HSN, Inilah Sambutan Menggugah Pengasuh Pesantren Annuqayah

  • Bagikan

MediaJatim.com, Sumenep – Inilah sambutan menggugah pada Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2017 di PP Annuqayah Latee, disampaikan oleh K Azmi, mewakili pengasuh PP Annuqayah Latee Guluk-Guluk Sumenep, Prof Dr. KH Abd A’la Basyir, tapi hari ini beliau harus ke Jakarta untuk menerima penghargaan anugerah sebagai Santri Of The Year 2017 untuk kategori santri inspirasi dalam bidang pendidikan.

“Alhamdulillah saat ini kita memperingati hari santri. Sebelum saya melanjutkan apa dan mengapa kita memperingatinya, akan saya awali dulu dari definisi santri. Mungkin kita sudah banyak mendapatkan definisi tentang santri, tapi saya paling tertarik dan sepakat dengan definisi yang diberikan oleh KH Mustofa Bisri, yaitu bahwa santri itu adalah siapapun yang berakhlaqul karimah, yang tawadlu’ kepada Allah, tawadlu’ kepada orang alim dan melihat tanah air indonesia sebagai rumahnya. Jadi dalam definisi ini, santri secara substantif bukan hanya orang yang tinggal di pesantren yang menuntut ilmu seperti anda adik-adik sekalian, tapi juga meliputi pengasuhnya, kiainya, alumninya, dan siapapun orang yang bisa memenuhi 4 unsur tersebut.

Jadi kalau kita cermati, keseluruhan 4 unsur itulah yang membentuk identitas seseorang untuk disebut sebagai santri. Semua unsur itu merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan yang dalam realitasnya umumnya hanya dimiliki oleh orang-orang dari kalangan pesantren, khususnya NU. Maka jika salah satu unsur tidak ada, seseorang belumlah dapat dikatakan sebagai santri. Misalnya ada orang tawadlu’, tapi tidak mencintai tanah air, atau ada yang cinta tanah air tapi tidak tawadlu’ kepada Allah atau ulama maka mereka bukanlah santri. Itulah tentang definisi santri.

Baca Juga:  How you can Give Your Baby the Money For a Sweets Free Baby

Para hadirin yang berbahagia

Selanjutnya beralih pada pertanyaan, mengapa kita memperingati hari santri? Alasan utamanya adalah karena berdasarkan telaah sejarah, peran kaum santri dalam proses perjuangan kemerdekaan RI itu sangat besar. Bahkan menurut As’ad Sihab salah seorang penulis buku tentang peran ulama dalam kemerdekaan, seperti yang dikutip oleh Sekjen PBNU A. Helmy Faishal Zaini (Kompas, 21 okt 2017) peletak dasar kemerdekaan yang sesungguhnya itu adalah K H Hasyim Asy’ari bersama para ulama yang lain pada masa itu. Bambu runcing yang bisa seganas senjata api, bom yang tiba-tiba tidak bisa meledak, itu semua tidak mungkin terjadi kalau bukan karena kesaktian dan tingginya ilmu para ulama.

Lalu mungkin pertanyaan berikutnya adalah untuk apa kita memperingatinya. Untuk hal ini, jawabannya kita kembalikan pada ungkapan bahwa manusia pada dasarnya memiliki sifat mudah lupa. Memori kita terbatas, yang kalau tidak dilatih maka kemampuannya tidak akan maksimal. Sebagai contoh kalau adik sekalian tidak sering menghafal, mencerna pelajaran, maka akan mudah terlupakan. Begitupun dengan peringatan hari santri ini yang tujuannya adalah:

Baca Juga:  FKMTHI Apresiasi Langkah Dewan Ikatan Da'i Aceh

Pertama, agar kita tidak lupa untuk senantiasa menjaga akhlak,

Kedua, agar kita selalu berusaha untuk tawadlu’,

Ketiga, agar kita senantiasa ingat dan bersyukur atas kemerdekaan yang diraih diantaranya melalui perjuangan para ulama yang pada gilirannya akan terus menumbuhkan rasa cinta tanah air, yang dalam perspektif NU cinta tanah air merupakan hal yang niscaya, hal yang mutlak sehingga K Wahab Hasbullah salah satu tokoh besar NU menggubah lagu Syubbanul Wathan seperti yang tadi kita nyanyikan bersama yang intinya adalah hubbul wathan minal iman.

Para hadirin yang berbahagia

Momen peringatan hari santri seperti ini sebenarnya sudah lama sekali diinginkan oleh kalangan pesantren, khususnya NU, tapi para penguasa sejak dulu sepertinya tidak rela kalau peran ulama ditonjolkan. Bahkan tidak ada buku sejarah ‘resmi’ yang memaparkan peran ulama tersebut. Barulah keinginan dan usaha itu mendapat respons pada era pemerintahan Jokowi JK sehingga setiap tanggal 22 Oktober lalu ditetapkan dengan resmi secara nasional sebagai hari santri.

Demikian yang bisa saya sampaikan, kurang lebihnya mohon maaf. Wallahul muwafiq ila aqwamit thoriq wassalamu alaikum Wr. Wb.
——————–
Reporter: Zainal Arifin

Redaktur: Sule Sulaiman

  • Bagikan
WhatsApp chat