. Disisi lain proses pembuatan media juga mengalami kesulitan dibagian proses perekaman, informasinya harus disesuaikan dengan materi yang real serta pengucapan atau intonasi audio harus diselaraskan. Namun semua itu bisa tertangani dengan baik”. lanjut Deni.

Harapan jangka panjang dari project ini adalah adanya dukungan dari Dirjen Pendidikan Khusus dan layanan Khusus (PKLK) serta Dinas Pendidikan Kota Malang guna mensosialisasikan Mekdisepur sehingga dapat digunakan dalam ranah luas untuk membantu proses belajar terkait pengenalan materi unsur-unsur kimia bagi penyandang disabilitas mental. (*)