Ragam Hiasan Perahu Nelayan, Warga Pasean Sambut Ritual Petik Laut

MEDIAJATIM.COM, PAMEKASAN –  Warga nelayan menyambut gembira kehadiran Bupati Pamekasan, Ahmad Syafii yang ikut berlayar arungi laut saat ritual petik laut, Senin (10/4/2017). Cuaca Senin ini begitu cerah menyambut ratusan armada perahu petik laut berhias. Wajarlah nelayan menyambut  ritual kedatangan musim ikan.

“Saya tadi mendengar jika ada tiga orang pemilik perahu penangkap ikan yang menghabiskan ongkos tiga juta rupiah untuk menghias perahu miliknya. Acara ritual petik laut memang disambut luar biasa kalangan nelayan. Baik di pantai selatan maupun pantai utara seperti di Pasean sekarang ini,” kata Syafii diatas perahu nelayan.

Pantai Pasean memang berbatasan langsung dengan Samudera Indonesia. Itu sebabnya, tak sedikit kapal-kapal besar melintas di kawasan Pantai Pasean.  Tak heran jika gerakan gelombang laut relatif lebih besar dan tinggi ketimbang pantai selatan Pamekasan.

Acara ritual petik laut selalu digelorakan kalangan nelayan disaat menyambut musim ikan. Tahun ini, musim ikan sudah dimulai sejak kalender Jawa/Hijriah masuk bulan Rejeb/Rajab. Senin tadi malam, diameter bulan sudah bulat sempurna. Artinya  musim “tera’an” yang dikalangan nelayan dianggap masa paceklik ikan telah berlalu.

“Saat bulan purnam mencapai puncak dan perlahan mengecil hingga berubah jadi bulat sabit, disaat itulah musim ikan tiba. Dan selanjutnya musim ikan brlangsung hingga tiga bulan kedepan,” paparnya.

Baca Juga:  KKN UIM Gelar Pelatihan Pemanfaatan Bahan Sisa Sebagai Media Pembelajaran

Terpisah, Haji Usman, pemilik perahu berhias asal Desa Sotabar, Kecamatan Pasean, membenarkan jika pekan ini telah masuk musim ikan.

“Agar kami para nelayan selamat saat melaut tangkap ikan, kami percaya ritual petik laut harus digelar oleh seluruh nelayan yang ada di Kecamatan Pasean,” tutur Usman.

Menurut Usman, acara ritual petik laut menjadi pesta ritual nelayan. Nelayan pun tak pelit lagi mengeluarkan uang untuk suksesnya petik laut.

“Kami urunan mengumpulkan uang untuk membuat sampan kecil berisi aneka buah, aneka menu ayam dan daging, serta kepala sapi untuk sesaji pada penguasa laut yang tidak lain adalah Gusti Allah,” papar Usman.

Baca Juga:  Sepakat Menangkan Fauzi-Nyai Eva di Pilkada Sumenep

Ritual petik laut di Madura mirip dengan di Jawa. Seluruhnya diwarnai melarungkan sesajen, sesaji atau sesembahan bagi penguasa laut. Sampan kecil berisi sesaji itu disebut “bithek” lengkap dengan bunga tujuh rupa.

Menurut Usman, nilai filosofi sesaji sebenarnya bentuk rasa syukur para nelayan atas limpahan rezeki selama ini. “Termasuk rezeki berupa keselamatan dan kesehatan,” ucap Usman.

Sebelum “bithek” dilarung, selruh nelayan menggelar doa bersama dengan harapan upaya yang mereka lakukan akan menambah penghasilan tangkapan nelayan disana di masa-masa yang akan datang. (Marul Shaleh)

WhatsApp chat