Uang Saku dan Pendatang Baru dalam Kontestasi Politik

MediaJatim.com – Suatu ketika saya membantu tetangga yang hendak melangsungkan perayaan mantenan anaknya. Entah, kenapa tiba-tiba mata saya tertuju kepada orang yang sedang memasang hiasan pada langit-langit rumahnya. Ia memasang kertas krep yang dipotong memanjang dan dipaku dari tempat yang satu ke tempat lainnya. Begitu bersemangat ia memaku kertas yang agak dilipat ujungnya itu pada kayu bagian atas rumah. Butuh beberapa pukulan untuk menancapkan paku dan melekatkan hiasan dari kertas krep itu.

Sebentar lagi beberapa daerah akan melangsungkan pemilihan kepala daerah. Hal ini dimaksudkan untuk memilih pemimpin yang baru, karena pemimpin yang lama sudah mencapai masa tenggang. Dalam hal ini komisi pemilihan umum (KPU) sudah mulai sosialisasi guna menyukseskan kegiatan dimaksud. Tapi untuk komisioner KPU tidak perlu khawatir, optimis sukses. Sebab, dalam rangka menyukseskan Pilkada, anda akan dibantu oleh team sukses masing-masing kandidat.

Sederhananya, yang paling memotivasi tingkat kehadiran pemilih adalah adanya uang saku bagi mereka. Bayangkan saja, mereka hanya butuh persekian detik untuk melubangi kertas dan diberi uang saku setara dengan membajak sawah setengah hari. Masih lebih berat orang yang memasang hiasan kertas krep tadi; butuh tiga sampai lima pukulan dengan palu dan tenaga yang lumayan kuat. Jadi, untuk tingkat kehadiran pemilih, komisioner pemilihan umum tidak perlu khawatir.

Baca Juga:  NU Harus Menjadi Misi Utama, Bukan Sambilan

Dalam hal politik, Pamekasan saat ini memang sampai pada momennya. Karena sebentar lagi kota dengan ikon gerbang salam ini akan melaksanakan kontestasi kepala daerah. Saat ini sebagian orang sudah mulai memosisikan diri dan melakukan analisa semampunya. Jangankan para politisi yang memang mengerti pada persoalan politik, bahkan orang-orang di kampung pun juga turut serta melakukan kalkulasi-kalkulasi politik.

Yang paling menarik, atas nama kebocoran demokrasi adalah munculnya beberapa figur-figur baru yang berusaha adu keberuntungan. Tapi, sebelum mengadu keberuntungan dalam kontes calon kepala daerah, mereka masih harus mencoba keberuntungan untuk mendapatkan rekomendasi dari partai sebagai bakal calon yang dianggap layak mengikuti kontestasi. Maklum, di antara mereka bukan kader partai dan tidak pernah membesarkan partai. Dan sangat mungkin, pendatang baru ini sangat minim pengalaman dalam urusan politik. Tapi, namanya mencoba, siapa saja boleh.

Modal utama bagi orang yang bergerak dalam dunia politik adalah ilmu politik. Jangan gunakan jargon “petani” untuk mempengaruhi massa. Sebab, seseorang yang hendak berkecimpung dalam dunia politik harus syarat dengan pengalaman, politikus harus mempunyai jaringan ke atas dan ke bawah. Tidak cukup interaksi yang kita lakukan hanya ke bawah, butuh kerjasama ke atas yang memungkinkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dalam segala bidang. Bagi para petani, bertanilah; para guru, mengajarlah; para politisi, saatnya anda sambung otak untuk meloloskan diri atau orang yang anda anggap bisa.

Baca Juga:  Wakil Ketua DPRD Jember: Pernyataan Penny Provokatif dan Menghina Parlemen

Mari, hindari kontestasi politik di Pamekasan ini dari ajang main-main. Kita harus betul-betul mencari tokoh yang betul-betul tokoh, bukan memunculkan figur yang bukan tokoh yang kemudian ditokoh-tokohkan, apalagi menokohkan diri. Kata orang Madura, “Tadek kaber abuduk lajhing”. Tapi akhirnya, pilihan ada pada diri kita masing-masing. Yang paling penting adalah jaga kondusifitas Pamekasan. Datangi TPS-TPS untuk menggunakan hak suara. Sukseskan pesta demokrasi yang hanya lima tahun sekali ini dengan penuh rasa bertanggung jawab. Pamekasan ke depan ada di tangan kita, karena siapapun yang terpilih mereka kepanjangan tangan dari kita.

#SaveRohingya

Wallahu a’lam!

Pamekasan, 17 September 2017

Penulis: Musannan Abdul Hady

Foto: Istimewa

WhatsApp chat