oleh

Buzzer: Ancaman dan Disinformasi, Mahasiswa Bisa Apa?

Oleh: Gafur Abdullah

Dunia digital adalah panggung terluas dan bebas untuk mementaskan segala peristiwa. Pementasan itu bisa dilakukan oleh siapapun asal memiliki gaway atau telepon pintar. Bisa dilakukan dimana saja asal tersambung dengan internet. Banyak hal yang tersaji dan cepat serta mudah terakses. Mulai dari urusan yang sangat penting dan yang tidak untuk disajikan di dunia hyperreality kata Jean Buadrillard ini. Amsal, dari urusan kebijakan pemerintah, urusan kampanye di momentum pesta demokrasi, urusan ekonomi, urusan pendidikan hingga urusan sedang galau saat diputus oleh pacar sekalipun.

Tak salah jika penulis menyebutnya dengan istilah digitalisasi kehidupan. Dalam kontesk ini, tentu ada kaitannya dengan sosial media. Baik Facebook, WhatsApp, Twitter, Line dan sejenisnya. Dengan akun Sosmed, kita bisa mengunggah lebih tepatnya mengumbar dengan sebebas-bebasnya kepada publik. Dari akun sosmed pula, kita bisa menyebarkan dan mengajak kepada kebaikan yang kebalikannya juga tidak bisa dipungkiri.

Menelaah Buzzer

Akhir-akhir ini, muncul istilah Buzzer. Istilah ini berasal dari bahasa Inggris. Buzz yang berarti alarm, isyarat ataupun pertanda. Pelaku buzz disebut Buzzer. Sedang menurut Ivan Lanin, pakar bahasa dan komunikasi, disebutkan bahwa Buzzer adalah pendegung informasi. Dari asal kata dan definsi yang dikatakan Ivan Lanin itu dapat kita pahami bahwa, Buzzer adalah pembuat, pemulai dan pendegung suatu informasi.

Kata Buzzer diserap ke dalam Bahasa Indonesia menjadi Baser. Baser diartikan adalah orang yang membicarakan, membranding lebih tepatnya membumingkan informasi. Buzzer ini sangat memiliki peran yang cukup signifikan dalam gerakan kampanye. Terlebih gerakan kampanye di momentum politik yang kerapkali berujung mengecewakan. Namun istilah Buzzer tidak boleh kita pahami hanya pada stigma negatif bahwa mereka hanya penyebar hoax atau informasi bohong. Karena Buzzer tidak hanya berkutat pada kegiatan kampanye politis dan pecitraan. Tidak. Akan tetapi mereka juga bergerak di bidang bisnis. Mereka juga menyebarkan informasi sebuah produk. Namun sejauh ini, kita terjebak di dalam mengartikan istilah Buzzer ini.

Para Buzzer ini, kata Enda Nasution, pemerhati sosial media, bergerak di akun-akun sosial media. Rerata, mereka tidak menampilkan identitas sebenarnya. Mereka rentan bergerak dengan label organisasi baik tersruktur maupun tidak tersetruktur. Buzzer dibagi menjadi dua. Buzzer idelologis dan Buzzer komersil.

Buzzer ideologis ini bergerak di sosial media atas dasar kesamaan idelogis dan tujuan. Mereka mendegungkan informasi dengan sukarela tanpa dibayar. Sedang buzzer komersil, bergerak karena ada yang menggerakkan serta dibayar.
Selain Buzzer, ada juga istilah Influencer. Istilah ini disematkan kepada mereka yang memiliki daya pikat sebab populatitas dan ketokohan. Para Influencer ini beragam. Ada yang memang politisi, aktris, tokoh pendidikan, tokoh agama dan tokoh lainya. Kesimpulannya, Influncer ini adalah public figure. Mereka menyebarkan bahkan mengembangkan informasi dengan tujuan untuk memengaruhi followersnya. Dari sinilah bisa kita membedakaan Buzzer dan Influencer. Menjadi Buzzer tidak harus memiliki followesr. Sedang Influencer adalah mereka yang sudah memiliki pengikut atau followers.

Apa Yang Harus Dilakukan Mahasiswa?

Dalam konteks ini, penulis mencoba untuk menelanjangi eksistensi mahasiswa dalam menghadapi dunia sosial media yang tak bisa lepas dari Buzzer ini. Membahas Buzzer dan mahasiswa, penulis akan lebih pada membahas Buzzer informasi kebijakan publik, gerakan politis dan sikap apa yang harus diambil oleh mahasiswa. Karena disadari atau tidak, mahasiswa adalah salah satu jembatan antara rakyat dan pemerintah. Lebih tepatnya, mahasiswa bertugas untuk selalu mengontrol kebijakan pemerintah yang kausalitas dari kebijkan itu adalah rakyat itu sendiri.

Lantas bagaimana seharusnya mahasiswa menyiapkan prisai agar mahasiswa bahkan masyrakat selamat dari Buzzer yang bergerak begitu gencar di ranah negatif.

Jadilah Mahasiswa Yang Melihat Dari Berbagai Sisi

Kaum intelektual adalah label lain daripada mahasiswa. Sebagai kaum intelektual, tentu kaya akan wawasan dan memiliki cara pandang yang bijkasana. Melihat sesuatu tidak boleh sempit apalgi fanatic atas hanya pada sesuatu yang menurut dirinya benar tanpa memerhatikan kebenaran pendapat atau sumber lain. Pernah anda mendegar kisah tiga orang buta saat ditanya sola gajah? Si A menjawab gajah memiliki kaki besar karena ia menyentuh bagian kaki saja. Si B menyentuh bagian belalai dan berkata bahwa gajah adalah hewan yang memiliki hidung panjang. Sedang si C berkata bahwa gajah adalah hewan bertelingan besar sebab ia menyentuh bagian telinga saja. Ketika disatukan, mereka tetap bersikukuh pada pendapat masing-masing dan menyalahkan satu sama lain. Mereka hanya meyakini apa yang mereka sentuh dan rasakan tanpa sadar bahwa mereka hanya menyentuh bagian-bagiannya saja tanpa keseluruhan.

Entah dari mana kisah itu berasal. Tapi dari kisah mereka kita bisa belajar bahwa, belum tentu yang kita yakini itu benar secara 100%. Dan belum tentu yang orang lain sampaikan – yang menurut kita salah-belum tentu salah.

Kuasai Sosial Media/ Dilarang Gaptek

Adalah niscaya semakin bertambahnya usia bumi dan peradaban manusia semakin berkembang, teknologi pun semakin berkembang. Dari yang dulunya ponsel hanya bisa digunakan untuk telepon dan sms, sekarang sudah bisa mengakses informasi di berbagai belahan dunia. Tidak hanya sebatas informasi peristitiwa. Keilmuan pun bisa kita akses dengan mudah dan cepat. Karenanya, mahasiswa harus bisa mengusai teknologi agar tidak stagnan pada ketertingalan informasi. Lebih tepatnya, mahasiswa harus bisa update infrormasi dan keilmuan.

Jangan Mudah Terjebak Judul

Banyak orang terjebak pada sebuah judul berita. Sehinga banyak dari mereka hanya cukup membaca judul lalu menyebarkan tanpa memerhatikan isi keseluruhan dari berita yang disebar. Jangankan kebenarannya, isinya saja sudah tidak tahu sebab kecerobohan.

Pastikan Media Yang Dibaca Betul-Betul Terpercaya

Link berita di era digital ini dengan gampang kita dapatkan dan share begitu saja ke berbagai sosmed. Lebih-lebih di WhatsApp, Facebook, Twitter dan lainya. Media massa memang sangat ampuh menjadi senjata untuk menembus popularitas, menghasut, merusak dan membangun citra. Ironisnya, sebab media massa yang sengaja dibuat untuk ladang Buzzer negatif antar golongan teradudomba dan mengakibatkan pecah belah bahkan perang fisik. Banyak antar suku, agama, golongan ini itu terjerat konflik sebab media. Oleh karana itu, hati-hati dengan media. Apakah semua media seperti itu? Tidak. Karenanya, biasakan membaca media yang sudah terpercaya dan jelas identitas keorganisasiannya.

Memahami Informasi: Mis-Informasi dan Dis-Informasi

Misinformasi:
Informasi yang salah, namun orang yang membagikannya percaya itu benar.

Disinformasi:
Informasi yang salah dan orang yang membagikannya tahu itu salah. Ini disengaja.

7 jenis mis dan disinformasi:

  1. Satire/parodi: Lucu-lucuan. Tidak ada niat untuk menyakiti, tapi berpotensi membodohi.
  2. Konten menyesatkan (misleading content): Konten sengaja dibuat menyesatkan untuk membingkai sebuah isu atau menyerang individu. Beritanya “dipelintir”.
  3. Konten aspal (imposter content): Seolah-olah sumbernya asli, padahal palsu.
  4. Konten pabrikasi (fabricated content): Konten yang sengaja dibuat untuk menyesatkan. Sama sekali tidak ada faktanya. 100% tidak benar.
  5. Gak nyambung (false connection): Judul berita, foto, dan caption gak nyambung sama isi beritanya.
  6. Konteksnya salah (false context): Konteks aslinya dihilangkan, lalu disebar. Akibatnya, orang menangkap informasinya di luar konteks yang sebenarnya.
  7. Konten Manipulatif (manipulated content): Informasi asli atau kontennya dimanipulasi.#

#(Disarikan dari materi Hoax Busting oleh AJI Indonesia)

Tips Melawan Hoax

Salah satu sumber informasi palsu dan menyesatkan adalah situs-situs abal-abal yang memproduksi informasi semata-mata demi uang.

Identifikasi situs abal-abal:

  1. Cek alamat situsnya. Kalau ragu, lakukan riset dengan domainbigdata.com. Ada juga
    situs abal-abal yang cuma beralamat di Blogspot.com.
  2. Cek detail visual. Perhatikan detail visualnya, misalnya gambar logonya yang jelek. Ada situs abal-abal yang menyaru mirip-mirip situs media mainstream.
  3. Waspada jika terlalu banyak iklan. Hati-hati dengan website yang banyak iklannya. Media abal-abal sekadar mencari click untuk mendapatkan iklan.
  4. Bandingkan ciri-ciri pakem media mainstream. Bandingkan sejumlah ciri yang menjadi pakem khas jurnalistik di media mainstream. Misalnya, nama penulisnya jelas, cara menulis tanggal di badan berita, hyperlink-nya yang disediakan mengarah ke mana, narasumbernya kredibel tidak, dan seterusnya.
  5. Cek: About us/Tentang Kami. Cek “About”nya. Media abal-abal selalu anonim. a) Sesuai UU Pers: berbadan hukum dan ada penanggungjawabnya. Cek, ada alamat yang jelas dan siapa saja orang-orangnya. b) Mencantumkan Pedoman Pemberitaan Media Siber.
  6. Waspada dengan judul-judul sensasional. Hati-hati dengan judul-judul yang terlalu sensasional. Baca beritanya sampai selesai. Jangan hanya baca judul lalu komen di media sosial.
  7. Cek berita ke situs mainstream. Apakah informasi yang sama ada di sana? Kalau ada, bacalah bagaimana situs mainstream melaporkan.
  8. Cek Google Reverse Image Search pada foto utama Cek foto utama apakah pernah dimuat di tempat lain, terutama di situs mainstream. Situs abal-abal biasanya selalu mencuri foto dari tempat lain.#

#(Disarikan dari materi Hoax Busting oleh AJI Indonesia)

*Tulisan ini disampaikan di Kajian Rutinitas HMPS TBIN IAIN Madura, Selasa (08/10/2019).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *