oleh

Surat Terbuka Untuk Kamu Calon dan Penerima Bidikmisi

Gua tidak tahu surat ini disebut surat apa. Surat cinta bukan. Surat pengunduran bukan. Surat pengajuan diri bukan. Bahaha. Terserahlah, surat apa saja. Tapi ini gua tulis dengan pikiran terbuka. Surat ini tidak gua tulis untuk mahasiswi penerima Bidikmisi yang cantik-cantik itu. Bukan.  Apalagi gua tidak pernah pacaran sama anak Bidikmisi. Bukan gak mau, tapi takut ditraktir pake uang yang diambil dari uang rakyat. Masa sih? Ya, itu alasan pertama gua tidak mau pacaran sama anak Bidikimsi. Kedua, gua gak ganteng-ganteng amat juga. Jadi gak pernah berhasil memikat hati mahasiswi cantik penerima Bidikmisi. Bahaha..

Ingat Bidikimisi, gua teringat masa kelam gua waktu mau masuk kampus. Waktu itu gua sudah kerja keras; urus surat ini itu. Surat ini lah surat itulah. Capek gua. Berkas selesai gua urus, gua setorkan, dan nungggunya lama. Rasanya hampir sama nunggu pacar yang kelamaan dandan. Eh, habis dandan, dia malah marah-marah dan minta putus. Mampus gua. Jleb. Endinganya, gua gak lulus seleksi berkas. Ah, kok gua jadi curhat ya. Sorry. Ok lanjut.

Pada tahun ajaran baru tahun lalu, gua pernah dapat curhatan dari teman gua. Dia datang kepada gua dan bilang.

“Bro, gua tidak lolos daftar Bidikmisi.” Mendegar itu, gua diam dan menelan ludah pelan. Dengan wajah prihatin, gua meresponnya.

“Ya sudah mungkin bukan rezeki. Tapi, memangnya pada tahap apa yang yang tidak lulus?”

Dia jawab, “Tahap survei.” Gua bengong dan meluncurkan pertanyaan baru.

“Kok bisa?”

Dengan lirih, teman gua lanjut bercerita. “Gua bersyukur tidak lulus. Mungkin, ini cara Allah menegur saya agar tidak memakan uang negara dengan cara tidak baik. Alias pembohongan data.”  Tanpa komentar, gua terus melebarkan telinga gua dengan wajah penasaran. Gua biarkan ia melanjutkan ceritanya.

“Foto rumah yang gua kirim untuk pemberkasan, memakai foto rumah famili dekat rumah saya yang tergolong sederhana. Dan ketika survie, pihak suvervisor diterima di rumah saya. Dan bertanya kepada kami saat itu. Ini rumah siapa? Ya saya jawab. Rumah saya, pak.” gua hanya bisa merespon dengan kata ‘owwh..’  dan lanjut seruput kopi di kantin kampus.

Itu singkat cerita apa yang gua temukan di lapangan. Masa iya, memang harus begitu cara yang digunakan untuk mendapatkan Bididikmisi?. Amboy.. miris kali ya. Jangan-jangan, itu hanya contoh kecil saja ya. Waduh, gua kok malah ingat kata Iwan Januar, penulis  buku Surga Juga Buat Remaja, Lho. Om Irwan bilang, “Semua ada jalanya. Jangan ambil prinsip potong kompas untuk tiba pada titik kesukesan. Tetaplah, gunakan cara yang baik tanpa menabrak aturan  dan ajaran agama.” Tapi saya positif thinking saja. Mereka –penerima bidikmisi- masih waras.

Sebelum nulis ini, gua nonton video yang diaunggah Channe Youtube Kemendikbud 2014 silam. (Dipublikasikan tanggal 28 Feb 2014). Berkali-kali saya nonton, berkali-kali gua nangis karena terharu. Dalam video itu, Birul Qodriyah bercerita perjalanan mau masuk kampus hingga mendapatkan Bidikmisi. Mahasiswa kedokteran Universitas Gajah Mada itu juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada pak SBY, Pak Nuh, dan seluruh rakyat Indonesai karena diberi peluang untuk kuliah melalui jalur Bidikmisi.  Ada kalimat sangat menohok dan merinding mendengar apa yang disampaikan Birul. Isinya antara lain; Pertama, Tidak akan menggunakan beasiswa bidikmisi biasa-biasa saja. Kedua, Ia mewakili teman-temannya siap akan menjadi mahasiswa berkualitas. Ketiga,  Siap menjadi mahasiswa yang berintelektual cerdas. Keempat, siap menjadi mahasiwa yang mau bekerja keras. Kelima, menjadi mahasiswa yang siap menjadi generasi emas.

Mendengar penyampaian dan bisa dikatakan janji dari Birul di video itu, gua merinding. Sekilas gua juga terpesona sama Birul. Soalnyha cantik. Bahahah. Tak hanya itu, gua membayang, benarkah demikian semua komitmen mahasiswa penerima beasiswa Bididkmisi di negeri ini? Jangan-jangan, uang yang 700 ribu tiap bulan yang kadang tertunda cairnya itu tidak digunakan sebagaimana mestinya. Atau, lancar tiap bulan lalu beli paketan lalu dibuat chatting dan video callan sama gebetannya? Atau pula, dibuat untuk traktir gebetannya yang pada akhirnya diputusin juga. Duh, sedih, perih dan sadisnya ya. Ah, semoga saja tidak demikian. Semoga, mahasiswa bidikmisi setia pada rakyat alias tidak hanya menerima Bidikmisi tapi betul-betul menempa diri.

Tentu, mereka sadar bahwa bidikmisi ini amanah rakyat. Dan mereka tahu akan tujuan diselenggarakannya Beasiswa Bidikmisi adalah untuk meningkatkan akses dan kesempatan belajar di perguruan tinggi bagi peserta didik yang tidak mampu secara ekonomi dan berpotensi akademik baik, memberi bantuan biaya pendidikan kepada calon/mahasiswa yang memenuhi kriteria untuk menempuh pendidikan program Diploma atau Sarjana sampai selesai dan tepat waktu, meningkatkan prestasi mahasiswa, baik pada bidang kurikuler, ko-kurikuler maupun ekstra kurikuler, menimbulkan dampak iring bagi mahasiswa dan calon mahasiswa lain untuk selalu meningkatkan prestasi dan kompetif, dan melahirkan lulusan yang mandiri, produktif dan memiliki kepedulian sosial. Sehingga mampu berperan dalam upaya pemutusan mata rantai kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat.

Nah, untuk tahun  tahun ini, kuota penerima Bidikmisi naik 50% hingga mencapai 130.000 orang dan ditambah pula alokasi untuk penyandang disabilitas. Ini sesuai perkataan Prof Ismunandar, Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Ditjen Belmawa) Kemenristekdikti dalam acara konferensi pers Senin (14/1/2019). Ia menjelaskan, tahun ini kuota Bidikmisi ditingkatkan menjadi 130.000 penerima. Sebagaiman dilansir tribun-timur.com

Waw, banyak juga ya.. berarti ada anak bangsa yang sejumlah 130 ribuan yang akan digaji tiap bulan oleh negara melalui jalur Bidikmisi ini. Pak Menteri, kasih gua aja pak. Buat modal usaha. Jangan kasih mereka semua. Bahaha. Maaf ya Pak Menteri. Jangan lupa tepatkan pada sasarannya, ya pak. Kalau rumahnya kinclong dan berAC, jangan diluluskan Bidikimisi ini. Kasihan mereka yang tak berpunya tapi keinginan kuliahnya tinggi.

Gua tidak mau dengan Bidikmisi. Sekalipun mau, saya mah sudah tak layak. Kan gua sudah lulus. Dan saatnya gua menyampaikan unek-unek ini kepada mereka yang gua sebut calon dan penerima Bidikmisi.

Lewat surat ini gua ingin menyampikan isi hati gua kepada calon dan penerima Bidikmisi.

Untuk kamu yang saat ini jadi calon penerima Bidikmisi

Tak usah manipulasi data hanya untuk mau ringan bahkan gratis kuliah. Jangan, tebal dan berat isi dompetmu. Eh, berat tangungjawabnya. Bisa saja tim penyeleksi atau tim survie itu bisa kamu bohongi pake data. Lha, Tuhamnu, ngak mungkin keles. Lu tahu kan, Tuhan lebih dekat dari kampusmu. Eh, urat nadimu. Bahaha. 

Tidak lulus Bidikmisi, tak usah putus asa dan mengutuk diri. Bidikmisi ini sola rezeki. Bukan karena pretasi saja. Kok bisa? Bisa. Ini niscaya alam gaes. Gua ceritain ya.

Dulu, waktu jaman gua SMA dan mau masuk kampus, hampir satu sekolah saya daftar nih Bidikmisi. Yang lulus bukan mereka yang yang rangking 1-3 dari depan. Malah yang lulus banyak dari mereka yang tidak rangking. Bahkan rangking 25-40an. Ada sih, satu dua orang. Lulus syukuri. Tidak lulus, jangan mengutuk diri. Mending bawa ngopi di kafe yang free wifi. Bahaaha.

Untuk kamu yang sedang menerima Bidikmisi

Selamat, ya. Semoga uang rakyat itu bisa membantu kamu untuk meraih cita-citamu. Dan jangan lupa, mengabdi ya usai lulus kuliah. Bial perlu, sowan ke pak SBY, pada masa beliau presiden lho, Bidikmisi itu lahir. Ucapkan terima kasih.  Jangan malah menjadi tambahan pengangguran di negeri ini. Sudah banyak pengangguran di negeri ini. Silakan belajar dengan tekun di kampus. Jangan leha-leho-lihay pacaran dan belikan kado ulang tahun pacar pakai uang Bidikmisi. Bidikmisi ini diprogramkan untuk keberlangsungan pendidikan kalian yang layak menerima. Bukan untuk ngebiayai orang pacaran di kampus yang ujung-ujungnya bikin hati terbelah dan air mata bercucuran. Bukan pula untuk kamu yang hanya pengen kulaih gratisan, tapi di kampus sibuk dengan hal yang tak bermanfaat.

Sudah, sampai disini saja surat gua ini. Gua ngak tahan nahan haru liat video Birul. Bukan Cuma itu, dia juga cantik. Cihuy…

“Eh, Birul, maukah kamu menerima cinta gua. Ya, gua. Mahasiswa non Bidikmisi.” Bahaha. Maaf Birul. Semoga kamu sukses jadi Dokter.

Semoga saja Birul baca tulisan ini. Dan siapa tahu saya bisa dirawat sama dia. Karena saya pusing tujuh keliling. Bilamana penerima Bidikmisi ini tidak sekomitmen seperti apa yang disampaikan Birul.

Salam senyum Salam hangat dari gua yang tak pernah minum teh hangat dari uang Bidikmisi.

Madura, April 2019.

Penulis, Gafur Abdullah

*Mahasiswa yang tak bergelar ‘Anak Bidikmisi’. Gafur Abdullah (fb), 082332844628. Mahasiswa IAIN Madura.

Komentar

1 comment

Comments are closed.