Cinta Itu Titik, Bukan Koma

  • Bagikan
Foto © hotelroomsearch
Foto © hotelroomsearch.net

Oleh: Moh. Jufri Marsuki

Suatu ketika di ruang kelas, seorang siswi mengajukan pertanyaan yang melenceng jauh dari materi pelajaran yang baru saja saya sampaikan. Dengan nada penuh penasaran, serius dan polos dia bertanya, “Bapak, bagaimana cara membedakan antara cinta dengan nafsu, antara yang tulus dengan yang ada maunya, antara yang ikhlas dengan yang pamrih dan antara yang sejati dengan yang ada tendensi”?.

Sungguh pertanyaan yang aneh. Sebagai seorang guru, saya harus menyikapinya secara bijak. Merespon setiap pertanyaan siswa agar merasa dihargai adalah tugas seorang pendidik, meski sekecil dan seremeh apapun pertanyaan itu, bahkan yang tabu sekalipun. Yang penting tetap bermuatan pendidikan, keilmuan dan menambah wawasan. Sekolah tempat saya mengabdi ada di lingkungan pesantren, maka perlu hati-hati memberikan pemaparan jawaban agar tidak menabrak dinding tradisi pesantren yang harus tetap dijaga dan dilestarikan.

Pertama-tama saya ingin mengatakan bahwa “cinta itu titik, bukan koma”. Kira-kira itu yang disampaikan oleh seorang penulis (yang tidak bisa saya ingat namanya) dalam sebuah bukunya yang berjudul “CINTA ITU BERKAH, BUKAN MUSIBAH”. Artinya, bukan cinta jika masih ada embel-embel di belakangnya. Cinta seseorang patut diragukan jika masih membutuhkan alasan. Cinta yang sejati adalah perasaan senang jika mendengar namanya, Damai jika bersamanya, gembira jika mendapat kabar baik tentangnya, tenang jika tampak sehat atau baik-baik saja keadaannya dan kita adalah orang pertama yang paling bahagia di dunia apabila melihat dia bahagia. Titik!

Hati-hati jika cinta kita memiliki sederet alasan, misalnya karena dia cantik atau tampan, dia kaya, dia keturunan bangsawan atau dia memiliki banyak kehebatan. Jangan-jangan itu bukan cinta, tapi nafsu. Yang saya maksudkan dengan nafsu di sini bukan hanya nafsu birahi, tapi nafsu ingin memiliki. Kata memiliki identik dengan materi. Badan, rupa, barang, uang, harta dan segala sesuatu yang bisa dijadikan hak milik adalah materi. Padahal cinta yang sejati tidak mengenal itu.

Baca Juga:  Revolusi Polusi

Cinta dan memiliki adalah dua hal yang berbeda, bukan satu kesatuan. Belum tentu dua orang yang saling memiliki maka saling pula mencintai. Belum tentu juga dua insan yang saling mencintai maka saling pula memiliki. Sekali lagi belum tentu. Meski, tak jarang ada pula mereka yang saling mencintai, saling pula memiliki dalam satu ikatan jodoh. Itu takdir namanya. Lalu bagaimana jika takdir tidak mempersatukan? Apakah kita tidak berhak mencintainya?

Cinta itu hak setiap orang. Ia bersifat pribadi, rahasia dan tempatnya jauh di palung hati yang terdalam. Tidak ada satupun orang lain yang mampu menghalau apa lagi melarangnya. Cinta itu datang tanpa bisa kita undang. Cinta ada bukan atas kemauan sisi kemanusiaan kita. Cinta bersemayam dalam jiwa karena tangan Tuhan yang meletakkannya. Mengusir cinta sama halnya melawan kehendak yang maha kuasa. Cinta itu pemberian Tuhan yang harus kita jaga, kita rawat dan kita syukuri sebagai suatu karunia terindah. Dengan cinta kita memiliki energi dan motivasi untuk lebih positif lagi dalam menjalani hidup ini. Karena cinta itu memang berkah, bukan musibah. Bukanlah cinta jika cara menyikapinya berujung musibah, melainkan hanyalah nafsu serakah.

Cinta mau dijadikan berkah atau musibah adalah tergantung orang yang menanggungnya. Jika tulus, ikhlas, murni dan sejati maka cinta ada sebagai berkah. Namun jika pamrih, memiliki alasan, penuh embel-embel, ingin dimiliki selamanya maka jelas itu nafsu serakah. Terima dan syukuri adalah kata kuncinya. Jika Tuhan memberi satu, jangan meminta dua. Jika Tuhan memberi kita rasa cinta, jangan berharap dan meminta untuk memiliki dan menguasai sebagai milik kita satu-satunya. Tak semua yang kita cintai harus kita miliki. Hanya orang-orang tertentu yang bisa merasakan cinta sebagai anugerah terindah. Banyak sekali hati manusia yang miskin cinta, hanya diliputi rasa benci, geram, dendam, iri dan dengki dalam hari-harinya. Terima, syukuri dan nikmati keindahan cinta yang kita rasa agar terasa berkahnya sebagai bagian dari nilai ibadah.

Baca Juga:  Jokowi-Ma’ruf Amin, Interpretasi Umara dan Ulama?

Saya jadi teringat kisah Layla dan Majnun dalam sebuah novel klasik berlatar negeri gurun sahara. Menurut riwayat ternyata tokoh bernama Layla tidak secantik yang diceritakan. Demikian pula Majnun juga tidak setampan yang kita bayangkan. Latar belakang atau keberadaan keluarga kedua remaja itupun juga bukan dari kalangan bangsawan dan hartawan. Hanya saja cinta mereka terlarang karena berasal dari dua buah suku yang saling bertentangan dan bermusuhan sejak nenek moyang sehingga menjadi warisan masa lalu yang tak pernah bisa didamaikan, sehingga cinta Layla dan Majnun menjadi korban.

Kesejatian cinta kedua tokoh dalam cerita novel di atas memang tidak bisa diragukan. Lalu kenapa cinta keduanya berujung musibah, bukan berkah? Jawabannya karena ada unsur nafsu ingin memiliki di dalamnya. Padahal dicintai dan mencintai adalah hak setiap orang, akan tetapi keduanya lupa bahwa takdir saling memiliki adalah hak mutlak Tuhan yang tak bisa digugat dan dipaksakan. Semakin dipaksakan, hanya menyisakan derita hati dan perasaan. Cinta mereka yang awalnya suci akhirnya keruh terkotori oleh nafsu atau keinginan untuk saling memiliki. Harusnya, cinta itu dijalani, disyukuri, diindahi dan diibadahi dengan cara tawakkal kepada sang Maha Kuasa agar mampu menerima apapun akhirnya. Bukan malah dijadikan beban perasaan yang akhirnya merugikan kesehatan dan berujung kematian. Cinta akhirnya kandas saat raga berhenti bernafas.

 

*) Penulis adalah penikmat literasi di tengah aktifitasnya sebagai guru SMK. Saat ini tercatat sebagai anggota di Forum Majelis Alumni IPNU Cabang Pamekasan.

  • Bagikan
WhatsApp chat