oleh

Refleksi Kehidupan Multikultural

Produktivitas Gus Mus (K.H A Mustofa Bisri) terus mengalir. Untuk kesekian kali pengasuh salah satu pondok pesantren tersohor di Rembang itu kembali menerbitkan kumpulan esai reflektif.

Intisari dalam buku yang memuat 56 tulisan ini tidak jauh berbeda dari buku-buku sebelumnya seperti, Saleh Ritual Saleh Sosial dan Membuka Pintu Langit, yakin sikap reflekstif atas persoalan agama, sosial, politik, dan budaya.

Gus Mus tidak hanya dikenal sebagai seorang kiai karismatik, melainkan juga sosok humanis yang memiliki kepedulian besar terhadap isu-isu sosial. Kultur ke-kiai-an yang melekat sejak lahir membuatnya selalu memandang realitas dari perspektif agama. Sementara sebagai sosok yang humanis, ia begitu piawai menyampaikan pesan-pesan reflektif betapa tak ada persoalan yang tidak bisa dijangkau oleh agama.

Sebagai kumpulan tulisan, 56 tulisan yang disuguhkan dibagi menjadi tiga bagian: 1) fenomena kekuasaan, kehidupan dan politik, 2) perilaku kiai dan perilaku umat, 3) Allah, nabi, dan makna ibadah.

Sekalipun sajian bentuk tulisan yang relatif pendek, namun tetap terasa komunikatif dan bernas. Gaya tutur yang lincah dengan satire yang menusuk membuat pembaca seolah sedang berdialog dari hati ke hati dengan penulisnya.

Gus Mus tetap istikamah dengan pesan besar dalam tulisannya sejak dulu, yakni mengajak manusia menjadi manusia, sebagai hamba yang rendah hati, dan sebagai khalifah yang menebar kasih. Semua itu dilakukan melalui refleksi atas berbagai persoalan dan peristiwa yang mengiringi kehidupan umat manusia, seperti halnya Godaan Kehidupan dan Kekuasan yang menjadi pembuka buku kumpulan esai ini.

Adam adalah manusia pertama yang diciptakan Allah sebagai khalifah. Memalui refleksi historis, digambarkan betapa manusia memiliki naluri hidup berkuasa sejak mulai diciptakan, yang membuat Adam mendurhakai penciptanya karena iming-iming kehidupan dan kekuasan yang kekal; memakan buah terlarang. Naluri berkuasa ini menjadi semacam benih yang diwariskan turun-temurun kepada para pemimpin di negeri ini. Selama manusia tidak menyadari kehambaannya, godaan kekuasan senantiasa membara. Iblis terus meninabobokkan hingga menjadi lupa. Dari Kubu Mereka tugas mengganggu, membujuk, mengiming-iming, memulas yang mungkar dan mencoreng yang ma’ruf akan terus dilakukan. (hal.28)

Secara lahiriah, kekuasan memudahkan manusia seenaknya memutuskan wewenang, seperti Cekal tak Masuk Akal Gus Mus ketika hendak mengisi acara sarasehan budaya bersama Emha Ainun Najib di Semarang. Acara batal karena tidak mendapat izin Ditsospol. Pemikiran Emha dianggap tidak pancasilais dan bisa mengganggu stabilitas negara. Secara gamblang Gus Mus menulis: wahai yang kebetulan sedang memegang kekuasaan, baik di organisasi maupun pemerintah di daerah, tolong bantulah rakyat ini untuk menjadi dewasa dan berpikir sehat dengan keteladanan dan kedewasaan. (hal.36)

Buku ini secara tegas mengatakan: sekali kiai tetap kiai. Entah kiai yang budayawan, entah kiai yang politikus, atau kiai yang menekuni bidang lain, suaranya tetap kiai yang menyerukan soal agama. Di mana-mana selalu bicara agama. Segala persoalan pun tak lepas dari sentuhan dan cara pandang keagamaan. Mohamad Sobari, pada pengantarnya menulis, ia (Gus Mus) hendak menegaskan kepada kita betapa luas jangkauan agama, dan hidup ini pun, baik yang dijangkau rukun dan syariat agama, maupun yang tidak, tetap tidak lepas dari urusan agama. (hal 11)

Statement di atas kiranya menjadi benar apabila melihat pola interaksi (narasi, deskripsi, dan eksplorasi) dengan pembaca dibangun dengan pola uswatun hasanah. Pola ini menjadi semacam gerakan beragama yang bersifat soft-power, yaitu menjunjung tinggi keteladanan, moralitas, dan toleransi. Pola interaksi seperti ini menjadi penting di negara dengan masyarakat multikultural. Pesan-pesan agama tersampaikan secara utuh tanpa menimbulkan kesan mendikte.

Pada hakikatnya manusia memeluk agama karena menginginkan kehidupan yang damai dan tenteram. Tak ada pemeluk agama memandang dan menginginkan agamanya sebagai pemicu kekerasan. Perbedaan cara pandang, cara pikir, cara sikap, dalam konteks keberagaman politik, sosial, budaya, dan agama menjadi refleksi personal atas toleransi berideologi. Di tengah keragaman ideologi, hal yang substansial adalah substansi ideologi itu sendiri sebagai sebuah ajaran yang mencita-citakan kedamaian.

Menyelami tulisan-tulisan Gus Mus tak ubahnya menyelami dunia di mana agama haruslah benar-benar sebagai gerbang rahmatan lil alamin. Buku ini—dari sekian buku yang lain—menjadi justifikasi betapa sosok kiai satu ini selalu mendahulukan yang ma’ruf daripada yang munkar. Ide atau gagasannya dibiarkan mengalir alami dan membiarkan orang lain menafsirkan melalui refleksi diri.

DATA BUKU

Judul: Pesan Islam Sehari-hari: Memaknai Kesejukan Amar Ma’ruf Nahi Munkar
Penulis: A. Mustofa Bisri
Penerbit: Laksana
Terbitan: Pertama, September 2018
Tebal: 336 halaman; 14x20cm
ISBN: 987-602-407-443-2

*) Penulis adalah cerpenis, jurnalis, dan mahasiswa Pascasarjana IAIN Jember.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *