oleh

H. Hadi: Jadilah Pemimpin, Bukan Penguasa

MediaJatim.com, Jember- Memegang kekuasaan memang gampang-gampang susah. Jika tidak hati-hati, kekuasaan tidak hanya bisa mengantarkan seseorang ke puncak kepongahan, tapi juga dapat menjerumuskannya dalam jurang kehancuran. Buktinya, banyak orang yang berkuasa tapi akhirnya mereka malah hidupnya menderita.

“Mudah-mudahan saya tidak seperti itu. Insya Allah saya bisa menjaga kekuasaan apapun yang diberikan kepada saya oleh Allah,” ujar Rektor Universitas Islam Jember (UIJ), H Abdul Hadi kepada MediaJatim.com di Jember, Sabtu (20/10).

Pernyataan H Hadi itu tampaknya bukan mengada-ada. Itu dibuktikannya sejak awal menjabat sebagai Rektor UIJ. H Hadi tidak sungkan-sungkan sesekali mengerjakan sesuatu yang seharusnya dilakukan oleh bawahannya. Tidak hanya itu, ia juga menunjukkan sifat yang rendah hati.

Baca Juga:  SMP-SMA Ma'arif 1 Pamekasan Borong Juara Lomba Pramuka di UIM

“Apapun jabatan saya di sini (UIJ) saya tetap pesuruh kiai, sebab yang mendirikan UIJ adalah NU dan para kiai,” terangnya.

Ya, H Hadi memag sosok yang sederhana dan jauh dari kesombongan. Kesederhanaan itulah yang ia praktikkan dalam hidupnya di berbagai posisinya. Karena itu, tidak heran jika dia disukai banyak orang, akrab dengan banyak tokoh, baik Muslim maupun lintas agama. Bagi H Hadi tak satu alasanpun manusia boleh menepuk dada. Sebab sombong adalah pakaian Allah.

Selain sebagai akademisi, H Hadi juga dikenal sebagai tokoh politik. Ia pernah menjadi Ketua Pengurus Anak Cabang (PAC) PKB Mayang, sebelum akhirnya menjadi Wakil Sekretaris dan Wakil Ketua DPC PKB Kabupaten Jember. Pada saat besamaan, H Hadi juga aktif di kepengurusn NU dan Ansor. Posisi politik yang dia sandang adalah menjadi Ketua PKIB (Partai Kebangkitan Indonesia Baru), yaitu partai yang didirikan oleh Yenny Wahid.

Baca Juga:  Gelar Seminar Nasional, FEBI UINSA Datangkan 5 Pengusaha Sukses

“Hidup itu tak akan pernah lepas dari politik. Karena itu, jangan kita memandang tabu politik,” ucapnya.

Politk memang identik dengan kekuasaan. Namun kekuasaan bukan untuk gagah-gagahan tapi sebagai pengabdian. Jika maknanya adalah pengabdian, maka kekuasaan sesungguhnya hanyalah alat. Karena itu, yang terpenting dalam terjun ke politik, tujuannya bukan ingin menjadi penguasa tapi pemimpin. Bukankah begitu H Hadi?

Reporter: Aryudi A Razaq

Redaktur: A6