oleh

Batik Harus Diperhitungkan dalam Laku, Karya, dan Hidup

MediaJatim.com, Sumenep – Agenda Ngaji Teater terus memberikan upaya membongkar peristiwa-peristiwa yang dekat dengan tubuh manusia. Pada runtinan yang ke 21, mereka para intelek Madura yang ada di Sumenep, mencoba masuk ke ruang-ruang pikiran tentang batik yang sering digunakan banyak orang.

Acara yang diselenggarakan oleh Language Theatre Indonesia, mengambil tema Spiritualitas Tubuh Batik, yang bertempat di Romatastaman Art Home Sumenep, pada Selasa (9/4) malam.

Menurut Lathif, pemantik dalam acara malam itu, memaparkan, bahwa batik memiliki keistimewaan sebagai karya seni dengan segala definisi, bentuk, jenis, genre, dan perkembangannya, tentu adalah secuil bentuk dari sekian golakan kejadian dalam jiwa, yang terus beranjak dewasa.

“Sebagai karya seni, batik tentu memiliki keistimewaan tersendiri. Meskipun hal ini juga masih bergantung pada selera pasar, konsumen, segmentasi karya itu sendiri. Itu terjadi sebab karya terus beranjak dewasa melalui tahapan-tahapan tertentu. Sebab karya akan menjadi barang seni ketika berhadapan dengan publik. Ia akan dibaca, diteliti, dipilih sesuai selera,” papar Latif Kobhung.

Hal tersebut kemudian menjadi benang menarik dalam acara tersebut, sebab siapapun akan bertanya jika tubuh perancang, dan tubuh batik sudah masuk di konsumen, apakah tetap saling bertemu di ruang lain, ruang yang tidak dipertemukan oleh wujud yang terpegang.

Benang yang saling berkaitan tersebut, kemudian dijelaskan oleh Latif, dalam catatan diskusinya, ungkapnya, tubuh punya jiwanya sendiri, batik pun demikian. Sebab kain juga tubuh yang berdiri sendiri di bawah kuasa kosmologi alam atau dunia. Pertengkaran dua jiwa yang sama-sama purba dan tak bisa dilenyapkan. Semua harus diperhitungkan dalam laku, karya, dan hidup.

Dia juga menambahkan, terkait konteks pertunjukan tubuh tidak hanya sebagai fisik yang bergerak memerankan atau melakonkan sebuah gagasan. Tetapi jauh lebih dalam, tubuh sebagai spirit, ruh, jiwa. Oleh karenanya, butuh pembacaan yang panjang dan tepat -tentu harus seiring dengan capaian teater yang diharapkan dalam membaca dan mengidentifikasi tubuh.

“Tubuh adalah spiritual, batik adalah spiritual, tubuh adalah batik, batik adalah tubuh, spiritual adalah tubuh, spiritual adalah batik. Semua akhirnya sama, terserah kita mau berangkat dari mana membacanya,” tutupnya.

Reporter: Shafif K.A

Redaktur: Sulaiman