Membangun Negeri Dengan Mental Sufi

  • Bagikan
foto © sufiroad.blogspot

Oleh: Moh. Jufri Marzuki

Malam ini, Waktu di pojok atas smart phone saya menunjukkan jam 23.17 WIB. Desir angin malam di sepanjang perjalanan menuju rumah, tempat saat ini saya melepas lelah, masih terasa dingin seakan membeku di wajah. Merebahkan badan, sambil menulis hasil refleksi dari sebuah diskusi ilmiyah yang panjang, namun mencerahkan.

Inilah malam kali pertama saya mengikuti kajian ilmiyah bersama teman-teman lintas profesi di kontrakan seorang teman yang dulu satu organisasi dan satu napas perjuangan. Anggotanya terdiri dari kalangan akademisi, aktifis, jurnalis, penulis lepas, ustadz, guru dan ada pula dari kalangan mahasiswa yang relatif usianya masih muda, namun tak mengurangi kredibilatas mereka saat bertukar wacana dan memperkaya nilai kajian kami secara intelektual.

Dimulai dari prolog forum yang disampaikan seorang jurnalis, dan disambung dengan sedikit tambahan semacam catatan kaki oleh teman aktivis, perlahan suhu diskusi semakin memanas dan alot namun tetap dalam suasana kebersamaan yang akrab. Sesekali riuh tawa mengalir tak terbendung, saat ada peserta forum melempar tanggapan bernada guyonan.

“Kolom Ilmiah Al-Ghazali”, begitulah kira-kira nama Forum ini. Tidak seperti namanya, Forum ini ternyata lebih banyak mengkaji pemikiran tokoh selain Al-Ghazali yang terkenal dengan karya monomentalnya dengan berjudul Ihya’ Ulumuddin. Bahkan pemikiran tokoh lain seperti Imam Ibnu Athoillah Al-Iskandari, Ibnu Khaldun dan KH. Wahab Chasbullah juga diangkat dalam tema diskusi forum ini.

Khusus malam ini, Pemikiran Ibnu Athoillah menjadi tema sentral. Ternyata nilai-nilai sufistik yang dipopulerkan tokoh ini masih sangat relevan jika di terapkan dalam kehidupan keseharian kita. Meski derajat ke-sufi-an sang tokoh terlalu jauh untuk kita jangkau, namun pesan-pesan moral kerohanian yang banyak ia sampaikan dalam kitab Al-Hikam, dapat kita petik sebagai arah jalan hidup yang lebih mengutamakan Tuhan dari dari segalanya, karena selain Dia, semua adalah Makhluk-Nya.

Dalam konteks kehidupan yang mulai sepi dari nilai-nilai ketuhanan ini, kekeringan spiritual melanda dalam setiap aktifitas manusia, bahkan dalam kegiatan ibadah sekalipun. Dalam ritual ibadah, Tuhan tak lagi disembah atas dasar fitrah kita sebagai hamba, yang mestinya menyembah tanpa pamrih apa-apa. Ikhlas tanpa embel-embel keinginan yang bersumber dari nafsu dunia fana.

Pamrih ini telah menjadi penghalang antara penyembah dengan yang disembah, karena masih mengharapkan balasan di tengah kekhusyu’annya dalam beribadah. Seorang hamba harus menyingkirkan hal-hal yang bersifat materi, hasrat birahi dan nafsu duniawi dengan sebersih-bersihnya agar terjalin hubungan intim yang tak berbatas dan tak berjarak saat beribadah menyembah Tuhannya.

Surga, adalah lambang materi. Di dalamnya, diceritakan terdapat bidadari cantik yang sejatinya adalah simbol hasrat birahi. Sedangkan ranjang-ranjang emas, telaga bening yang indah, dan taman-taman rindang yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, tidak lebih hanyalah simbol-simbol duniawi yang sejatinya hanyalah iming-iming Tuhan bagi umat manusia di masa-masa awal Nabi mendakwahkan Islam di sana, di negeri Arab. Tujuannya agar mereka tertarik dan terobsesi untuk memeluk Agama Islam.

Baca Juga:  Permendikbud 15/2018: "Kiamat Sughra" Guru Swasta

Maklum, Kecenderungan penduduk Arab waktu itu sangat mendambakan sebuah kebun atau taman-taman yang rindang, teduh dan sejuk karena cuaca di sana begitu panas menyengat. Tanahnya tandus, tak ada tumbuhan hijau, apa lagi sungai yang airnya jernih mengalir.

Sedangkan neraka, adalah serupa api yang digambarkan panasnya berlipat-lipat ganda. Seperti halnya pernak-pernik surga, neraka adalah simbol materi namun fungsinya sekedar menakut-nakuti, agar masyarakat Arab waktu itu menjadi ngeri, takut dan tidak berani lagi bertahan hidup dengan kekafiran. Karena, panasnya suhu Arab yang begitu menyiksa, tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan suhu panas di neraka.

Selama ini, begitulah mental ibadah kita; menyembah Tuhan hanya karena menginginkan surga dengan segala fasilitas dan kenikmatannya. Tunduk dan patuh pada perintah-Nya hanya karena takut pada Neraka dan segala bentuk siksa yang ada di dalamnya. lalu bagaimana seandainya Islam diturunkan di wilayah kutub utara atau selatan yang dinginnya tak terhingga? mungkin iming-iming dan ancamannya akan berbeda.

Betapa childish-nya keberagamaan kita selama ini. Tipu daya kenikmatan duniawi selama ini telah menjerat mental ibadah kita menjadi kekanak-kanakan dan tidak dewasa. Ada benarnya juga mencerna lirik lagu yang dinyanyikan oleh Ahmad Dhani faet Almarhum Chrisye; “… jika surga dan neraka tak pernah ada, masihkah kau sujud kepada-Nya …”. Nyaris sempurna.

Lagu itu mungkin saja terinspirasi dari pemikiran sufis Imam Ibnu Athoillah; mengajak kita menyembah Tuhan dengan ikhlas atas dasar fitrah tugasnya sebagai hamba yang senantiasa mengagungkan Tuhan, tanpa mengharap ada kompensasi balasan apa-apa, apa lagi hanya karena takut akan ancaman dari siksa api neraka.

Sejatinya, semua itu hanyalah pintu masuk awal menuju ibadah yg lebih dewasa, tanpa rasa terpaksa oleh neraka dan tergiur daya tarik surga. Saat seorang hamba menyadari fitrahnya, maka ketika beribadah secara total, intim, murni, dekat tak berjarak tanpa tirai penghalang, akan menemukan suasana batin yang begitu indah dan nikmat hingga lupa apa itu surga dan neraka. Yang ada hanya Tuhan semata. Ia beribadah karena panggilan suci dari sudut batinnya yang paling sunyi.

Bagaimana seorang hamba ketika harus menjalankan perannya sebagai Khalfah di muka bumi? Maka jawabnya, dunia harus dihadapi, bukan dihindari, apa lagi sampai lari. Hanya saja, harus diimbangi dengan sikap asketis (ukhrawi) agar tidak terpedaya oleh cara pandang materialistis (duniawi).

Meminjam bahasa santri, keberadaan segala materi duniawi dipandang sebagai “wujuduhu ka ‘adamihi”. Keberadaannya, tak jauh beda dengan ketiadaannya. Kehadiran limpahan harta, jabatan yang membesarkan nama dan segala kebanggaan dunia, tidak lebih hanya titipan semata. Maka saat mendapatkan dan harus kehilangan tidak memberikan efek yang berarti dan berlebihan secara psikologis.

Baca Juga:  Bawaslu: Kinerja PPK Kadur Bagus, Nihil Pelanggaran!

Materi dan kekayaan duniawi dipandang kecil hanya seperti uang koin yang paling rendah nilai rupiahnya; Mendapatkannya tidak membuatnya senang gembira, apa lagi menyombongkannya. Kehilangannya tidak menjadikannya gundah gulana, apa lagi menderita.

‘Kaya’ dalam perspektif kehidupan sufistik yang dijalankan Imam Ibnu Athoillah adalah ‘cukup’. Tidak bisa dikatakan kaya jika kehidupan seseorang dipenuhi rasa kurang dan kurang, sehingga sebanyak apa pun harta yang ia dapatkan tetap akan terus mencari tambahan karena tidak pernah merasa berkecukupan. Pada gilirannya menimbulkan ketamakan dan kerakusan. Akhirnya berbuntut pada kejahatan yang menghalalkan segala cara, seperti korupsi, suap dan pungli.

Lain halnya jika merasa cukup, maka meski hanya sedikit akan tetap diterima dengan lapang dada, senang gembira, dan tentunya dengan rasa syukur yang tak terhingga. Lahir kemudian sikap qona’ah yang menjauhkannya dari sikap rakus dan serakah. Pada gilirannya, sikap kriminal yang kotor  tidak memiliki tempat untuk tumbuh dalam jiwanya. Yang ada hanya rasa syukur, tanpa terbetik sedikitpun untuk meminta dan mencari tambahan, apa lagi dengan jalan yang tidak bermoral dan tentunya jauh dari ridlo Tuhan.

Maka sebenarnya, banyak di sekitar kita yang dalam pandangan umum hidupnya miskin dan serba kekurangan, namun sebenarnya dalam perspektif tasawuf justru sangat kaya karena mampu menerima keadaan apa adanya. Banyak pula yang bergelimang harta, namun dalam penilaian kaum sufi justru adalah orang yang paling miskin, karena tidak mampu menerima dengan ikhlas dan lapang dada. Bahkan dinilai tak bermartabat karena meresponnya dengan melakukan aksi kejahatan di luar etika kemanusiaan yang merugikan.

Aktualisasi nilai-nilai tasawuf ini sangat urgen menjadi cara pandang kita dalam berkeseharian. Tak terkecuali dalam kehidupan ekonomi, sosial, politik dan kebangsaan. Dengan membumikan nilai-nilai sufistik, diharapkan tidak akan ada lagi Penyalahgunaan anggaran dan kasus pencucian uang. Tidak hanya itu, tersangka kasus korupsi tidak akan bertambah lagi, aksi suap juga dapat diredam dan gagal terjadi karena pelaku dapat mengesampingkan nafsu duniawi serta keserakahan diri.

Produk dan hasil pertanian lokal di negeri ini pun dapat bernilai jual tinggi, karena tidak ada lagi oknum pemangku kebijakan yang memuluskan impor barang dan bahan makanan dari luar negeri demi mendapat komisi yang menguntungkan dan memperkaya diri sendiri. Kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin akan teratasi, karena akan tercipta semangat dan suasana saling berbagi. Semoga!!

 

*) Penulis aktif di Forum Kolom Ilmiah Al-Ghazali, Saat ini tercatat sebagai Anggota Majelis Alumni IPNU Cabang Pamekasan, Tinggal di Nyalaran-Blumbungan Pamekasan.

  • Bagikan
WhatsApp chat