Politisi Berjiwa Petinju Sulit Pertahankan Gelar

Bagi politisi seperti saya, puasa dan Idul Fitri merupakan momentum konsolidasi. Buka bersama, open house, dan halal bihalal adalah peranti kultural yang tersedia sebagai ajang silaturrahim, bertatap tatap muka dengan tim, massa konstituen dan masyarakat umum. Dalam term agama, konsolidasi itu padanan kata silaturahmi.

Silaturahmi adalah suatu amal sosial yang memiliki implikasi sangat luas. Bahkan Nabi Muhammad menegaskan bahwa silaturahmi dapat menambah rezeki dan panjang umur yang bersangkutan. Tentu, makna kuantitatif dan kualitatif sekaligus dalam pengertian ini. Tapi memang logis bila silaturrahim disebut dapat memperluas rezeki. Sebab, fungsi skunder silaturrahim adalah memperkokoh jaringan dan relasi. Sehingga semakin banyak bersilaturrahim berarti semakin banyak jaringan dibangun. Dan itu artinya peluang bisnis.

Sebagai seorang politisi, saya melakukan silaturrahim tidak hanya ketika hari raya tiba, tapi jauh sebelum itu menyambangi konstituen dan masyarakat sudah berjalan tanpa henti. Puasa dan Idul Fitri sungguh merupakan momentum yang pas untuk mengokohkan silaturrahim dan menyatukan elemen-elemen yang berserakan hingga menjadi satu kekuatan yang bagus. Hal tersebut mau tidak mau membutuhkan budget yang tidak kecil.

Di dalam politik praktis, tak ada tempat bagi politisi yang “pentinju”. Ciri khas petinju selalu mengepalkan tangan yang itu dianalogikan sebagai orang yang sulit untuk memberi alias bakhil. Ia dituntut untuk berbagi dengan sesama, terutama tim, konstituen dan masyarakat umum yang telah mendukungnya. Apalagi, ia hendak mencalonkan lagi sebagai incumbent, suka atau tidak, ia harus rajin turun ke bawah, menyapa warga dan merawat tim. Sudah barang tentu, ini pekerjaan besar yang juga membutuhkan biaya yang besar pula.

Dalam konteks ini, politisi yang berjiwa petinju tentu akan hilang dengan sendirinya. Walaupun bisa jadi ia sukses merebut gelar. Tapi untuk mempertahankan gelar di kesempatan berikutnya, rasanya sulit. Yang didapat mungkin hanya sumpah serapah yang dia peroleh dari konstituennya.

Seseorang yang meraih jabatan dengan melibatkan dukungan rakyat, memang tidak elok jika berjiwa petinju. Sebab, ia bisa jadi orang bukan semata-mata karena usaha dirinya, tapi juga berkat usaha orang lain yang berjibaku untuk memenangkan dia. Malah demi kemenangan tersebut, mereka tak peduli harus dimusuhi dan bermusuhan dengan tetangga, kawan bahkan saudaranya.

Sistem pemilu langsung dan suara terbanyak, telah menyuburkan pragmatisme politik di elite dan massa pemilih. Proses kompetisi berbasis “persepsi” dan “amunisi”. Kedua-keduanya membutuhkan biaya politik yang besar. Untuk membangun, persepsi positif butuh kegiatan sosial dan pencitraan. Sementara, untuk memenuhi amunisi yang cukup butuh anggaran guna menggerakkan tim dan pemilih, pengawalan dan pengamanan suara.

Namun di atas semua itu, ikhtiar spiritual juga tak kalah penting dari persepsi dan amunisi. Doa dan restu para sesepuh, kaum dhuafa, serta harapan anak muda adalah ruang spiritual yang harus diisi sembari sabar dan tawakal untuk meraih kemenangan.

Sebuah kemenangan, sejak dini harus disadari bukan untuk diri dan keluarga, tapi untuk banyak orang. Seorang politisi qabul hajat berkat doa dan doa restu dari penghuni langit dan bumi. Kita sejatinya, hanya “alat” perjuangan untuk umat dan rakyat guna mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur yang diridhai oleh Allah SWT. Semoga!

Moch Eksan
Anggota Fraksi NasDem DPRD Jawa Timur