oleh

Ketergantungan Perempuan Cenderung Praktis di Era Kesetaraan

MediaJatim.com, Gresik – Presepsi masyarakat awam, sering menyebut peran perempuan hanya berkutat pada wilayah macak, masak, manak saja. Hal tersebut yang menjadi salah satu landasan Pengurus IPNU-IPPNU Ranting Cangaan Ujungpangkah Gresik mengadakan kegiatan Dialog Interaktif dalam agenda memperingati hari lahir IPNU (65) dan IPPNU (64).

Acara yang digelar di aula Taman Pendidikan Ihyul Ulum, Rabu pagi (3/4), cukup menyita perhatian masyarakat pelajar di sekitar. Sebab, dalam acara tersebut turut menghadirkan tiga perempuan berkompeten untuk membaca patriarki dalam pola hidup perdesaan, yang tentunya cukup nyambung dengan tema yang diambil, yaitu “Perempuan dan Masa Depan”.

Faqihatin, salah satu pembicara yang juga Wakil Ketua Koalisi Perempuan Gresik, menjelaskan, terkait peranan perempuan terhadap tanggung jawabnya, bahwa menyusui dan melahirkan memang kepunyaan perempuan, namun apakah memesak, mencuci, membersikan rumah dan lain sebagainya, tidak bisa dikerjakan oleh laki-laki. Menurutnya sangat wajar jika laki-laki mempunyai kesadaran tentang hal-hal tersebut, apalagi perempuan percaya bahwa suatu pernikahan tidak untuk membangun budaya patriarki.

“Kebanyakan ini terjadi di desa-desa, tingkat kepatriarkiannya cukup tinggi ya, dan itu cukup jelas alasannya, bisa saja pendidikan si perempuan ini rendah, kemudian perekonomian yang sudah cukup dari laki-laki, ini juga bisa menjadi alasan laki-laki punya kebebasan menyuruh perempuannya untuk tetap di rumah, dan lingkungan mungkin juga bisa mempengaruhi. Tapi tetap ya, sepercayanya laki-laki terhadap perempuan, harus tau bahwa ada hak dan kewajiban perempuan yang harus tetep dijaga, supaya keharmonisan dalam rumah tangga tetap baik,” ungkap dosen di Universitas Qomaruddin Bungah Gresik tersebut.

Setelah sesi presentasi dari ketiga pembicara selesai, kemudian masuk di sesi dialog. Banyak yang bertanya pada sesi tersebut, salah satunya Najikh yang kebetulan pembinah sekaligus mantan ketua IPNU Desa Cangaan.

“Langkah konkrit apa, yang harus ditanamkan, dan dilakukan terhadap kader-kader kita, sebagai motivasi agar permpuan di masa depan bisa jauh lebih baik?,” papar Najikh yang juga sebagai guru di TP Ihyaul Ulum Desa Cangaan.

Pembicara kedua, yang akrab dipanggil Iil menjelaskan terkait pertanyaan tersebut. Dia menjelaskan tentang berbagai aspek baik untuk perempuan dan laki-laki, sudah terbuka dalam berbagai hal, baik dalam bidang pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, dan sebagainya, yang bisa dimanfaatkan sebagai peluang.

“Maka sebagai seorang perempuan ini menjadi PR untuk kita bagaimana kita bisa memanfaatkan dan mencari peluang dalam berbagai bidang, karena tidak dipungkiri bahwa pergerakan laki-laki dan perempuan yang seimbang akan menjadikan peradaban dan juga pembangunan di indonesia semakin berkembang,” tegas Mahasiswi UIN Sunan Ampel, yang sekaligus ketua KOPRI PMII Ushuludin UINSA itu.

Kemudian dilanjut dengan jawaban tambahan oleh salah satu anggota Risester Indonesia atau pembicara ketiga, Auliah Maghfiroh. Dia menjelaskan, perlu adanya upaya pemahaman pendidikan sejak dini terkait hal tersebut, dan mengkaji UU yang berkaitan dengan HAM maupun perempuan yang dalam hal ini lebih di spesifikan dalam kekerasan seksual dan pelecehan seksual, supaya semua lapisan masyarakat tau pentingnya hal tersebut.

Setelah dihubungi oleh wartawan Media Jatim, Faqihatin memberikan kesimpulan tentang manfaat kesetaraan gender, atau sesuatu yang bisa dipetik ketika menghilangkan budaya patriarki.

“Kita sebagai patner suami tentunya bisa membantu perekonomian keluarga, dan membuka akses kepada masyarakat untuk melakukan kemajuan secara bersama. Hal itu tentunya bisa dilakukan oleh seorang perempuan, tidak hanya dilakukan oleh laki-laki saja, yang terpenting dari semua ini kita wajib mengetahui tentang batas-batas sebagai manusia yang beretika,” tutup perempuan berkepala tiga tersebut.

Reporter: Shafif K.A

Redaktur: Sulaiman