Film G30S/PKI sebagai Alat Keributan (?)

MediaJatim.com – Di negara-Indonesia-ini memang tidak boleh ada apa-apa. Sebab, di sini orangnya masih kagetan dan sangat reaktif. Tidak boleh ada yang berbeda, karena perbedaan akan memicu keributan. Maunya semua orang harus sama, kalau yang satu “A” yang lainnya juga “A”. Kalau satu bodoh, lainnya juga harus goblok.

Di negara ini, selama tidak menemukan pemahaman yang sama, maka selama itu pula perdebatan akan berlangsung. Pastinya alot, penuh fitnah dan caci maki. Tidak tanggung, caci-makinya sampai ke ibu kandung dan nenek moyangnya. Mulai dari ibunya bukan ibu kandungnya sampai ibunya jadi pelacur.

Sepertinya mental penjajah Belanda tanpa disadari merasuki bangsa ini. Bila ada yang tidak sama dengan dirinya berarti harus salah dan diintimidasi. Dan menjadi musuh yang paling nyata. Seperti setan saja, musuh paling nyata.

Sejak beberapa tahun terakhir di sini sudah tidak ada kedamaian. Beda pilihan Presiden, ribut; beda dukungan Gubernur, ribut; ada tragedi di negara lain, Indonesia yang ribut; yang terakhir urusan nonton dan tidak nonton film Gerakan 30 September PKI, juga ribut. Sehingga dengan keributan itu, sangat sering bangsa Indonesia ini terposisikan dalam pro dan kontra.

Kelihatannya kalau ditarik lebih jauh lagi, masalah pro dan kontra ini akan merujuk kepada keberpihakan kontestan pilpres 2014, antara Prabowo dan Presiden Joko Widodo. Hal ini yang melahirkan pro dan kontra yang berkepanjangan dalam banyak hal, dan pesimis akan berakhir. Dan orang-orang yang sedari awal terposisikan pro dan kontra dalam berbagai hal, ujung-ujungnya tetap mencari induknya. Apakah induknya dalam keadaan pro atau kontra. Kalau induknya pro akan ikut, atau sebaliknya.

Baca Juga:  Gedung DPRD Jember Disterilisasi, Legislator Bekerja di Rumah

Nonton atau tidak nonton film itu apa hebatnya coba. Apa lagi ada penjelasan bahwa film itu penuh dengan kepalsuan. Bisa-bisanya suka dengan sesuatu yang palsu. Kalau tidak tahu kalau palsu, bisa maklum kita meminati tentang sesuatu itu. Nah, ini sudah disampaikan sesuatu itu palsu, tapi tetap saja kerasan tinggal dalam kepalsuan. Tapi sudahlah, bangsa ini memang suka dengan kepalsuan.

Sejarah itu merupakan sesuatu yang ilmiah dan bisa ditelusuri kebenarannya, jadi kalau pengaburan sejarah dibiarkan sama saja dengan mau mengatakan bahwa bangsa kita adalah bangsa yang bodoh. Sejarah adalah sesuatu yang sudah terjadi, dan semua orang bisa membuktikan kebenarannya.

Baca Juga:  Di Tengah Pandemi Covid 19, Polisi di Pacitan Ini Ajari Anak-anak Mengaji

Untuk urusan nonton, saya sangat suka menonton film G30S/PKI itu. Namun sejak dinyatakan penuh dengan kebohongan, saya tidak tertarik lagi untuk menonton. Anehnya, inisiatif pemerintah untuk meluruskan sejarah PKI bukannya diapresiasi, malah dijadikan alat untuk menyudutkan pemerintah. Betul toh apa yang saya katakan? Ending dari semua ini adalah Bapak Presiden harus salah.

Ayolah, bangsa ini jangan mau diobok-obok oleh orang yang berkepentingan. Kepentingan politik sudah sangat kentara mempengaruhi pola pikir kita, sampai-sampai kita mau menjadi kepanjangan mulut dari para politikus yang tidak bertanggung jawab di sana.

Wallahu a’lam!

Musannan Abdul Hadi, Sekretaris Lesbumi PCNU Kabupaten Pamekasan.

WhatsApp chat