oleh

Meneroka Rahasia Para Penulis Dunia

Judul: Menulis itu Indah
Penulis: Albert Camus, dkk.
Penerbit: Octopus
Cetakan: I, 2016
Tebal: xiv + 258 halaman
ISBN: 978-602-72743-8-9

Setiap saat, kita disuguhi berita-berita yang berasal dari seluruh penjuru dunia. Berbagai isu, kabar, hasil, dan segala hal diolah sedemikian rupa supaya memantik minat publik. Informasi berupa tulisan selalu menyertai sebagai konten yang padu. Ketika dihadapkan pada informasi berupa tulisan, apakah sesuai fakta atau justru hoaks, dibutuhkan kemampuan cermat dalam menilai dan mencerna.

Profesi menjadi penulis semakin hari semakin diminati. Penulis pun hendaknya bersikap jujur dalam menyajikan tulisannya. Menulis sebagai kebutuhan dan branding. Karya yang dihasilkan akan dikenang zaman. Termasuk penulis karya sastra (pengarang) selalu berupaya mencari dan mengolah kebaruan yang khas. Menulis juga menghasilkan keuntungan, misalnya honor atau hadiah, kepopuleran, pujian, dan pengakuan.

Untuk menghasilkan tulisan bermutu dan efektif memang tidak mudah. Butuh ketekunan dan kesungguhan dalam mengerjakannya. Tulisan bersifat panjang umur, bahkan bisa melampaui usia penulisnya sendiri. Penulis mati, karya masih ada: abadi. Daya dalam tulisan juga lebih superior untuk memengaruhi perasaan dan pikiran pembaca. Suatu tulisan atau ilmu akan terus dipelajari dari generasi ke generasi. Inilah kemagisan yang tak lekang oleh perubahan zaman.

Karya tulis atau karya sastra berbeda dengan karya seni lainnya. Penulis harus menjamin karyanya orisinil, hasil buah pikir atau olah imajinasinya sendiri. Bukan hasil memplagiat karya milik orang lain. Jika meniru tulisan, lalu dianggap sebagai karya pribadi, itu termasuk tindakan mencuri. Sekali ketahuan plagiat, tidak ada ampun, jatuhlah reputasi dan prestasinya. Berbeda misalnya, orang-orang menirukan lirik lagu ciptaan penyanyi top dengan menyanyikannya, itu sudah menjadi hal lumrah.

Baca Juga:  Nabi Muhammad Sang Teladan Hidup

Maka dari itu, para penulis pemula atau amatir harus memperbanyak belajar dari penulis yang sudah berpengalaman. Buku “Menulis Itu Indah ini menghimpun pengalaman para penulis dunia. Menyajikan esai-esai penulis besar, seperti Albert Camus, Bertrand Russell, Erdward Said, George Orwell, Jorge Luis Borges, Gabriel Garcia Marquez, dan nama tenar lainnya. Hadir dengan beragam perspektif tentang dunia kepenulisan.

Menurut Albert Camus, seni tidak pernah bisa begitu bermanfaat jika kita memulainya dengan pikiran negatif. Kegelapan menjadi hal penting untuk memahami karya besar karena gelap pun bisa menjadi terang.

Bertrand Russell memberi tips bagaimana dia menulis. Pada usia 21 tahun ia belajar dari John Stuart Mill, karena menyukai struktur kalimat dan caranya mengembangkan pokok permasalahan (hal 9). Nasihatnya yang paling terkenang adalah bahwa seseorang harus selalu menulis ulang (hal 10). Bertrand menambahkan, apa yang harus ditulis adalah apa yang muncul seolah-olah sebagai wahyu (hal 11).

Caros Fuentes dalam esai berjudul Penulis Punya Tanggung Jawab, menurutnya tanggung jawab riil seorang penulis terhadap masyarakat adalah meletakkan kekuatan imajinasi dan kemampuan komunikasi bahasa. Kita punya tanggung jawab melalui bahasa karena sikap merendahkan bahasa terus-menerus dilakukan, yang mengakibatkan informasi tidak tersampaikan (hal 16).

Baca Juga:  Pembukaan Tahun Ajaran Baru dan Sistem Pembelajaran di Masa Pandemi

Misi penting bagi penulis adalah berusaha menunjukkan bahwa bahasa dapat melakukan sesuatu dan dapat ditempatkan sebagai sesuatu. Ada banyak kerugian bahasa yang ditimbulkan oleh media dan tulisan-tulisan di bidang politik. Penulis punya tugas membersihkan kembali deretan kata-kata.

Gabriel Garcia Marquez meyakini bahwa ketekunan lebih mendatangkan maslahat daripada sekadar peniruan. Yang mau menulis harus rela berpeluh untuk menemukan rahasia di balik derai-derai halaman buku yang menampilkan deretan aksara itu. Marquez mengatakan, Cara terbaik yang dapat membuat seseorang dapat menjalankan revolusi adalah menulis sebaik apa yang dapat dia lakukan.”
Menurut Jorge Luis Borges, kegiatan menulis memerlukan pemahaman atas pengalaman manusia yang esensial: kehendak untuk hidup soliter sekaligus solider; kasih dan rasa benci; persahabatan dan perasaan unggul diri. Seorang penulis mmerlukan pemaknaan yang dihadirkan dari rahim semesta. Begitulah, menjadi penulis sama halnya dengan menjadi pemimpin yang sadar akan keharusan berbagi cerita (hal 91-93).

Esai-esai sastra dari sederet penulis dunia ini bukan metode yang wajib ditaati. Bahasa esai sastra memang unik, perlu ketekunan memahaminya. Namun, selalu tersisipi kisah dan pengalaman berharga yang berguna bagi kita semua. Misalnya, bagaimana Mark Twain berkisah tentang lika-liku pelik yang dihadapinya hingga bukunya terbit.(*)

Oleh: Teguh Wibowo, bergiat di Forum Lingkar Pena (FLP) Jawa Timur. Menulis resensi buku dan puisi, atau kadang-kadang cerpen, esai, dan opini. Suka menikmati aroma buku dengan meresensinya.