Karaoke Esek-esek, Legitimasi Terselubung

  • Bagikan

Oleh: Musannan Abdul Hadi

Mau mengamati persoalan bangsa dan negara Indonesia ini rasanya terlalu besar. Selain sudah banyak para pengamat yang sudah memberikan evaluasi dan apresiasi terhadap keberlangsungan negeri ini, rasanya tidak mempunyai kapasitas yang mumpuni untuk mengkajinya. “Lha, wong ditingkat lokal saja tidak kalah kompleks persoalannya. Tidak usah jauh-jauh”.

Jangankan mengkaji persoalan Indonesia yang besar ini, mengkaji persoalan yang terjadi di tingkat lokal Pamekasan saja rasanya belum mampu. Maksudnya, belum mampu menganalisis maksud dan tujuan pemerintah dalam setiap kebijakannya. Karena pasti setiap kebijakan mengandung maksud yang akan dijadikan sebagai indikator gagal atau berhasilnya suatu pemerintahan. Selebihnya untuk meningkatkan Penghasilan Asli Daerah (PAD). Seperti kebijakan deposito tahun ini dan tahun sebelumnya.

Seperti kejadian yang telah mencoreng gerbang salam untuk kesekiankalinya ini. Setelah beberapa kejadian, mulai dari tarian erotis di arena lomba balap motor (tempat umum), dangdutan di bulan Ramadan, pejabat pemerintah kedapatan mengganti tanda nomor kendaraan bermotor (TNKB), kini muncul lagi karaoke esek-esek. Karaoke esek-esek ini banyak menyita perhatian warga, hingga meluruk sampai kecamatan setempat dengan membawa alat bukti berupa gambar setengah telanjang dan video praktek. Praktek yang keluar dari norma agama tersebut pasti lebih seru dari sekedar gambar.

Baca Juga:  Bangkalan, Gerbang Kesejahteraan Madura

Sebelum dianggap menistakan agama, sebaiknya ikon Gerakan Pembangunan Syariat Islam (Gerbang Salam) yang melekat pada Kabupaten Pamekasan ini segera dicabut dan diganti dengan yang lainnya. Bisa dengan ikon: kota sejuta janji, atau kota seribu mimpi, kota gerakan pembangunan gedung karaoke, kota para pelupa, kota jalan berlubang, atau lubang berjalan, dan lain sebagainya. Yang penting bukan syariat Islam, biar tidak menciderai Islam sebagai agama yang dianut oleh mayoritas masyarakat Madura.

Membawa-bawa agama dengan perilaku yang tidak sesuai dengan norma agama, itu sama saja dengan menciptakan citra buruk bagi agama itu sendiri. Menjaga agama cukup dengan menerapkan perda yang sudah dibuat dengan baik dan benar. Jangan hanya dibuat untuk menghabiskan anggaran dalam paripurna, tapi harus terukur apakah perda itu bisa direalisasikan atau tidak.

Baca Juga:  Jago Pencitraan, Bupati Pamekasan Abaikan Warga Miskin

Kebobrokan ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut, karena setiap daerah itu adalah kompetitor bagi daerah lainnya. Menyandang citra buruk itu tidak senikmat makan di sawah ketika dikirim ibu diwaktu panen padi. Bayangkan saja, kalau orang luar daerah mengenal kota kita dengan kota karaoke esek-esek. Ah, sudahlah!

Yang jelas ketika ada kejadian di sebuah daerah, masyarakat pasti akan bertanya, siapa kepala daerahnya. Ketika maksiat merajalela, pasti akan berbicara tentang era kepemimpinan siapa. Ayo, siapa yang tahu kepala daerahnya?

Musannan Abdul Hadi, Sekretaris Lesbumi PCNU Kabupaten Pamekasan.

  • Bagikan
WhatsApp chat