oleh

Lirik Kesetiaan

Mulut mengucap ikrar, sebentar saja lalu dilanggar. Manusia dititip amanah, tapi dia melanggar sumpah. Barangkali, memang tak ada janji setia yang diucap di bibir saja tanpa hati tulus menerima.

Seorang kekasih menyegalakan belahan hatinya lalu mengumbar janji dengan kata-kata; akulah manusia paling setia. Demikianlah, pemimpin berjanji untuk menjadi pelayan bagi rakyatnya, dan seorang hamba berjanji untuk mengabdi kepada Tuhannya. Tapi, ikrar setia selalu habis di bibir cuma.

Kesetiaan berada di antara ketakberdayaan seseorang dan kekuatan di luar dirinya, di antara maksud dan keinginannya. Kesetiaan meleburkan jarak dan rentang, waktu dan ruang.

Baca Juga:  Mengarahkan Karakter Anak Sesuai Fitrahnya; Mendidik Tanpa Mencederai

Namun, sesungguhnya kesetiaan tidak sepenuhnya membutuhkan lisan untuk mewakili kata hati, tidak menyegalakan sumpah sebagai madu bagi janji. Ia juga tidak mengumbar kata-kata untuk menjadi bukti. Ia hanya butuh penepatan setelah diucapkan. Kesetiaan hanya butuh dirinya sendiri.

Sumber: Buku “Sareyang; Lirik Penunggu Kesunyian” karya M. Faizi, 2005, hlm 29

Foto: Istimewa