oleh

Malik Effendi Ungkap Ketidakadilan Pembangunan di Kepulauan

MediaJatim.com, Sumenep – Politisi senior Malik Effendi menegaskan, daerah kepulauan di Sumenep sebenarnya memiliki kekayaan alam terutama sektor migas. Namun, hingga sekarang masyarakat kepualauan masih berada di bawah garis kemiskinan.

Hal ini, kata Malik, akibat data variabel pembangunan yang tidak seimbang antar luas geografis, jumlah penduduk dan potensi kekayaan daerah sehingga pemetaan masalah tidak tepat sasaran.

Malik menjelaskan, Sumenep merupakan wilayah kepulauan dengan luas wilayah 2.093,47 Km² yang terdiri dari 54,79% daratan dengan sebaran 18 kecamatan dan 45,21% kepulaun terbagi jadi 9 kecamatan. “Ini artinya hampir separuh luas wilayah Sumenep ada di kepulauan,” kata Malik.

Adapun jumlah penduduk Sumenep mencapai 1.128.596, hampir sepertiga berasal dari kepulauan yakni 334.727. Jika dalam presentase sebesar 29.6%. “Hampir 30 persen,” kata mantan anggota DPRD Jatim ini.

Menurut Malik, kekayaan Sumenep lebih dari separuh berasal dari kepulauan dengan melihat potensi lahan pertanian dan luas lautnya. Luas persawahan penghasil padi dan jagung mencapai 45,1% dari seluruh area persawahan Sumenep. Luas perairan Sumenep 50.000 Km² dan sebesar 70% merupakan area kepualaun.

Adapun hasil persawahan dan hasil laut kepulauan, sebagai berikut. Panen padi tahunan mencapai 117.126 ton atau 45,6% dari seluruh hasil panen Kabupaten Sumenep. Jagung sendiri mencapai 144.917 ton dengan persentase 35,06 persen. Sedangkan tangkap ikan sebesar 20.391 ton atau 42,8% dari seluruh hasil tangkap ikan Kabupaten Sumenep per tahun.

Baca Juga:  Kasus Vaksinasi Santri Sumber Gayam, Ini Rilis Kepolisian

“Itu belum lagi dengan gas dan minyak bumi serta destinasi wisatanya,” jelasnya.

Melihat data tersebut, mantan anggota DPRD Sumenep dua periode ini menyangkan terkait pembangunan di kepulauan. Ia menilai belum tersentuh secara maksimal bahkan cenderung terabaikan dibanding pembangunan di daratan Sumenep, baik geografis ataupun pembangunan sosio kultural.

Akibat pembangunan yang tidak merata, Indeks Pembangunan Manusia (IMP), Sumber Daya Manusia, Pertumbuhan Ekonomi dan nilai pendapatan di kepulauan masih rendah dibanding di daratan.

Jawa Timur, jelas Malik, memiliki lima kantong kemiskinan dan Sumenep berada di urutan nomer lima. ”Tahun 2019, kemiskinan Sumenep naik 0,54%, dan kemiskinan banyak ada di kepulauan,” katanya.

Ia sangat menyayangkan. Segala potensi yang dimilik kepulauan Sumenep tidak berimbang dengan pertumbuhan ekonomi di sana. Bahkan menurut Malik, warga kepulauan Sumenep yang penduduknya terkategori miskin mencapai 39,1 persen. “Ini artinya hampir separuh penduduk kepulauan miskin,” ujar Malik.

Baca Juga:  Oknum Dosen IAIN Madura Dinilai Lecehkan PMII

Adapun suntikan dana pembangunan kepulauan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Sumenep tidak sampai 30 persen.

Pada APBD 2020 anggaran infrastruktur yang mencapai kisaran 285 miliyar, kepulauan hanya disuntik dana 29%, yakni sekitar 81 Milyar. Sedangkan pada 2014 untuk kepulauan hanya 21% dan 2015 naik 3% menjadi 25%.

Artinya sejak 2014, besaran anggaran infrastruktur sebanyak 70% lebih fokus di daratan. Hal ini, Malik, antara lain yang menyebabkan angka kemiskinan di kepualuan masih besar. Bahkan ia menyebut pemerintah terkesan diskriminasi ke kepulauan.

”Seharusnya luas wilayah, jumlah penduduk, tingkat kemiskinan, kondisi wilayah, aksebilitas dan SDA menjadi variabel kajian dalam menentukan kebijakan. Daerah yang memilik potensi lebih besar (kepulauan) memilik porsi lebih besar,” tegasnya.

Ia menegaskan, persoalan kemiskinan bukan hanya karena tabiat masyarakat yang pemalas. Karena, imbuh Malik, kemiskinan ada beberapa macam yakni relatif, alamiah, subjektif, dan kultural.

Jika kemiskinan di kepulauan masuk kategori relatif menurut Malik akibat ketimpangan Keadilan. ”Jadi kalau kemiskinan di kepulaiuan banyak, karena ketimpangan keadilan pembangunan, karena tidak merata,” tegasnya.

Reporter: Ubaidillah

Redaktur: Sulaiman

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *