oleh

H Badri, Sosok Santri dan Pengusaha Tajir

-Tokoh-167 views

MediaJatim.com, Jember- Lazimnya, santri terjun pada profesi yang tidak jauh-jauh dari basisnya, seperti jadi guru, dosen, atau ustadz/da’i. Linier. Tidak banyak santri yang melompat jadi pengusaha, walaupun santri juga mempunyai potensi yang besar untuk menjadi entrepreneur. Ya santri sekaligus pengusaha. Keren. Dan itulah yang disandang oleh H Badri Hamidi.

Pria kelahiran Jember 05 November 1963 ini memang mempunyai jiwa entrepreneur yang tinggi. Pasang surut dalam dunia usaha telah ia alami, mulai dari travel hingga pendidikan. Bahkan bendera PT Baham Putra Abadi, cukup berkibar, dan telah mengirimkan ribuan TKI ke Arab Saudi. Baham adalah singkatan dari Badri Hamidi, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pegiriman TKI. Namun akhrinya gulung tikar setelah pemerintah Indonesia mengadakan moratorium pengiriman TKI ke Arab Saudi (2010).

Namun H Badri bukan jenis sosok yang mudah ciut nyali. Ia bahkan lebih agresif melakukan pelebaran usaha. Baginya, banyak jalan menuju roma. Pintu usaha bukan hanya satu. Sampai akhirnya ia membuka bisnis batubara, dan ditekuninya sampai hari ini.

“Alhamdulillah berjalan lancar, kita syukuri aja apa yang kita capai. Semua adalah titipan dari Allah. Kita manusia tidak punya kekuatan apa-apa tanpa pertolongan Allah,” ucapnya.

Kalimat tersebut khas ungkapan santri. Tidak pongah dan pasrah kepada Allah, itulah karakter santri. Dan memang, H Badri bukan santri tanggung. Ia cukup lama nyantri langsung kepada KHR As’ad Syamsul Arifin di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Asembagus, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur.

Kendati ia sibuk dengan usahanya di Jakarta, namun H Badri selalu menyempatkan diri terbang ke Jember, minimal sebulan sekali untuk mengunjungi sanak dan keluarganya di Bangsalsari, sekaligus sowan kepada pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo. Itu dilakukannya sejak lama.

Menurut H Badri, apa yang dicapainya saat ini tidak lepas dari doa para kiai dan barokah dari pendiri dan pengasuh pesantren yang sekian tahun diinapinya. Barokah baginya sangat nyata terasa manfaatanya meski wujudnya tak pernah kelihatan.

“Intinya kita mondok untuk mendapatkan barokah, setelah itu baru ilmu,” jelasnya.

Kendati telah jadi pengusaha, namun ia tetap rendah hati. Harta dan status sosial tak membuatnya congkak. Santri yang rendah hati dan pengusaha yang tajir, bersatu dalam diri H Badri. Inikah sosok yang dibutuhkan Jember dalam lima tahun kedepan? Wallahu a’lam.

Reporter: Aryudi A Razaq

Redaktur: A6

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *