Janji

Oleh: M. Faizi

Dulu, ada seorang datang memohon, meminjam sepotong belas kasihan. Maka aku bilang, “Terimalah. Kalau kau sudah mampu, kembalilah.”

DLH Pamekasan

Ia berjanji sebentar, tapi hingga kini ia menghilang.

Ada juga yang meminjam cinta, lalu berjanji akan membayar berlipat ganda. Namun, pada akhirnya ia mengembalikan benci sebagai balasan baik budi.

Adakah hal yang lebih mengiris hati ketimbang janji yang tak ditepati? Kepercayaan memang mahal, namun sangat murah bila dijual.

Bila hanya mampu tertatih, kenapa dipaksa kaki berlari? Bila hanya mampu sebatas bukit, kenapa gunung didaki?

Baca Juga:  Hakikat Pengabdian Menurut Ra Baddrut

Janji; mudah mulut mengucap, gampang hati mengingkari. Berjanji tanpa menepati seperti menikam diri. Kepercayaan memang mahal, namun sangat murah bila dijual.

Sumber: Buku “Sareyang; Lirik Penunggu Kesunyian” karya M. Faizi, 2005, hlm 28.

Foto: Istimewa